Rabu, 20 Mei 2026, pukul : 20:19 WIB
Surabaya
--°C

Keruntuhan Rupiah secara Simultan Meruntuhkan Ekonomi Rakyat Indonesia

Karena itu, persoalan utama bukan apakah rakyat desa memakai dolar atau tidak. Persoalannya adalah ekonomi Indonesia masih terlalu bergantung pada sistem global berbasis dolar, sementara daya tahan ekonomi rakyat bawah masih lemah.

Oleh: Agusdin Pulungan

KEMPALAN: Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyatakan, pelemahan Rupiah hingga mencapai Rp 17.600 per dolar AS tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena “rakyat di desa tidak pakai dolar”.

Pemerintah juga menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan stabil.

Pernyataan tersebut mungkin mencoba menenangkan publik. Tapi persoalannya, rakyat desa memang tidak bertransaksi menggunakan dolar, tapi hampir seluruh kebutuhan hidup mereka dipengaruhi oleh dolar.

Di sinilah letak masalah sebenarnya.

Indonesia masih sangat bergantung pada impor, baik secara langsung maupun tak langsung. Misalnya seperti: gandum, kedelai, pupuk, pakan ternak, obat-obatan, BBM, hingga bahan baku industri masih sangat dipengaruhi kurs dolar.

Ketika Rupiah melemah maka biaya produksi naik. Saat biaya produksi naik, harga barang kebutuhan rakyat ikut naik.

Yang paling terdampak tentu masyarakat menengah bawah.

Bagi keluarga kaya, kenaikan harga mungkin hanya mengurangi tabungan atau liburan. Tetapi bagi buruh harian, petani kecil, nelayan, pedagang kaki lima, dan pekerja informal, kenaikan harga berarti berkurangnya kualitas hidup.

Mereka mulai mengurangi konsumsi protein, menunda berobat, atau menekan biaya pendidikan anak.

Secara statistik, situasi ini sangat berbahaya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat kemiskinan Indonesia pada Maret 2025 berada di angka 8,47 persen atau sekitar 23,85 juta jiwa.

Namun angka tersebut belum menggambarkan kelompok rentan miskin yang jumlahnya jauh lebih besar.

Menurut World Bank Group, sekitar 68,3 persen penduduk Indonesia masih hidup di bawah standar ekonomi aman kelas menengah negara (yang) berpendapatan menengah atas.

Artinya, sebagian besar rakyat Indonesia sebenarnya hidup sangat dekat dengan garis kerentanan ekonomi. Sedikit guncangan harga saja dapat membuat jutaan orang jatuh miskin kembali.

Inilah yang sering tidak terlihat ketika pelemahan Rupiah hanya dibahas sebagai isu pasar keuangan.

Keruntuhan Rupiah bukan hanya soal kurs di layar bank. Ia masuk ke dapur rakyat.

Saat harga naik sementara pendapatan stagnan, daya beli turun. Ketika daya beli itu turun, warung kecil mulai sepi, UMKM kehilangan pembeli, pasar tradisional melemah, dan usaha informal kesulitan bertahan. Padahal sektor informal masih menyerap mayoritas tenaga kerja Indonesia.

Di desa pun situasinya tidak sesederhana yang dibayangkan. Petani memang mungkin mendapat harga jual lebih tinggi untuk beberapa komoditas ekspor. Tetapi biaya pupuk, solar, pestisida, dan alat pertanian juga ikut melonjak.

Nelayan menghadapi harga BBM dan biaya operasional yang naik, sementara kemampuan masyarakat membeli hasil tangkapan justru melemah.

Akhirnya rakyat kecil bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan kondisi hidup yang sama.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu efek sosial yang lebih serius; meningkatnya pengangguran terselubung, putus sekolah, urbanisasi ekonomi terpaksa, hingga kriminalitas kecil akibat tekanan kebutuhan hidup sehari-hari.

Diskusi publik di media sosial juga menunjukkan kecemasan yang semakin besar terhadap biaya hidup dan melemahnya kelas menengah Indonesia. Ada banyak masyarakat merasa pendapatan mereka tidak lagi mampu mengejar kenaikan harga kebutuhan dasar.

Karena itu, persoalan utama bukan apakah rakyat desa memakai dolar atau tidak. Persoalannya adalah ekonomi Indonesia masih terlalu bergantung pada sistem global berbasis dolar, sementara daya tahan ekonomi rakyat bawah masih lemah.

Dan, ketika Rupiah runtuh terlalu lama, yang pertama kali kehilangan ketahanan bukan negara, melainkan rakyat kecil Indonesia.

*) Agusdin Pulungan, Ketua WAMTI (Wahana Masyarakat Tani dan Nelayan Indonesia)

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.