Kamis, 21 Mei 2026, pukul : 03:46 WIB
Surabaya
--°C

Membawa Chelsea ke Final Piala Dunia Antarklub, Malam Spesial Bagi Joao Pedro

EAST RUTHERFORD-KEMPALAN: Pepatah vini, vidi, vici memang layak diberikan bagi striker baru Chelsea, Joao Pedro. Dia sukses membawa Chelsea lolos ke final Piala Dunia Antarklub dengan dua golnya dan dalam laga debutnya sebagai starter.

Pada semifinal Piala Dunia Antarklub 2025, di MetLife Stadium, East Rutherfrord, Selasa dini hari WIB (9/7), Chelsea mengalahkan Fluminense FC dua gol tanpa balas. Kedua gol Chelsea dari kontribusinya masing-masing pada menit ke-18 dan 56.

Istimewanya, Fluminense merupakan klub masa kecil Pedro. Karenanya, setelah sukses mencetak dua gol tersebut, mantan striker Brighton & Hove Albion tersebut sama sekali tidak melakukan selebrasi sebagai penghormatan untuk Flu (sebutan Fluminense).

’’Mereka (Flu) sudah memberiku segalanya. Mereka sudah menunjukkanku pada dunia. Aku bisa berada di sini, itu karena mereka memercayaiku,’’ sebut Pedro, seperti dilansir dari laman ESPN.

BACA JUGA: Reuni Lawan Chelsea Bersama Fluminense, Begini Kata Thiago Silva

’’Aku sangat bangga bisa melakukannya (menjebol gawang Flu). Tapi, inilah sepak bola. Aku harus bersikap profesional. Aku meminta maaf kepada mereka, tetapi aku mencoba menjalankan tugasku,’’ sambung Pedro.

Laga tersebut jadi laga kedua Pedro bermain di Piala Dunia Antarklub. Sebelumnya, dia hanya bermain sebagai pemain pengganti. Pedro mengakui, kesempatan yang diberikan tactician Chelsea Enzo Maresca bermain sebagai starter adalah kunci performanya pada hari itu.

’’Sehingga, aku bisa lebih banyak mengeluarkan kemampuanku dan akhirnya juga dapat mencetak gol. Chelsea menang dan bermain bagus, itu lebih penting. Kini, mari pikirkan final,’’ koar striker yang berusia 23 tahun tersebut.

Striker Chelsea Joao Pedro setelah bertukar jersi dengan bek tengah Fluminense FC Thiago Silva. (Foto: Daily Mail)
Striker Chelsea Joao Pedro setelah bertukar jersi dengan bek tengah Fluminense FC Thiago Silva. (Foto: Daily Mail)

Setelah pertandingan, Pedro pun bertukar jersi dengan bek tengah Flu, Thiago Silva. Dia melakukannya tidak hanya karena Silva yang berusaha mengawalnya sepanjang laga itu saja.

Selain itu, Silva juga penggawa Flu yang pernah bermain di The Blues (julukan Chelsea). Sama seperti dirinya saat ini. Kepada Globo Esporte, Silva mengaku sudah mengenalnya sebelum Chelsea kepincut kepada Pedro.

Bahkan, dia juga yang mengenalkan Pedro kepada staf Chelsea yang membantunya saat mengalami cedera. Kebetulan, fisioterapis yang menangani Silva dan anak-anaknya saat ini, menangani Pedro. Dia selalu berkata: ’’Hei, bocah ini sangat spesial,’’ kenang Silva.

Pedro pun sudah membuktikan kata-kata Silva tersebut dalam semifinal Piala Dunia Antarklub. ’’Aku tidak mengira dia (Pedro) bisa jadi inspirasi hari ini. Dia sudah menunjukkan kelasnya. Aku ucapkan good luck kepada Pedro,’’ tegas Silva. (YMP)

Capai 5.098 Medali, Siswa Jatim Puncaki Perolehan Prestasi Nasional 2024

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

MATARAM-KEMPALAN: Provinsi Jawa Timur kembali menorehkan prestasi gemilang sebagai provinsi dengan capaian prestasi nasional tertinggi sepanjang tahun 2024. Berdasarkan data resmi dari Kemendikdasmen melalui laman simt.kemendikdasmen.go.id, total medali yang berhasil diraih oleh para siswa dari berbagai jenjang pendidikan di Jawa Timur mencapai 5.098 medali baik dari jenjang SD, SMP, SMA, SMK, dan Diksus.

Perolehan medali tersebut menempatkan Jatim di posisi puncak nasional. Di bawah Jawa Timur, peringkat kedua ditempati Provinsi Jawa Tengah dengan 4.553 medali, sementara posisi ketiga ditempati DKI Jakarta dengan 3.796 medali. Disusul DIY dengan perolehan 3.371 medali dan Jabar urutan kelima dengan perolehan 2.886 medali.

Atas capaian tersebut, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa ini menjadi bukti bahwa provinsi ini memiliki potensi dan daya saing talenta muda yang luar biasa. Juga mencerminkan keberhasilan pola pembinaan yang konsisten dan kolaboratif antara sekolah, guru, orang tua, serta pemerintah daerah.

“Anak-anak kita  luar biasa. Mereka menunjukkan tekad dan semangat yang besar untuk terus berprestasi dan membawa nama baik Jawa Timur di ajang-ajang nasional. Kita sedang menyiapkan mereka untuk menjadi talenta kompetitif di tingkat nasional bahkan global,” kata Khofifah, di tengah tengah misi dagang di NTB , Rabu  (9/7).

Lebih lanjut ia menyampaikan, dominasi prestasi Jatim tak hanya terlihat dari jumlah medali, namun juga konsistensinya dalam berbagai ajang nasional. Terbukti, di berbagai kompetisi Kemendikdasmen yang digelar Balai Pengembangan Talenta Indonesia – Pusat Prestasi Nasional (BPTI-Puspresnas), Jatim meraih total 56 medali, terdiri dari 13 emas, 22 perak, dan 21 perunggu pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2024.

