KEMPALAN : Sekitar tahun kedua menjalani tugas keredaksian sebagai redaktur pelaksana Bhirawa-Edisi Khusus saya ditelepon Agus Sutomo wartawan Suara Indonesia (SI – grup Jawa Pos). Agus pernah sekantor dengan saya di Pos Kota Perwakilan Jatim dan di Mingguan Surya. Dia punya spesialisasi liputan olahraga dan berita-berita perkotaan.
Saat itu awal tahun 1990-an.
Agus bilang kalau saya dicari Dahlan Iskan. Untuk apa? Katanya saya mau diberi pekerjaan. Saya pun bilang: “Oke. Terima kasih.” Setelah itu saya mikir, pekerjaan apa?
Entah karena asyik dengan tugas redpel dan persiapan bikin pameran lukisan Pesona Alam bersama Toto Sonata dan Rokim Dakas, akhirnya saya tidak begitu ngereken soal yang pernah dinyatakan Agus tersebut.
Suatu hari saya diajak Yamin Akhmad menemui Dahlan Iskan di markas besar Jawa Pos Group Jalan Karah Agung nomor 45, Surabaya. Yamin adalah bos saya : pelaksana harian Bhirawa-Edisi Khusus.
Kami lantas njujug salah satu ruangan di redaksi Jawa Pos, mungkin ruangan pemred.
Selain Dahlan Iskan, di situ ada dua redpel Jawa Pos yaitu Nani Wijaya dan Margiono. Kami mendengarkan mereka bertiga ngobrol santai.
Ada dua hal yang sampai sekarang terekam di ingatan, dimana Dahlan saat itu sedang menjajagi penugasan salah satu di antara mereka agar bisa masuk ke Israel yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia dalam rangka tugas jumalistik.
Nany menolak halus karena sedang fokus pada proyek penulisan bersama sejumlah reporter Jawa Pos. Demikian juga Margiono, lagi ada kegiatan proyek penulisan (di Jawa Pos) yang belum selesai.
Satu lagi momen yang saya ingat di salah satu ruang Jawa Pos itu, yakni pembicaraan yang menyangkut terorisme atau kriminalitas, tentang narapidana Salman atau Imran (maaf, kalau saya salah kutip) yang mati ditembak karena melarikan diri.
Ada pernyataan Dahlan yang sedikit membuat saya keki: “Kamu sudah lama di Pos Kota kok gak ngerti yang begitu, Mang. Memang sengaja dilepas, lantas lari… lantas ditembak…”
Sesudah Nani dan Margiono pamit keluar ruangan, Yamin dengan Dahlan terlibat pembicaraan. Sejurus kemudian, selesai sudah urusan Yamin.
Dahlan lantas cerita kalau Jawa Pos Group nangani koran lagi, namanya Jawa Anyar. Base camp redaksi di Solo. Koran mingguan berbahasa Jawa yang sudah terbit satu nomor ini didukung sejumlah sastrawan berbahasa Jawa seperti N. Sakdani, Anjar Any, Suparto Brata, Tamsir As., dan sejumlah redaksi lainnya termasuk dari generasi yang lebih muda Bonari Nabonenar dan Ardini Pangastuti.
“Kamu pegang pemimpin perusahaannya ya, Mang. Maksud saya GM… semacam general manager, gitu ….”
Saat itu saya tidak menolak, juga tidak mengiyakan.
Pada saat pembicaraan enam mata tersebut. Yamin mendorong agar saya menerima tawaran tersebut.
“Saya pikir dulu. Pak…” kata saya kepada Dahlan, antara lain menyangkut bahwa mingguan ini berlokasi di Solo. Saya agak gamang jika jauh dari keluarga, terutama saat itu ketiga anak saya masih kecil-kecil, sedangkan istri bekerja.
