Kamis, 21 Mei 2026, pukul : 01:41 WIB
Surabaya
--°C

Khofifah Serahkan Santunan pada Ahli Waris Korban KMP Tunu Pratama Jaya Asal Banyuwangi

BANYUWANGI-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir dan menyerahkan santunan duka kepada delapan ahli waris korban meninggal dunia tragedi laka laut KMP Tunu Pratama Jaya asal Kabupaten Banyuwangi di ASDP Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Sabtu (12/7).

Sebagai informasi, dari 18 orang korban meninggal dunia atas tragedi memilukan tersebut terdapat sebanyak 10 orang masyarakat Jatim. Terdiri dari 8 orang warga Banyuwangi, 1 orang warga Blitar, dan 1 orang warga Probolinggo.

Didampingi Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono dan Kepala OPD Provinsi Jatim, Khofifah menyerahkan santunan berupa uang senilai Rp 10 juta untuk masing-masing korban.

Peluk haru dan isak tangis dari keluarga korban pun tak terpecahkan. Dengan sabar, Khofifah menguatkan para keluarga korban agar tetap tabah dan mendoakan agar para korban laka laut meninggal dalam kondisi khusnul khotimah dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Dalam kesempatan ini  Khofifah juga turut berdialog dengan para keluarga korban yang belum ditemukan. Ia mengajak mereka untuk terus berdoa agar pencarian korban yang belum ditemukan segera membuahkan hasil.

“Atas berpulangnya para korban laka laut KMP Tunu Pratama Jaya, kami menyampaikan bela sungkawa dan duka cita yang mendalam. Semoga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran,” kata Khofifah.

“Sampai dengan hari ini ada 18 korban meninggal yang sudah ditemukan. Ada 30 korban yang ditemukan dalam keadaan selamat,” sambungnya.

Khofifah menyebut, terdapat 10 warga Jawa Timur yang menjadi korban laka laut ini. Rincinya 8 orang dari Banyuwangi dan satu orang korban dari Blitar dan satu orang lagi dari Probolinggo.

“Ada delapan keluarga korban yang hadir yang kita serahkan langsung santunan duka. Sedangkan satu korban dari Probolinggo dan satu dari Blitar, saya sudah pesan kepada Kalaksa BPBD agar ada tim Tagana yang ditugaskan untuk menyampaikan duka takziah kami,” jelasnya.

Tak hanya itu, Khofifah juga berkesempatan meninjau operation room yang ada di Pelabuhan Ketapang bersama tim gabungan untuk menganalisis pergerakan arus laut di Selat Bali agar bisa memudahkan proses pencarian korban.

Khofifah secara khusus menyampaikan apresiasi kerja keras Tim Operasi Terpadu yang terdiri  dari tim gabungan baik dari Pusat hingga Banyuwangi dan Jembrana.

“Itu tentu atas kerja keras semua Tim Operasi Terpadu baik dari Banyuwangi, Provinsi terutama dari Tim Pusat,” ujarnya.

“Karena makin hari kebutuhan peralatan makin membutuhkan alat bantu yang lebih advance. Kita bisa melihat bagaimana arus air bisa mengalami perubahan yang sangat cepat dan semua sesungguhnya sudah melalui proses digital IT,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut Khofifah, berdasarkan informasi dari Tim Operasi Terpadu bahwa pelaksanaan pencarian korban akan dilanjutkan sampai 3 hari kedepan hingga 14 Juli 2025.

“Bahkan hari ini sudah masuk pada perpanjangan tiga hari kedua. Itu artinya bahwa kita semua akan terus berikhtiar memaksimalkan upaya pencarian dan penyelamatan ini,” tuturnya.

“Dan tadi yang sudah dikonfirmasi datanya melalui temuan dari tim DVI, tim Anti Mortem ada delapan. Tentu doa kita mudah-mudahan mereka dipanggil Allah dalam keadaan husnul khotimah, semua amal ibadahnya diterima Allah dan khilafnya diampuni Allah,” terangnya.