Tak hanya itu, Jatim juga sukses mempertahankan gelar Juara Umum Lomba Kompetensi Siswa Nasional (LKSN) jenjang SMK 2024. Dalam ajang ini, para siswa SMK menyumbangkan 15 medali emas, 10 perak, 4 perunggu, dan 8 Medallion for Excellence (MoE).

Prestasi membanggakan lainnya diraih dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2024, di mana Jatim kembali menyabet gelar juara umum. Di ajang ini, siswa jenjang SMA berhasil meraih 2 medali emas, 3 perak, dan 5 perunggu, sedangkan siswa jenjang SMP/MTs menyumbang 3 medali emas, 4 perak, dan 7 perunggu, sehingga total medali yang diraih mencapai 23 medali.

“Prestasi anak-anak kita ini patut kita  apresiasi dan diperhitungkan. Mudah-mudahan torehan membanggakan ini dapat menjadi pendorong  motivasi untuk terus mengembangkan potensi terbaik para murid-murid kita yang belum berkesempatan meraih prestasi,” harapnya.

Khofifah menambahkan, Jatim kini tengah mempersiapkan delegasi terbaiknya untuk mengikuti berbagai ajang bergengsi tingkat nasional, seperti Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N), Lomba Debat Bahasa Indonesia (LDBI), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Olimpiade Penelitan Siswa Indonesia (OPSI), Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI), Gala Siswa Indonesia (GSI) tingkat SMP dan Olimpiade Sains Nasional (OSN).

Khofifah pun berkomitmen mendukung penuh potensi dan talenta terbaik para murid yang akan bertanding mewakili Jawa Timur. Dalam waktu dekat ini, para murid yang lolos pada seleksi provinsi LKS Dikmen akan bertanding di tingkat nasional. Dengan harapan, Jatim bisa mempertahankan gelar Juara Umum yang ketiga kalinya.

Selain itu, Khofifah mengapresiasi atas langkah Kemendikdasmen yang telah membangun sistem kurasi prestasi secara nasional dari bidang akademik maupun non akademik. Menurutnya, keberadaan sistem ini akan mempermudah proses analisis dan pemetaan potensi serta talenta para siswa di seluruh Indonesia, termasuk di Jawa Timur.

“Dengan indikator yang jelas, kami bisa mengidentifikasi kekuatan setiap siswa untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut. Data ini juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus memberikan pendidikan yang terbaik dan berkualitas bagi para murid,” jelas Khofifah.

Melalui sistem yang terukur dan terstandar ini, lanjut Khofifah, prestasi yang telah diraih para siswa tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga terus ditingkatkan di masa mendatang.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai menegaskan bahwa dukungan terhadap siswa-siswi berprestasi terus dilakukan secara menyeluruh. Termasuk dengan pelatihan terstruktur melalui training center (TC) menjelang kompetisi nasional.

“Kami saat ini fokus pada pelaksanaan TC untuk LKS Dikmen. Pembinaan ini mencakup peningkatan keterampilan teknis dan kesiapan psikologis siswa agar lebih percaya diri dan fokus saat berlaga,” kata Aries.

Aries menambahkan, dengan capaian luar biasa ini, Jawa Timur semakin kokoh sebagai barometer pendidikan nasional. Ia menyebut bahwa Jatim tidak hanya unggul dalam kuantitas medali, tetapi juga dalam kualitas dan kesinambungan prestasi.

“Prestasi yang diraih ini memperkuat posisi Jawa Timur sebagai kiblat pendidikan nasional. Kami akan terus menjaga ritme dan komitmen ini untuk mencetak generasi muda yang unggul dan siap bersaing di level dunia,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Produksi Melimpah Tapi Perut Rakyat Masih Keroncongan

KEMPALAN: Di balik gegap gempita pernyataan pemerintah mengenai keberhasilan sektor pangan nasional, muncul satu ironi yang menggigit, masih banyak perut rakyat keroncongan

Ketika Presiden dan Menteri Pertanian dengan penuh kebanggaan mengumumkan Indonesia telah mencapai cadangan pangan tertinggi sepanjang sejarah, ternyata masih banyak rakyat kecil yang mengeluh karena harga beras tetap mahal dan dapur mereka tetap berasap tipis.

Pemerintah menargetkan swasembada pangan dalam kurun waktu empat hingga lima tahun ke depan, dan menyebut produksi pangan meningkat tajam hingga 40-50 persen pada semester pertama 2025.

Tapi pertanyaan paling mendasar yang patut diajukan adalah mengapa rakyat kecil masih ada yang harus mengencangkan ikat pinggang jika pangan benar-benar melimpah?

Di tengah dikotomi persoalan, Narasi resmi negara memang tampak menjanjikan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut ada mafia dan importir yang gusar atas program swasembada.

Mereka tak senang jika Indonesia berhenti menjadi pasar empuk komoditas pangan luar negeri. Mereka, katanya, telah menanam modal besar: membangun gudang, armada kapal, relasi internasional, dan sistem logistik yang selama ini menopang keuntungan triliunan dalam waktu singkat.

Dalam logika itu, tentu saja program swasembada dianggap mengganggu “rantai emas” para pelaku impor yang selama ini hidup dari perut rakyat Indonesia.

Namun ironinya, yang menjadi korban dari permainan ini tetap sama: rakyat. Di satu sisi, kita disuguhi angka-angka optimistis, grafik menanjak soal ketersediaan beras dan jagung, dan bahkan wacana menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Tapi di sisi lain, suara-suara dari pelosok desa hingga pinggiran kota menceritakan realitas yang berbeda harga beras belum juga turun, harga pupuk subsidi dipermainkan, dan di sebagian wilayah hasil panen petani tidak dibeli dengan harga layak.

Narasi kemegahan itu seperti tidak menyentuh tanah, ibarat buih di atas permukaan yang tidak tahu gelombang di dasar laut.

Inilah paradoks besar dalam program swasembada yang dicanangkan. Di atas kertas, Indonesia seolah berada di ambang kejayaan agraria.