Dalam perjalanan pulang, saya minta advis Yamin, yang intinya Yamin mendorong agar tawaran ini diterima. “Kesempatan buat kamu untuk menjalani karier yang lebih bagus,” kata Yamin meyakinkan.
Tiga hari kemudian saya temui Dahlan di Karah Agung. Saya nyatakan kesediaan, dan saat itu juga saya disalami Dahlan dengan suka cita. “Besok pagi kita ke Solo, ya…” Maksudnya ke base camp tabloid Jawa Anyar yang berlokasi di kawasan Kandangdoro dekat Stasiun Solo Balapan itu, untuk menemui Pak Sakdani dan kawan-kawan.
Pukul tujuh pagi saya sudah sampai di Karah Agung, dan Dahlan sudah siap di situ. Kepada driver-nya Dahlan bilang: “Minyak! Jangan lupa isi minyak!”.
Baru kemudian saya mudeng, yang disebut ‘minyak’ di sini adalah ‘bensin’. Maksudnya sedan BMW warna putih L 1 JP supaya dipenuhi tangkinya.
Mungkin kebiasaan di Samarinda di mana Dahlan pernah tinggal cukup lama di ibukota Provinsi Kaltim itu, menyebut ‘bensin’ dengan ‘minyak’.
Ternyata yang di belakang kemudi dalam perjalanan ke Solo sebentar lagi bukan pak sopir yang biasa pegang L 1 JP, tetapi Herman Rivai yang pernah jadi wartawan SI. Kelak Herman menjadi Wakil Ketua DPRD Surabaya.
Saya duduk di kursi depan di samping Herman. Dahlan Iskan di belakang dengan dua bantal bersarung putih. Saat itu Dahlan barusan dua minggu keluar dari RS Budi Mulia, diopname karena hepatitis.
Di Kertosono kami berhenti di sebuah depot pecel lele.
“Ayo kita makan siang. Di sini pecel lele paling enak se-Indonesia,” kata Dahlan disusul tertawa kecil sambil melangkah menuju depot itu yang lantas didahului Dahlan bergegas ke toilet di depot tersebut.
Setelah makan siang, perjalanan dilanjut. Namun selepas Nganjuk, Dahlan bilang: “Gak jadi ke Solo ya. Saya kangen bapak. Kita ke Madiun aja…”
Tiba di tepi kota Madiun, Dahlan mulai konsentrasi memandu Herman menuju Perumnas.
Ayah Dahlan di Madiun tinggal di rumah Zainudin (maaf kalau saya salah eja) di kawasan Perumnas.
Dulu Zainudin adalah koresponden Jawa Pos di Madiun. Namun karena ada peraturan baru bahwa tidak boleh ada dua orang punya hubungan keluarga dalam perusahaan, maka salah satu harus resign. Rumah Zainudin tipe-36.
Setelah sungkem ke ayahnya, Dahlan terlibat pembicaraan dengan ayah dan saudara bungsunya itu. Herman dan saya jadi pendengar yang baik.
Di sela pembicaraan bertiga tersebut, Dahlan mendekat ayahnya, lantas memijati pundak, tangan, dan kaki ayahnya.
Terlihat bahagia di wajah ayah Dahlan. Kemudian kembali duduk, ngobrol lagi.
Ayahnya lantas tanya kondisi Dahlan saat diopaname dan lain-lain seputar sakitnya.
“Entek piro, Lan?” tanya Ayah Dahlan yang bertubuh tinggi atletis dan yang masih menyisakan kegantengan itu. Maksudnya habis biaya berapa saat diopaname.
“Kalihdoso…” jawab Dahlan, yang maksudnya dua puluh juta rupiah.
Lantas ayahnya bertanya lagi dalam bahasa Jawa, bagaimana seandainya yang sakit hepatitis orang miskin.
Dahlan menjawab kalem: “Nggih pejah, Pak…”. Maksudnya: meninggal dunia, karena tidak punya uang untuk mengongkosi sakit berbahaya itu.