Sementara itu, Deputi Pencarian, Pertolongan dan Kesiapsiagaan BNPP (Basarnas) R. Eko Suyatno mengapresiasi gubernur yang hadir langsung melihat situasi posko dan meninjau langsung keluarga korban yang meninggal dunia.

“Inilah wujud perhatian Pemerintah Daerah terhadap masyarakatnya. Dan Alhamdulillah siang ini pukul 10.40 WIB telah menemukan satu korban lagi, korban ke-48 dengan jenis kelamin wanita ini dalam proses identifikasi DVI,” kata Eko.

“Ini adalah proses hari pertama dari tiga hari perpanjangan hasil operasi SAR. Kami komitmen mudah-mudahan ada suatu kemajuan proses pencarian korban. Apabila ada penemuan kami segera mengkomunikasikan dengan keluarga korban,” pungkasnya.

Sebagai informasi, kedelapan korban KMP Tunu Pratam Jaya asal Banyuwangi tersebut diantaranya Eko Satriyo (L/51) asal Lingk.] Sukowidi Barat Tril Kerta RT 1 Kec.Kalipuro, Kab Banyuwangi, Elok Rumantini (P/34) asal Lingk. Sritanjung, Kab. Banyuwangi, Cahyani (P/45) asal Dusun Krajan Kulon, RT.004/RW.013, Klurahan Wonosobo, Kec. Srono, Kab. Banyuwangi.

Selanjutnya, Fitri April Lestari (P/33) asal Dsn. Sumbar 1, Ds. Tampo, Kec. Cluring, Kab. Banyuwangi, Afnan Aqiel Mustafa (L/3) asal Dsn. Simbar 1, Ds. Tampo, Kec. Cluring, Kab. Banyuwangi, Daniar Nadief Inzaqi (L/21) asal Dsn. Gunung sari RT/02 RW/04, Ds. Sumbergondo, Kec. Glenmore, Kab. Banyuwangi, Rido Anggoro (L/29) RT.002/RW.001 Dsn. Badean, Kec. Kabat, Kab. Banyuwangi dan Novan Hadiansyah (L/15) Jembrana, RT.01/RW.01 Ds. Kunir, Kec. Singojurug, Kab. Banyuwangi. (Dwi Arifin)

BEC 2025 Sukses Gelar Transformasi Budaya Lokal Jadi Mendunia

GubernurJatim Khofifah Indar Parawansa menyaksikan Grand Carnival Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2025 di Taman Blambangan Kab. Banyuwangi, Sabtu (12/7).

BANYUWANGI-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka Grand Carnival Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2025 di Taman Blambangan Kab. Banyuwangi, Sabtu (12/7).

BEC kembali masuk dalam pagelaran terpilih Karisma Event Nusantara (KEN) oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif karena dinilai memiliki atraksi unggulan pariwisata yang memberikan efek positif luar biasa bagi daerah.

Mengusung tema “Ngelukat: Usingnese Traditional Ritual”, BEC Tahun 2025 berjalan meriah dan berhasil menarik puluhan ribu  wisatawan domestik maupun mancanegara.

Para pungunjung dimanjakan oleh gegap gempita Parade Fashion Show Puteri Indonesia 2025, serta penampilan Fragment Ngelukat-Kidung Nyurup oleh Dewan Kesenian Blambangan.

Tak hanya itu, ada pula pagelaran musik serta tari yang menggabungkan seni tradisional dengan sentuhan modern. Selain menampilkan parade berbagai kostum, BEC juga menyediakan pameran dan kaleidoskop yang dapat dinikmati oleh para pengunjung.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah mengatakan bahwa BEC memang milik Banyuwangi, tapi pengaruhnya dapat dirasakan oleh seantero nusantara bahkan dunia. Sehingga, memang layak menyandang status sebagai gelaran nasional dalam KEN.

“Hari ini kita kembali menjadi saksi bahwa BEC memberikan kekuatan pada beragam bingkai ekonomi, budaya, dan sosial. BEC juga merajut kekuatan masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur, dan Indonesia se-nusantara. Ini peragaan budaya yang menguatkan kita dan peradaban kita,” katanya.