Tapi di lapangan, masyarakat kelas bawah masih berkutat dengan kecemasan soal makan esok hari.

Pemerintah boleh berbangga dengan angka cadangan beras yang menembus jutaan ton, tapi beras itu tidak akan berguna apa-apa jika tidak sampai ke meja makan rakyat.

Pangan bukan hanya soal ketersediaan, melainkan juga aksesibilitas dan keterjangkauan. Produksi melimpah bukan jaminan rakyat kenyang jika distribusi tidak adil.

Ada kesan bahwa negara terlalu fokus pada angka, bukan rasa. Bahwa laporan keberhasilan lebih penting dari pendalaman kondisi di lapangan.

Padahal, dalam sejarah kita, tidak pernah ada kelaparan yang terjadi karena bumi tidak bisa menumbuhkan cukup makanan, tetapi karena distribusi yang dikuasai segelintir pihak dan kebijakan yang berpihak pada mereka.

Jika mafia pangan selama ini masih bisa beroperasi dengan leluasa, itu bukan semata karena kekuatan pasar, tetapi karena mereka memiliki “karpet merah” dari oknum yang justru seharusnya menjadi penjaga keadilan ekonomi.

Lebih menyedihkan lagi, ironi ini diperparah oleh kenyataan pahit lain diantaranya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang makin meluas di berbagai sektor industri.

Di tengah sorotan pada peningkatan cadangan pangan, ribuan buruh kehilangan pekerjaan. Banyak perusahaan manufaktur, tekstil, logistik, hingga ritel terpaksa gulung tikar karena daya beli masyarakat menurun drastis, dan biaya produksi yang terus melambung.

Pengangguran meningkat, sementara lapangan kerja yang tersedia makin sempit. Banyak kepala keluarga yang dulu bekerja tetap, kini menjadi ojek daring, pedagang kaki lima, atau malah belum mendapat pekerjaan sama sekali.

Ini bukan hanya angka statistik; ini kenyataan yang mereka hadapi setiap hari, di rumah-rumah sempit yang penuh kecemasan.

Ironi itu begitu mencolok: negara berbicara tentang keberhasilan pangan, sementara rakyat berjuang agar bisa membeli kebutuhan paling dasar.

Bagaimana bisa rakyat mempercayai narasi swasembada, jika untuk membeli beras satu kilogram saja harus berpikir berkali-kali? Jika gaji pas-pasan habis hanya untuk bertahan hidup seminggu?

Di pasar tradisional, para ibu kini lebih sering menawar bukan karena kebiasaan, tapi karena terpaksa.

Mereka membeli tempe seiris, cabai sekilo yang dibagi dua kali pakai, dan sayur seadanya. Ini bukan soal kemalasan atau kurang syukur. Ini soal struktur yang tidak memberi mereka ruang untuk hidup layak.

Pernyataan Menteri Pertanian yang menyebut petani dan penyuluh sebagai pahlawan pangan sangat tepat, namun ironis jika dalam kenyataannya mereka tetap menjadi pihak yang paling menderita.

Mereka dituntut untuk terus memproduksi lebih banyak, namun tetap terjepit oleh harga pupuk, biaya produksi tinggi, serta rendahnya harga jual.

Mereka dipuja dalam pidato, tetapi ‘dikhianati’ dalam praktik. Jika benar mereka pahlawan, maka perlakukanlah mereka sebagaimana layaknya pahlawan — diberi penghargaan, perlindungan, dan akses ekonomi yang adil.

Rakyat kecil bukan tidak paham dengan politik pangan. Mereka tidak membaca laporan BPS, tapi mereka bisa merasakan saat harga cabai naik, saat minyak goreng menghilang, dan saat beras harus diirit karena uang belanja makin menipis.

Mereka tidak peduli berapa juta ton cadangan beras nasional jika tetap harus antre panjang di pasar murah atau menerima bantuan beras dua puluh kilo yang tak tahu datang bulan depan atau tahun depan.

Bagi mereka, keberhasilan pangan bukan soal headline media, tapi soal apa yang tersaji di piring mereka setiap hari.

Janji swasembada memang mulia, dan sebagai bangsa, kita layak mengejarnya. Tapi swasembada sejati adalah ketika setiap warga negara, tanpa kecuali, bisa makan layak tanpa bergantung pada bantuan.

Ketika petani tersenyum karena hasil panennya dihargai adil, bukan karena subsidi yang dirapel. Ketika rakyat kecil bisa membeli beras tanpa harus takut harga naik mendadak karena ulah spekulan. Swasembada bukan proyek citra, tapi misi keadilan.

Jika tidak, maka produksi pangan sebanyak apa pun hanya akan jadi angka mati di laporan, sementara perut rakyat tetap keroncongan.

Kita bisa bicara cadangan, surplus, dan stabilitas, tapi jika rakyat masih kehilangan pekerjaan dan tetap lapar, maka keberhasilan itu belum layak dirayakan. ()

Oleh Bambang Eko Mei

Menemui Ayah Dahlan Iskan

KEMPALAN : Sekitar tahun kedua menjalani tugas keredaksian sebagai redaktur pelaksana Bhirawa-Edisi Khusus saya ditelepon Agus Sutomo wartawan Suara Indonesia (SI – grup Jawa Pos). Agus pernah sekantor dengan saya di Pos Kota Perwakilan Jatim dan di Mingguan Surya. Dia punya spesialisasi liputan olahraga dan berita-berita perkotaan.

Saat itu awal tahun 1990-an.

Agus bilang kalau saya dicari Dahlan Iskan. Untuk apa? Katanya saya mau diberi pekerjaan. Saya pun bilang: “Oke. Terima kasih.” Setelah itu saya mikir, pekerjaan apa?

Entah karena asyik dengan tugas redpel dan persiapan bikin pameran lukisan Pesona Alam bersama Toto Sonata dan Rokim Dakas, akhirnya saya tidak begitu ngereken soal yang pernah dinyatakan Agus tersebut.