Pembicaraan Dahlan selang-seling ke ayah dan adiknya.
“Usaha apa sekarang, Din?”
“Ya masih ngageni Jawa Pos, Mas…”
“Berapa oplah?”
Lantas Zainudin menyebut jumlah tertentu, dan baru saja dapat limpahan sekian ratus pelanggan dari agen (Zainudin menyebut nama yang saya lupa).
Dahlan lantas membuka percakapan agar adiknya itu punya usaha lain selain jadi agen Jawa Pos.
Adiknya usul agar bisa punya izin pengangkutan tebu dan kelengkapan untuk menunjang usaha itu. Namun untuk punya usaha ini dibutuhkan biaya kira-kira sepuluh juta rupiah.
Mendengar itu Dahlan tidak menjawab langsung.
Kemudian: “Gimana kalau buka bengkel sepeda motor atau meracang (semacam warung sembako)”.
Tetapi Zainudin menjawab bahwa di sekitar rumah sudah banyak bengkel dan meracang-an.
Saat Dahlan usul buka usaha di rumah — bengkel atau meracang-an itu, istri Zainudin sedang membawa nampan berisi potongan-potongan pepaya sepanjang besar pepayanya yang sudah dikupas dan diletakkan pada sebuah piring, menyusul beberapa cangkir kopi yang lebih dulu terhidang di meja.
“Usaha itu yang elok ya di luar, Mas. Bukan di rumah…” kata istri Zainudin seraya meletakkan piring berisi pepaya irisan.
“Ya gini ini, Mang, yang bikin kita gak bisa maju,” mengomentari adik iparnya, seraya menoleh ke wajah saya. “Lihat tuh rumah orang-orang China, dengan barang dagangan numpuk-numpuk di rumahnya,” kata Dahlan. “Ya gak apa-apa untuk sementara. Nanti kalau sudah maju, baru dipikirkan tempat yang layak,” lanjutnya.
Istri Zainudin yang berambut sebahu itu senyum-senyum mendengar komentar Dahlan.
Akhirnya: “Oke, Din. Segera saya kirim 10 juta, tapi pinjam lho…”.
Saya lantas membatin seraya tersenyum: Kalau gak bisa mengembalikan ya gapapa, namanya saja adik. Dan, boleh jadi ‘pinjam’ adalah kata lain mengikhlaskan memberi untuk adik yang disayangi.
Dalam perjalanan pulang diseling Dahlan tidur, kami antara lain diskusi soal musik. Ternyata Dahlan penggemar berat Koes Plus. Saya pun cerita kalau selama ini membantu Log Zhelebour sebagai humas. Dan, saya cerita lika-liku pertunjukan musik rock, terutama yang dihelat Log Zhelebour Enterprise.
Rupanya Dahlan kesengsem dengan nggedabrus saya, dan menugasi untuk membentuk Jawa Pos Rock Band.
Keesokan harinya saya temui Solichin Hidayat salah satu redaktur Jawa Pos yang selama ini getol membantu pemberitaan kegiatan Log Zhelebour. Solichin menanggapi saya dengan baik.
Lantas saya ketemu Rokim Dakas wartawan Surabaya Post, cerita-cerita soal upaya membentuk band rock yang akan ditunjang Jawa Pos. Rokim kemudian menyebut nama-nama musisi rock yang cocok untuk menduduki formasi band rock yang akan dibentuk itu, salah satunya menyebut vokalis Kidnap (mungkin yang dimaksud Kidnap Katrina) yang pada kemudian waktu baru saya tahu kalau itu adalah Anang Hermansyah.
Mungkin karena saya kurang getol mengupayakan pembentukan grup band tersebut, dan Dahlan sudah tidak tanya-tanya lagi, akhirnya ya begitu deh… gone with the wind… (Cuplikan dari buku Memoar Amang Mawardi – Wartawan Biasa-Biasa).