Dirinya juga memuji bagaimana Banyuwangi dapat menggali kekuatan budaya lokal melalui tema yang ada. Sehingga, siklus kehidupan manusia dapat tergambarkan dengan apik.

“Di Banyuwangi Ethno Carnival ini kita bisa melihat bagaimana kekayaan budaya kita bisa menggambarkan life cycle manusia. Dari mulai kehamilan, 7 bulanan, turun tanah, sampai menikah dan seterusnya. Jadi ada proses yang terus dihidupkan berbasis budaya  Banyuwangi,” ujarnya.

Untuk itu, Gubernur Khofifah memberikan apresiasi luar biasa pada semua pihak yang terlibat. Pasalnya, untuk membuat event berskala nasional dan terus berkelanjutan, dibutuhkan sinergitas smemua lapisan masyarakat dan pemerintah untuk melestarikan dan memberikan yang terbaik setiap tahunnya.

“Apresiasi tertinggi saya untuk tim kreatif, desainer, budayawan, dan semua pihak yang menguatkan BEC. Terima kasih atas peran panjenengan semua, bagaimana mengusung pagelaran budaya lokal menjadi nasional dan bahkan global. Terima kasih semua tim kreatif Banyuwangi,” ujarnya.

“Dengan memohon ridho Allah SWT , hari ini Sabtu tanggal 12 Juli 2025 Pagelaran  Banyuwangi Ethno Carnival  resmi dimulai. Mudah-mudahan semua yang datang bisa pulang dengan membawa bahagia dan penguatan peradaban yang diangkat BEC. Mudah-mudahan budaya kita makin dikenali di dalam maupun luar negeri,” harap Gubernur Khofifah.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata RI  Masruroh menjelaskan bahwa tidak mudah untuk dapat menjadi acara terpilih pada KEN. Terlebih, BEC pernah masuk sebagai 10 terbaik KEN pada 2024 lalu.

Dikatakannya, penilaian KEN tidak dilakukan oleh Kementerian Pariwisata RI melainkan oleh dewan juri yang melihat dampak dan keberlanjutan acara. Masruroh percaya, ada tiga hal yang membuat BEC sukses.

“Yang pertama, komitmen dari pimpinan daerah untuk membuat event ini ada dan memberikan filosofi serta value. Yang kedua, mengangkat kekuatan lokal karena semua event hanya dapat bertahan jika menjadi milik masyarakat itu sendiri. Terakhir, bagaimana event itu memberikan dampak positif dari budaya, sosial, dan ekonomi,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Masruroh memberikan piagam KEN kepada Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Di mana, Ipuk mengatakan bahwa pengakuaan dari pemerintah pusat ini menjadi penting terhadap dampak positif yang diberikan.

“Tema Ngelukat kali ini menceritakan fase kehidupan manusia yang Allah ciptakan dengan sangat sempurna. Tema ini kaya akan makna dan sebagai simbol pensucian diri dan menjernihkan hati. Tema ini menghubungkan Tuhan, manusia, dan alam,” tuturnya.

“Ini lebih dari sekadar parade konstum, tapi pernyataan kuat bahwa budaya adalah daya hidup. Setiap kostum, setiap gerakan tari, setiap irama musik merupakan wujud dari budaya Banyuwangi. Karena budaya bukan untuk ditinggalkan, tapi untuk dihidupkan,” tandas Ipuk. (Dwi Arifin)

Suatu Siang di Kampus Kapasari

KEMPALAN: Ini adalah kampus hebat. Walaupun tidak sebesar kampus kampus lain, tapi di zamannya dia adalah kampus yang berkibar. Berjaya. Melahirkan banyak orang orang hebat. Orang orang yang bermain dengan penanya. Iya benar. Melahirkan penulis hebat. wartawan hebat.

Nama kampus itu adalah AWS – Akademi Wartawan Surabaya. Kampus yang membuka kuliah sore hari di jalan Kapasari Surabaya. Yang kemudian dalam perjalanannya berubah menjadi Stikosa-AWS. Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya. Dan membuka kuliah pagi dan sore hari di daerah Nginden Intan Surabaya.