Suatu hari saya diajak Yamin Akhmad menemui Dahlan Iskan di markas besar Jawa Pos Group Jalan Karah Agung nomor 45, Surabaya. Yamin adalah bos saya : pelaksana harian Bhirawa-Edisi Khusus.

Kami lantas njujug salah satu ruangan di redaksi Jawa Pos, mungkin ruangan pemred.

Selain Dahlan Iskan, di situ ada dua redpel Jawa Pos yaitu Nani Wijaya dan Margiono. Kami mendengarkan mereka bertiga ngobrol santai.

Ada dua hal yang sampai sekarang terekam di ingatan, dimana Dahlan saat itu sedang menjajagi penugasan salah satu di antara mereka agar bisa masuk ke Israel yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia dalam rangka tugas jumalistik.

Nany menolak halus karena sedang fokus pada proyek penulisan bersama sejumlah reporter Jawa Pos. Demikian juga Margiono, lagi ada kegiatan proyek penulisan (di Jawa Pos) yang belum selesai.

Satu lagi momen yang saya ingat di salah satu ruang Jawa Pos itu, yakni pembicaraan yang menyangkut terorisme atau kriminalitas, tentang narapidana Salman atau Imran (maaf, kalau saya salah kutip) yang mati ditembak karena melarikan diri.

Ada pernyataan Dahlan yang sedikit membuat saya keki: “Kamu sudah lama di Pos Kota kok gak ngerti yang begitu, Mang. Memang sengaja dilepas, lantas lari… lantas ditembak…”

Sesudah Nani dan Margiono pamit keluar ruangan, Yamin dengan Dahlan terlibat pembicaraan. Sejurus kemudian, selesai sudah urusan Yamin.

Dahlan lantas cerita kalau Jawa Pos Group nangani koran lagi, namanya Jawa Anyar. Base camp redaksi di Solo. Koran mingguan berbahasa Jawa yang sudah terbit satu nomor ini didukung sejumlah sastrawan berbahasa Jawa seperti N. Sakdani, Anjar Any, Suparto Brata, Tamsir As., dan sejumlah redaksi lainnya termasuk dari generasi yang lebih muda Bonari Nabonenar dan Ardini Pangastuti.

“Kamu pegang pemimpin perusahaannya ya, Mang. Maksud saya GM… semacam general manager, gitu ….”

Saat itu saya tidak menolak, juga tidak mengiyakan.

Pada saat pembicaraan enam mata tersebut. Yamin mendorong agar saya menerima tawaran tersebut.

“Saya pikir dulu. Pak…” kata saya kepada Dahlan, antara lain menyangkut bahwa mingguan ini berlokasi di Solo. Saya agak gamang jika jauh dari keluarga, terutama saat itu ketiga anak saya masih kecil-kecil, sedangkan istri bekerja.

Dalam perjalanan pulang, saya minta advis Yamin, yang intinya Yamin mendorong agar tawaran ini diterima. “Kesempatan buat kamu untuk menjalani karier yang lebih bagus,” kata Yamin meyakinkan.

Tiga hari kemudian saya temui Dahlan di Karah Agung. Saya nyatakan kesediaan, dan saat itu juga saya disalami Dahlan dengan suka cita. “Besok pagi kita ke Solo, ya…” Maksudnya ke base camp tabloid Jawa Anyar yang berlokasi di kawasan Kandangdoro dekat Stasiun Solo Balapan itu, untuk menemui Pak Sakdani dan kawan-kawan.

Pukul tujuh pagi saya sudah sampai di Karah Agung, dan Dahlan sudah siap di situ. Kepada driver-nya Dahlan bilang: “Minyak! Jangan lupa isi minyak!”.

Baru kemudian saya mudeng, yang disebut ‘minyak’ di sini adalah ‘bensin’. Maksudnya sedan BMW warna putih L 1 JP supaya dipenuhi tangkinya.

Mungkin kebiasaan di Samarinda di mana Dahlan pernah tinggal cukup lama di ibukota Provinsi Kaltim itu, menyebut ‘bensin’ dengan ‘minyak’.

Ternyata yang di belakang kemudi dalam perjalanan ke Solo sebentar lagi bukan pak sopir yang biasa pegang L 1 JP, tetapi Herman Rivai yang pernah jadi wartawan SI. Kelak Herman menjadi Wakil Ketua DPRD Surabaya.

Saya duduk di kursi depan di samping Herman. Dahlan Iskan di belakang dengan dua bantal bersarung putih. Saat itu Dahlan barusan dua minggu keluar dari RS Budi Mulia, diopname karena hepatitis.

Di Kertosono kami berhenti di sebuah depot pecel lele.

“Ayo kita makan siang. Di sini pecel lele paling enak se-Indonesia,” kata Dahlan disusul tertawa kecil sambil melangkah menuju depot itu yang lantas didahului Dahlan bergegas ke toilet di depot tersebut.

Setelah makan siang, perjalanan dilanjut. Namun selepas Nganjuk, Dahlan bilang: “Gak jadi ke Solo ya. Saya kangen bapak. Kita ke Madiun aja…”

Tiba di tepi kota Madiun, Dahlan mulai konsentrasi memandu Herman menuju Perumnas.

Ayah Dahlan di Madiun tinggal di rumah Zainudin (maaf kalau saya salah eja) di kawasan Perumnas.

Dulu Zainudin adalah koresponden Jawa Pos di Madiun. Namun karena ada peraturan baru bahwa tidak boleh ada dua orang punya hubungan keluarga dalam perusahaan, maka salah satu harus resign. Rumah Zainudin tipe-36.

Setelah sungkem ke ayahnya, Dahlan terlibat pembicaraan dengan ayah dan saudara bungsunya itu. Herman dan saya jadi pendengar yang baik.

Di sela pembicaraan bertiga tersebut, Dahlan mendekat ayahnya, lantas memijati pundak, tangan, dan kaki ayahnya.

Terlihat bahagia di wajah ayah Dahlan. Kemudian kembali duduk, ngobrol lagi.