Siang ini, Sabtu 12 Juli 2025, AWS angkatan 83, bertemu. Berkumpul di ruang kelas di mana dulu mereka belajar dan menimba ilmu ke para suhu jurnalis yang hebat di zamannya.

Walaupun saat itu belum lulus mereka telah menguasai medan jurnalis. Saat belum ada internet. Belum ada laptop. Belum ada komputer. Belum ada ha pe. Apalagi media sosial. Senjata mereka adalah pena dan kertas. Untuk kemudian disalin pada mesin ketik. Dan menyusun berita hingga dini hari.

Mereka tersebar di berbagai media besar. Sebut saja Jawa Pos, Surabaya Post, Memorandum, majalah Liberty, Kantor Berita Antara.

Pejalanan 42 tahun para alumni 83 menorehkan kenangan yang lahir dari kampus ini.

Berada di ruang kelas yang dulu sebagai tempat belajar dan menimba ilmu, di sinilah mereka berkumpul. Mereka tidak saja master, tapi telah menjadi suhu.

Usia pun tidak lagi muda. Sudah di atas 60 tahun.
Tetapi lihatlah. Pertemuan ini membuktikan mereka bangga dengan kampusnya-AWS yang memberikan kekuatan dan keberanian menjelajah di relung sepi malam untuk menulis.

Ruang kelas. Kantin. Masjid. Bahkan Angin serta udara. Aroma AWS siang itu tak pernah berubah. Masih sama saat para manusia manusia hebat ini belajar.

Ruang kelas yang sederhana dengan bangku kayu, adalah saksi bisu. Aromanya masih sama seperti dulu. Setidaknya kenangan itu masih tergambar dengan jelas.

Kantin yang berada di belakang adalah tempat favorit untuk diskusi. Kantin sederhana. Namun penjualnya yang bernama Mbak Tun merupakan bagian sejarah yang tak terpisahkan. Pada pertemuan ini semua masakan dimasak dan disediakan oleh Mbak Tun.

Masjid yang berada di ujung pelataran pintu masuk adalah tempat sholat berjamaah. Sholat ashar saat perkuliahan belum dimulai. Sholat maghrib saat istirahat. Dan sholat isya saat perkuliahan usai.
Mungkin karena rajin sholat berjamaah itulah, kampus ini walaupun kecil melahirkan banyak orang-orang hebat.

Kapasari adalah jalan kenangan. AWS adalah legenda. Para Alumni 83 adalah maestro di bidangnya. Semua itu memiliki catatan yang terekam dalam benak yang tak akan terhapus.

Dan Alumni 83 siang ini membuktkan, perjalanan empat puluh dua tahun adalah purnama yang membersamai cinta dan persaudaraan ini. ()

Oleh: Sri Puri Suryandari

Turnamen Piala Walikota Pasuruan 2025 Sebagai Upaya Pemkot Pasuruan untuk Menarik Minat Investor

PASURUAN-KEMPALAN: Pemkot Pasuruan mempunyai cara jitu untuk menarik minat pengusaha atau investor berinvestasi ke daerahnya. Salah satunya menggelar turnamen golf.

Sabtu (12/7) Pemkot Pasuruan dan PGI Kota Pasuruan kembali mengihupkan turnamen golf Piala Walikota Pasuruan yang sudah vakum sejak terakhir diselenggarakan di 2019. Ajang tersebut berlangsung di Taman Dayu Golf Club & Resort, Pasuruan.

Keseruan peserta Turnamen Golf Piala Walikota Pasuruan. (Foto: Istimewa)
Keseruan peserta Turnamen Golf Piala Walikota Pasuruan. (Foto: Istimewa)

Total, sebanyak 130 orang pegolf yang berpartisipasi dalam ajang tersebut. Tidak hanya dari kota-kota yang ada di penjuru Jatim. Juga ada yang berasal dari beberapa kota di Kalimantan.

Dalam sambutannya, Walikota Pasuruan Adi Wibowo mengharapkan turnamen golf ini dapat membuka pintu investasi bagi perekonomian Kota Pasuruan. ’’Dari turnamen golf ini, kami mengharapkan bisa membuka peluang investasi,’’ ucapnya.

’’Sehingga, ke depannya, perekonomian Kota Pasuruan pun bisa semakin bagus,’’ imbuh Mas Adi (sapaan akrab Adi Wibowo). Harapan Mas Adi tersebut juga dibenarnya Wakil Walikota Pasuruan, Mokhamad Nawawi.

Menurut Nawawi, edisi “comeback” turnamen golf Piala Walikota Pasuruan ini bisa jadi ajang permulaan untuk membuka pintu bagi investor menanamkan investasinya di sana untuk ke depan.

Apalagi dari beberapa pegolf yang berpartisipasi, juga ada beberapa yang memiliki latar belakang pengusaha. ’’Ke depan, besar harapan kami dengan investasi tersebut,’’ imbuh Nawawi.

Wakil Walikota Pasuruan Mokhamad Nawawi saat memukul di tee box 1 Taman Dayu Golf Club & Resort, Pasuruan. (Foto: Istimewa)
Wakil Walikota Pasuruan Mokhamad Nawawi saat memukul di tee box 1 Taman Dayu Golf Club & Resort, Pasuruan. (Foto: Istimewa)

’’Dalam turnamen yang akan datang, kami akan menggelarnya lebih besar lagi. Jadi, kali ini hanya satu shotgun. Maka tahun depan kami berharap bisa menggelar dua shotgun,’’ harap Nawawi. Sehingga, peluang pegolf-investor untuk masuk pun bisa lebih besar.

Sekadar diketahui, Kota Pasuruan sekarang sedang mengembangkan kawasan industri baru. Lokasinya berada di dua kecamatan di Kota Pasuruan, yaitu berada di Kecamatan Bugulkidul dan Panggungrejo.

Ketua PGI Kota Pasuruan Basuki saat memukul dari tee box 10 Taman Dayu Golf Club & Resort, Pasuruan. (Foto: Istimewa)

Di sisi lain, Ketua PGI Kota Pasuruan Basuki menyebutkan, turnamen ini juga dapat jadi gambaran bagi pegolf di kalangan investor. ’’Sehingga, ke depan mereka bisa mengenal potensi yang ditawarkan Pemkot Pasuruan untuk bisa jadi kerja sama investasi,’’ harap Basuki.

Di dalam turnamen Piala Walikota Pasuruan ini, gelar sebagai pegolf terbaik mampu Noor Akhmad Trimayuda. Selain gelar Best Gross Overall, Yuda (sapaan akrabnya) pun berhak membawa Piala Bergilir Piala Walikota Pasuruan. (YMP)

Khofifah Diperiksa KPK di Mapolda Jatim, AMAK: Ini Menguatkan Kecurigaan Publik

SURABAYA – KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa akhirnya menjalani pemeriksaan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis (10/7), terkait dugaan korupsi dana hibah Kelompok Masyarakat (Pokmas) dalam APBD Jatim tahun anggaran 2019–2022.

Namun, bukan hanya substansi pemeriksaan yang menjadi sorotan publik, melainkan cara Khofifah datang ke lokasi pemeriksaan. Ia diketahui memasuki Mapolda Jawa Timur melalui pintu belakang, menghindari sorotan kamera dan awak media yang sudah menunggu sejak pagi di pintu utama.

Kehadiran orang nomor satu di Pemprov Jatim itu terekam menggunakan Toyota Innova hitam sekitar pukul 09.45 WIB. Pemeriksaan berlangsung selama kurang lebih delapan jam, dan usai diperiksa, Khofifah mengaku telah menyampaikan seluruh keterangannya sesuai yang dibutuhkan oleh tim penyidik.

Prosedur Tak Biasa, KPK Bantah Perlakuan Istimewa

Langkah pemeriksaan terhadap gubernur yang masih menjabat ini menuai kritik. Pemeriksaan dilakukan bukan di Gedung Merah Putih KPK Jakarta seperti biasanya, melainkan di Surabaya. Ditambah lagi, akses masuk yang tertutup dari publik semakin memperkuat dugaan adanya perlakuan khusus.