Ayahnya lantas tanya kondisi Dahlan saat diopaname dan lain-lain seputar sakitnya.

Entek piro, Lan?” tanya Ayah Dahlan yang bertubuh tinggi atletis dan yang masih menyisakan kegantengan itu. Maksudnya habis biaya berapa saat diopaname.

Kalihdoso…” jawab Dahlan, yang maksudnya dua puluh juta rupiah.

Lantas ayahnya bertanya lagi dalam bahasa Jawa, bagaimana seandainya yang sakit hepatitis orang miskin.

Dahlan menjawab kalem: “Nggih pejah, Pak…”. Maksudnya: meninggal dunia, karena tidak punya uang untuk mengongkosi sakit berbahaya itu.

Pembicaraan Dahlan selang-seling ke ayah dan adiknya.

“Usaha apa sekarang, Din?”

“Ya masih ngageni Jawa Pos, Mas…”

“Berapa oplah?”

Lantas Zainudin menyebut jumlah tertentu, dan baru saja dapat limpahan sekian ratus pelanggan dari agen (Zainudin menyebut nama yang saya lupa).

Dahlan lantas membuka percakapan agar adiknya itu punya usaha lain selain jadi agen Jawa Pos.

Adiknya usul agar bisa punya izin pengangkutan tebu dan kelengkapan untuk menunjang usaha itu. Namun untuk punya usaha ini dibutuhkan biaya kira-kira sepuluh juta rupiah.

Mendengar itu Dahlan tidak menjawab langsung.

Kemudian: “Gimana kalau buka bengkel sepeda motor atau meracang (semacam warung sembako)”.

Tetapi Zainudin menjawab bahwa di sekitar rumah sudah banyak bengkel dan meracang-an.

Saat Dahlan usul buka usaha di rumah — bengkel atau meracang-an itu, istri Zainudin sedang membawa nampan berisi potongan-potongan pepaya sepanjang besar pepayanya yang sudah dikupas dan diletakkan pada sebuah piring, menyusul beberapa cangkir kopi yang lebih dulu terhidang di meja.

“Usaha itu yang elok ya di luar, Mas. Bukan di rumah…” kata istri Zainudin seraya meletakkan piring berisi pepaya irisan.

“Ya gini ini, Mang, yang bikin kita gak bisa maju,” mengomentari adik iparnya, seraya menoleh ke wajah saya. “Lihat tuh rumah orang-orang China, dengan barang dagangan numpuk-numpuk di rumahnya,” kata Dahlan. “Ya gak apa-apa untuk sementara. Nanti kalau sudah maju, baru dipikirkan tempat yang layak,” lanjutnya.

Istri Zainudin yang berambut sebahu itu senyum-senyum mendengar komentar Dahlan.

Akhirnya: “Oke, Din. Segera saya kirim 10 juta, tapi pinjam lho…”.

Saya lantas membatin seraya tersenyum: Kalau gak bisa mengembalikan ya gapapa, namanya saja adik. Dan, boleh jadi ‘pinjam’ adalah kata lain mengikhlaskan memberi untuk adik yang disayangi.

Dalam perjalanan pulang diseling Dahlan tidur, kami antara lain diskusi soal musik. Ternyata Dahlan penggemar berat Koes Plus. Saya pun cerita kalau selama ini membantu Log Zhelebour sebagai humas. Dan, saya cerita lika-liku pertunjukan musik rock, terutama yang dihelat Log Zhelebour Enterprise.

Rupanya Dahlan kesengsem dengan nggedabrus saya, dan menugasi untuk membentuk Jawa Pos Rock Band.

Keesokan harinya saya temui Solichin Hidayat salah satu redaktur Jawa Pos yang selama ini getol membantu pemberitaan kegiatan Log Zhelebour. Solichin menanggapi saya dengan baik.

Lantas saya ketemu Rokim Dakas wartawan Surabaya Post, cerita-cerita soal upaya membentuk band rock yang akan ditunjang Jawa Pos. Rokim kemudian menyebut nama-nama musisi rock yang cocok untuk menduduki formasi band rock yang akan dibentuk itu, salah satunya menyebut vokalis Kidnap (mungkin yang dimaksud Kidnap Katrina) yang pada kemudian waktu baru saya tahu kalau itu adalah Anang Hermansyah.

Mungkin karena saya kurang getol mengupayakan pembentukan grup band tersebut, dan Dahlan sudah tidak tanya-tanya lagi, akhirnya ya begitu deh… gone with the wind… (Cuplikan dari buku Memoar Amang MawardiWartawan Biasa-Biasa).

DLH Surabaya Rutin Bersihkan Sungai Pegirian

Kepala DLH Kota Surabaya Dedik Irianto.

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) rutin melakukan pembersihan sungai di seluruh Kota Pahlawan. Tujuannya agar lingkungan bersih dan tidak menyumbat saluran drainase di Kota Pahlawan. 

Kepala DLH Kota Surabaya Dedik Irianto mengatakan, upaya pembersihan sungai itu dilakukan secara rutin oleh satgas kebersihan DLH. Salah satunya, yakni pembersihan sungai Pegirian yang terletak di kawasan antara Kecamatan Semampir dan Kecamatan Simokerto, Surabaya. 

Dedik menerangkan, meskipun sudah dibersihkan secara rutin, DLH seringkali menemukan sampah di sekitar sungai Pegirian. Menurutnya, sampah-sampah itu berasal dari sungai Arimbi yang terletak tidak jauh dari sungai Pegirian.

“Jadi itu kita bersihkan secara rutin, cuma kan sungai Pegirian itu kan sungai (saluran) primer. Nah, kadang-kadang yang membawa kotoran itu, dari saluran sekundernya. Contoh, seperti saluran sekunder Arimbi, nah itu kan di dekat area perumahan, jadi sampahnya berasal dari situ, dan saluran sekunder itu masuknya ke sungai Pegirian,” kata Dedik, Selasa (8/7).