Namun Ketua KPK, Setyo Budiyanto, membantah adanya keistimewaan terhadap Khofifah. Ia menegaskan bahwa lokasi dan jadwal pemeriksaan ditentukan berdasarkan pertimbangan efisiensi karena tim penyidik sedang bertugas di Jawa Timur.

“Tidak ada perlakuan istimewa. Ini murni pertimbangan teknis,” ujarnya.

Dugaan Korupsi Dana Hibah: 21 Tersangka Sudah Ditetapkan

Kasus yang menjerat sejumlah anggota DPRD Jatim ini berawal dari dugaan suap dan gratifikasi dalam proses penyaluran dana hibah Pokmas. Hingga kini, 21 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk mantan Ketua dan Wakil Ketua DPRD Jawa Timur.

Khofifah diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi, karena dalam posisinya sebagai gubernur, ia menandatangani dokumen hibah yang menjadi bagian dari mekanisme anggaran.

Kritik Tajam dari AMAK

Ketertutupan proses pemeriksaan terhadap Khofifah ini juga memicu reaksi keras dari Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (AMAK).

Ketua Umum AMAK, Ponang Adji Handoko, menyebut tindakan masuk lewat pintu belakang sebagai manuver yang mencederai semangat keterbukaan.

Tak hanya itu, Ponang juga mengingatkan publik untuk tidak cepat puas hanya karena Pemprov Jatim meraih opini WTP dari BPK.

“WTP itu bukan jaminan bebas korupsi. Itu hanya sajian wajar sesuai Standar Akuntansi Pemerintah. Jangan terjebak euforia administratif.”

Lebih lanjut, Ponang menegaskan bahwa AMAK meyakini ada indikasi korupsi transaksional, yakni adanya kesepakatan timbal balik antara pemberi dan penerima suap dalam skema dana hibah ini.

“Ini bukan sekadar tontonan, tapi harus jadi tuntunan penegakan hukum yang nyata dan berkeadilan.”

AMAK, yang telah berdiri sejak 2009 melalui akta notaris Wibowo di Rungkut, didirikan oleh I Wayan Titib Sulaksana, Hermanto, dan Ponang Adji Handoko. Organisasi ini juga menyatakan dukungannya terhadap program perang total melawan korupsi yang digaungkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Ujian Integritas bagi KPK

Sejauh ini, status Khofifah masih sebagai saksi, namun dinamika politik dan sosial membuat publik menaruh perhatian besar pada bagaimana kasus ini akan bergulir.

Proses hukum yang tertutup dan tidak biasa memunculkan satu pertanyaan besar di masyarakat:

“Apakah hukum di negeri ini benar-benar berlaku sama bagi semua warga negara, tanpa pandang jabatan dan kekuasaan?”

KPK ditantang untuk membuktikan bahwa mereka tetap tajam ke atas dan tak kehilangan nyali.(Izzat)

Editor: Izzat

Drama Kotor Itu Bernama Ijazah Palsu: Sihir Menuju 2029

Oleh: Edy Mulyadi

KEMPALAN: Secara moral, rakyat mestinya sudah muak kepada bekas presiden Jokowi. Selama satu dekade berkuasa, dia telah meninggalkan jejak dahsyatnya kerusakan multidimensi. Utang negara melonjak tajam. Tanah rakyat dirampas. Olgarki diberi karpet merah. Hukum tajam ke atas tumpul ke bawah. Kedaulatan ekonomi dan politik diobral murah ke RRC.

Tapi di tengah kehancuran itu, muncul manuver menjijikkan. Jokowi memainkan isu ijazah palsu. Ini bukan hoaks, apalagi fitnah. Allah membongkar kedok ini justru lewat die harder Jokowi, Norman Hadinegoro. Kepada Sindo TV Ketum Pernusa itu menyatakan Jokowi punya tim khusus untuk memelihara isu ijazah palsu.

Disebut menjijikkan karena gorengan isu dilakukan bukan untuk menjawab tuduhan. Tapi untuk membangun citra sebagai korban. Dia memainkan strategi playing victim demi kepentingan politik. Hajatan 2029!