Meskipun begitu, Dedik bersama jajarannya Satgas Kebersihan DLH terus melakukan pembersihan sampah yang terbawa arus ke saluran sungai Pegirian. Selainl itu, Dedik menyebut, DLH bersama Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya juga sepakat melakukan pemasangan penyaring atau screener di aliran sungai sekunder. 

“Nanti dipasang screener, jadi sampahnya bisa diambil dari situ, nggak sampai masuk ke sungai Pegirian. Jadi seperti saringan begitu,” sebut Dedik. 

Mantan Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya itu menerangkan, pemkot melalui DLH hingga kecamatan sudah memberikan imbauan kepada masyarakat sekitar untuk tidak membuang sampah sembarangan atau ke sungai.

Bahkan, lanjut dia, pemkot juga telah mengambil tindakan tegas mulai dari denda, hukuman tindak pidana ringan (tipiring), dan yustisi sesuai aturan Peraturan Daerah (Perda) No. 5 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah. 

“Itu sudah lama, kita lakukan imbauan, yustisi, denda baik uang maupun kurungan (tipiring) sudah kita sosialisasikan. Nah, ini kita juga kerjasama dengan kecamatan (Semampir dan Simokerto) untuk memasang papan imbauan untuk tidak membuang sampah ke situ (sungai),” terangnya. 

Dedik menyampaikan, sejak Jumat (4/7/2025) lalu Satgas Kebersihan DLH Surabaya telah melakukan pembersihan hingga saat ini. “Sudah bersih. Muncul (sampah) lagi, ya biasa kita bersihkan lagi, artinya tidak penumpukan sampah di sungai itu,” katanya. 

Selain sampah, Dedik menjelaskan, di sungai Pegirian juga banyak ditemukan tumbuhan lumut. Sehingga ketika muncul ke permukaan, sungai Pegirian akan terlihat seperti kotoran.

“Nah, yang hitam-hitam itu bukan sampah, sampahnya yang putih-putih itu saja hanya di beberapa titik. Itu juga kita rutin melakukan pengambilan (pembersihan),” jelasnya. 

Dia berharap kepada masyarakat di Kota Surabaya untuk tidak membuang sampah sembarangan atau ke sungai. Terutama di sepanjang sungai Pegirian dan sekitarnya.
“Harapannya biar sungai Pegirian juga bersih lagi, di samping itu kan kawasan ini masuk kawasan wisata religi,” tandasnya. (Dwi Arifin)

Jelang Semifinal Piala Dunia Antarklub, Thiago Silva Mengungkapkan Kedekatan Emosinya dengan Chelsea

EAST RUTHERFORD-KEMPALAN: Thiago Silva baru setahun yang lalu angkat kaki dari Chelsea. Tetapi, Rabu dini hari WIB (9/7) Silva sudah harus berhadapan dengan Chelsea lagi.

Tepatnya dalam malam semifinal Piala Dunia Antarklub 2025, di MetLife Stadium, East Rutherford saat Silva membela Fluminense FC menghadapi The Blues (julukan Chelsea). Silva pun masih terbawa emosionalnya sebagai mantan penggawa Chelsea.

Seperti yang diungkapkan istrinya, Isabelle da Silva. Dilansir dari laman ESPN, Isabelle menyebut Silva masih menganalisis pertandingan skuad U-15 Chelsea. Itu karena kedua putranya, Isago dan Iago, membela skuad U-16 dan U-15 Chelsea.

Bahkan, setiap kali ada waktu liburan di liga sepak bola Brasil, Silva memanfaatkannya untuk terbang ke London Barat. Sebab, Isabelle dan kedua putranya sama-sama tinggal di London.

BACA JUGA: Reuni Lawan Chelsea Bersama Fluminense, Begini Kata Thiago Silva

’’Aku punya sejarah yang hebat di klub ini. Kini, dalam tahap akhir karierku, aku sedang menjalani masa-masa penting. Membantu dengan cara yang terbaik. Seperti yang sudah aku katakan, akan istimewa jika bisa menyingkirkan Chelsea dengan segala kecintaanku kepada mereka,’’ tutur Silva.

Silva bermain selama empat musim bersama Chelsea. Mulai dari 2020 sampai 2024. Dia turut membawa Chelsea memenangi beberapa ajang bergengsi. Termasuk ketika menjuarai di Liga Champions 2020—2021.

Dalam turnamen ini, Piala Dunia Antarklub, Silva juga membawa Chelsea jadi juara saat edisi 2021. Uniknya, di antara klub semifinalis Piala Dunia Antarklub, Silva juga pernah turun untuk Paris Saint-Germain (PSG).

Terlepas dari ikatan emosionalnya dengan Chelsea dan PSG itu, Silva menyebut harapan dirinya saat ini hanya ingin mengantarkan Flu (sebutan Fluminense) melangkah ke final sepert saat dia merasakannya bersama Chelsea.

Harapannya sangat besar. Begitu pula kekhawatiran dan kecemasannya yang juga sama besarnya. Bek tengah berkebangsaan Brasil itu sudah berbicara dengan Renato Gaucho, tactician Flu.

’’Aku mencoba membantu staf pelatih dengan beberapa detail kecil yang menarik. Selain itu juga hal-hal lain yang akan tetap jadi rahasia kami,’’ sebut Silva yang sudah membela Chelsea sepanjang 155 laga tersebut.

’’Tentu kami tidak boleh menyerah. Kami harus siap menjalani laga ini. Aku pikir, itulah yang terpenting. Siapapun lawannya, aku pikir Fluminense memiliki basis fans istimewa dan aura yang istimewa pula. Aku harap, kami yang akan mencapai ke final,’’ tegas Silva. (YMP)

Qantas dan UNICEF Australia Tinjau Langsung Layanan Anak di Surabaya

Kunjungan Qantas dan delegasi UNICEF Australia di Balai Pemuda Surabaya, Selasa (8/7).

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya menyambut kunjungan Qantas (AUSNATCOM) dan Delegasi UNICEF Australia di Balai Pemuda, Selasa (8/7). Kali ini, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya Ida Widayati bersama Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa Arie Rukmantara Tubagus Arie Rukmantara turut mendampingi kunjungan tersebut. 

Di kesempatan ini, Kepala DP3APPKB Ida Widayati mengatakan,  kunjungan tamu Delegasi UNICEF Australia kali ini adalah untuk mendengarkan secara langsung aspirasi anak-anak di Kota Surabaya. Tujuannya, yakni untuk mendorong Surabaya sebagai Kota Layak Anak (KLA) Paripurna ke depannya. 

“Jadi UNICEF terus mendorong Surabaya untuk benar-benar menjadi Kota Layak Anak. Bukan seperti saat sekarang ini yang masih Kota Layak Anak kategori utama. Dan memang hingga saat ini UNICEF selalu mendampingi  Surabaya. Termasuk pada tahun lalu anak-anak diberi kesempatan untuk menyampaikan berbagai hal tentang Surabaya di Kota Jinan, Tiongkok,” kata Ida. 

Para tamu delegasi dari Australia kali ini disambut secara langsung oleh Forum Anak Surabaya (FAS) di Balai Pemuda. Sebelum kunjungan ke Balai Pemuda, para tamu delegasi berkunjung ke sejumlah tempat pelayanan.

Yaitu mulai dari Kelas Ibu Balita Posyandu Kusumajaya 7 di Pucang Sewu, hingga ke SD Negeri Kertajaya 4 Surabaya untuk memberikan edukasi pencegahan bullying serta gizi terhadap anak.

“Jadi sudah sejak tadi pagi beliau-beliau ini melihat posyandu, kemudian layanan puskesmas, kemudian ke sekolah juga, dan terakhir di Balai Pemuda,” ujarnya.

Di samping itu, Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa Arie Rukmantara Tubagus Arie Rukmantara mengatakan, kunjungan Qantas (AUSNATCOM) dan Delegasi UNICEF Australia kali ini juga untuk melihat perkembangan pemberdayaan dan partisipasi anak di Kota Surabaya, Indonesia.

Karena dalam hal ini, Arie menjelaskan, perusahaan maskapai asal negeri Kanguru itu sudah sejak lama dengan UNICEF berkolaborasi dalam menangani pemberdayaan anak. 

“Mereka ingin melihat perkembangan panjang dari donasi dan kontribusi (pemberdayaan anak) kepada UNICEF di seluruh dunia. Jadi Qantas tidak hanya memberikan (kontribusi) untuk Indonesia, tapi di seluruh dunia,” kata Arie. 

Selain itu, alasan Qantas (AUSNATCOM) dan Delegasi UNICEF Australia berkunjung ke Surabaya, Indonesia karena Kota Pahlawan adalah calon Kota Layak Anak Dunia. “Alasan lainnya, yakni karena tingkat partisipasi anak-anaknya yang juga luar biasa,” ujarnya. 

Di kesempatan ini, anak-anak diminta untuk menceritakan bagaimana anak-anak di Surabaya dilibatkan oleh pemkot  ke dalam pembangunan kota ini. Diantaranya, mulai dari mengikuti diskusi bersama DPRD, Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang), dan sebagainya. 

“Nah titik dalam perjalanan hari ini yang kami tunjukkan adalah ‘Life Cycle’ atau soal siklus hidup. Jadi mereka menceritakan bagaimana aspirasi mereka bisa didengarkan oleh Pak Wali Kota (Eri Cahyadi), bagaimana bisa diskusi dengan DPRD, bisa ikut Musrenbang, dan sebagainya,” terangnya.

Selain itu, para tamu delegasi juga diajak, bagaimana siklus di Kota Surabaya. Yakni mulai dari diajak ke tempat layanan posyandu, lalu juga ditunjukkan bahwa di Surabaya ada pendidikan soal gizi bagi ibu hamil dan menyusui di Puskesmas, hingga pencegahan bullying terhadap anak di sekolah. Tidak hanya itu, tamu delegasi tersebut juga diajak untuk berkunjung ke Podcast Siaran Arek Surabaya di Balai Pemuda. 

“Nah, setelah kita tunjukkan itu semua, akhirnya mereka (tamu delegasi) tahu bagaimana siklus kehidupan remaja di Surabaya, hingga akhirnya bisa berpartisipasi dalam pembangunan Kota Surabaya. Jadi tim dari Qantas hari ini melihat intervensi life cycle yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya, Pemprov Jawa Timur, dan Pemerintah Pusat bersama UNICEF,” paparnya. 

Arie berharap, setelah adanya kunjungan ini Qantas bersama UNICEF Australia bisa menginformasikan ke lebih banyak belahan dunia lainnya, bahwa perkembangan anak-anak di Surabaya sangat luar biasa.

“Harapan mereka bisa memberitakan betapa hebatnya anak-anak di Surabaya. Mungkin bisa melalui produk video yang bisa diputar di dalam layar televisi pesawat Qantas,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Pergi ke Planet Mars

KEMPALAN : NASA (National Aeronautics and Space Administration – USA) sedang mewawancarai tiga orang pelamar untuk dikirim ke Planet Mars. Hanya satu orang yang akan pergi ke sana dan tidak bisa kembali ke bumi.

Pewawancara bertanya kepada pelamar pertama seorang insinyur, tentang berapa banyak ia mau dibayar.

“Satu juta dolar,” jawab sang insinyur. “Aku mau menyumbangkan semuanya untuk almamaterku.”

Pelamar berikutnya adalah seorang dokter.

Setelah ditanya, ia menjawab, “Dua juta dolar, aku ingin memberikan yang satu juta dolar kepada keluargaku, dan satu juta dolar lagi untuk pengembangan penelitian medis.”

Pelamar terakhir seorang pengacara. Setelah ditanya berapa banyak ia mau dibayar, ia berbisik pada si pewawancara, “Tiga juta dolar”, pelan sekali.

“Mengapa jauh lebih banyak daripada yang lainnya?! ” tanya si pewawancara dengan nada heran tapi tegas.

Pengacara menjawab, “Kamu beri saya tiga juta, aku akan memberimu satu juta, aku sendiri akan ambil satu juta, dan satu juta lagi untuk si insinyur yang ke Planet Mars.”


Sekarang, mari kita sedikit analisis anekdot ini :

Seperti kita tahu, insinyur acapkali digolongkan sebagai orang yang berkeahlian khusus di bidang teknik.

Dokter adalah profesi yang berkaitan dengan dunia medis dan yang dekat dengan masyarakat, dalam hal ini pasien atau orang-orang yang butuh nasihat kesehatan.

Sementara profesi pengacara berkutat dengan persoalan-persoalan hukum, yang intinya bagaimana mencari peluang sekecil apapun untuk memenangkan klien. Dan seringkali dianalogikan dengan istilah kalah menang nyirik (menang atau kalah perkara yang dibela, pengacara tetap dibayar).

Oleh sebab itu profesi ini juga diidentikkan dengan orang yang banyak omong dan taktik. Dan salah satu taktiknya sebagaimana disampaikan kepada pewawancara di NASA tadi.

Adakah ini bisa diproyeksikan dengan kondisi dan situasi di negeri antah barantah gemah ripah lohjinawi punya orang kaya? Jawabnya : tanyalah pada rumput yang tak bergoyang ! (Amang Mawardi).

‎Tujuh Perupa Pamer Lukisan Abstrak


SURABAYA-KEMPALAN: ‎Di tengah gemuruh seni rupa yang kerap memanjakan mata dengan bentuk-bentuk yang mudah dikenali, seni lukis abstrak tampil dengan kesunyian yang menantang. Genre ini bukan pilihan populer, namun justru di sanalah letak keberaniannya. Dalam dunia yang serba instan dan visual yang seragam, para perupa abstrak seperti berenang melawan arus. Menolak tunduk pada bentuk, tetapi menyelam lebih dalam pada makna.

‎Seni lukis abstrak bukan sekadar tentang goresan tanpa objek melainkan tentang ekspresi yang merdeka dari batas-batas realitas visual. Dibutuhkan lebih dari sekadar keterampilan melukis untuk mengolahnya.

‎Ia menuntut penguasaan teknik yang tinggi, pemahaman bahan yang mendalam serta imajinasi liar yang sanggup menjebol kotak-kotak pakem konvensional. Abstraksi adalah wilayah di mana emosi, intuisi dan gagasan bertemu dalam kanvas yang menolak menjadi jelas.

‎Keunikan lukisan abstrak terletak pada kekuatannya dalam menyampaikan rasa, bukan rupa. Ia membebaskan penikmatnya dari interpretasi tunggal. Setiap mata bisa melihat makna berbeda,  setiap hati bisa membaca narasi yang tak terucap. Namun di balik keunikannya, seni abstrak menyimpan tantangan besar, tidak semua orang siap berdialog dengannya. Dibutuhkan keberanian untuk tidak sekadar ‘melihat’ tetapi ‘merasakan’.

‎Inilah yang diusung oleh enam perupa dari berbagai daerah di Jawa Timur dalam pameran bertajuk “Tak Kasat Mata”. Bertempat di Galeri Merah Putih, Komplek Balai Pemuda Surabaya.  Pameran berlangsung dari Sabtu, 5 Juli hingga Kamis, 10 Juli 2025. Di balik kanvas yang terbentang, mereka menganyam inspirasi tanpa batas, menyuguhkan total 12 karya yang menggoda mata sekaligus menggugah jiwa.

‎Para perupa tersebut adalah Ekotomo dari Jombang, Guntur Sasono  (Ponorogo), Prabowo dari Pacitan, Istiyono (Nganjuk), serta dua perupa dari Kediri, Miftahul Mufid dan Sutikno. Mereka semua bukan nama baru dalam dunia seni rupa. Perjalanan panjang dan eksplorasi berbagai gaya – dari realisme, surealisme, hingga abstraksi – menjadi bekal penting dalam menciptakan karya yang tak sekadar elok tetapi juga sarat makna.

‎Salah satu lukisan menceritakan tentang orang-orangan sawah — simbol keheningan dan penjaga kesunyian ladang. Ada pula yang mengangkat tema “sangkan paraning dumadi”, sebuah refleksi tentang asal usul manusia dan tujuan akhir kehidupan.

‎Beberapa karya lain menelusuri perjalanan spiritual manusia, dari fase kelahiran, pencarian, hingga pencerahan. Semua narasi itu dituturkan melalui garis, warna dan ruang tanpa bentuk yang pasti   namun justru menguatkan.

‎Pameran “Tak Kasat Mata” bukan hanya pertunjukan visual. Ia adalah dialog batin, perjalanan personal, bahkan mungkin ruang meditasi bagi siapa pun yang bersedia membuka hati. Melalui goresan abstrak, para perupa mengajak kita masuk ke dalam dimensi rasa yang lebih dalam dari sekadar wujud kasat mata.

‎“Seni abstrak hadir bukan sekadar sebagai gaya melainkan gerakan pemikiran yang mendobrak batas-batas seni tradisional,” ujar Agus “Koecink” Sukamto, penulis dan pengamat seni rupa, dalam catatannya.

‎Pameran ini menjadi penanda penting,  bahwa seni abstrak masih terus tumbuh dan menyapa, bahkan di tengah derasnya kebutuhan akan kejelasan dan bentuk. Ia mengajarkan kita satu hal, bahwa keindahan tidak selalu harus terlihat jelas. Kadang, yang paling indah justru yang tak kasat mata.

‎Datanglah dan biarkan mata Anda menelusuri garis-garis sunyi yang mengisyaratkan jeritan, harapan dan keheningan. Mungkin di dalam abstraksi yang tak bernama, kita bisa menemukan bayangan diri yang selama ini tersembunyi. ()


‎Oleh: Rokimdakas (Jurnalis, aktivis seni)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.