Perkembangan terbaru justru menguatkan dugaan ini. Jumat, 12 Juli 2025 gugatan hukum atas dugaan ijazah palsu Jokowi resmi digugurkan oleh PN Surakarta. Tapi bersamaan dengan itu, laporan pidana Jokowi terhadap Roy Suryo dkk justru naik ke tahap penyidikan. Apa artinya? Yang membongkar malah dikriminalisasi. Sementara Jokowi tampil sebagai “korban fitnah” yang harus dibela. Rapi dan sistematis.

Pertanyaannya: apakah strategi ini akan berhasil? Sayangnya, jawabannya: masih mungkin berhasil. Asal dikemas dengan narasi yang tepat dan dimainkan di waktu yang pas, ini bakal sukses. Ingatan kolektif rakyat kita penfek dan mudah lupa. Akses informasi terbatas. Banyak yang cepat percaya pada narasi klise. Pemimpin sederhana yang dizalimi. Sosok baik hati yang jadi korban fitnah keji. Inilah yang disebut strategi martyr complex. “Korban” yang disucikan oleh narasi.

Jokowi tahu betul cara mainkan itu. Strategi ini tak ditujukan untuk meyakinkan semua orang. Jokowi hanya butuh mempertahankan 25–30% loyalis agar tetap solid. Angka ini lebih dari cukup untuk menjaga peluang Gibran, Kaesang, atau siapa pun dari lingkar kekuasaannya di 2029. Itulah investasi politik yang sedang dirintis lewat drama ijazah ini.

Bukan Cuma Prabowo, Tapi Masa Depan Bangsa

Tapi ini bukan sekadar strategi elektoral. Sejatinya ini juga ancaman langsung terhadap Prabowo. Jika Jokowi berhasil tampil sebagai korban suci dan tetap populer, Prabowo bisa tersandera. Legitimasi Prabowo sebagai presiden baru akan digerogoti dari dalam. Oleh bayangan Jokowi yang tak pernah benar-benar hengkang dari panggung kekuasaan.

Dan lebih dari itu: masa depan bangsa dipertaruhkan. Jika strategi ini berhasil, bukan tak mungkin 2029 kita akan kembali dipimpin oleh Gibran atau sosok lain dari lingkaran Jokowi. Mereka adalah rang-orang yang akan melanjutkan politik dagang kuasa, tunduk pada oligarki, dan mengabaikan nasib rakyat.

Boleh saja, misalnya, Prabowo tak peduli dengan kekuasaan setelah 2029. Tapi ini bukan semata soal seorang Prabowo Subianto. Ini nasib NKRI ke depan. Bayang-bayang Indonesia bubar pada 2030 seperti yang pernah Prabowo ramalkan, bukan mustahil bakal jadi kenyataan.

Kalau rakyat membiarkan narasi playing victim ini berkembang tanpa kritik, kita sedang membuka jalan bagi babak baru dari sandiwara busuk yang sama. Sebaiknya bila kesadaran kolektif rakyat dibangkitkan, maka drama ini akan tumbang oleh kebenaran. Syaratnya, kita harus berani mengungkap luka dan kerusakan 10 tahun kekuasaan Jokowi. Sebagai pelajaran teramat penting agar jangan terulang kembali.

Rakyat harus diingatkan. Yang sedang dihadapi bukan korban fitnah. Orang ini pelaku kerusakan, kehancuran Indonesia. Penjahat besar yang berkhianat menyerahkan sumber daya alam dan kedaulatan negeri kepada RRC.

Kalau kita biarkan dia main drama kotor lagi, 2029 bisa benar-benar jadi titik balik paling kelam dalam sejarah republik ini. Na’udzu billahi min dzalik…

Jakarta, 12 Juli 2025

Anak Madura Menyala Terang di Dunia Kecerdasan Buatan

KEMPALAN: Di usia yang baru 23 tahun, Ach Nur Aqil Wahid sudah memberi warna di dunia kecerdasan buatan (AI).

Sesekali ia diundang ke luar kota. Dari hotel le hotel. Menjadi instruktur AI bagi pejabat eselon dan para manajer perusahaan yang ikut pelatihan. Meski usianya jauh lebih muda dari para peserta, keahlian dan gaya penyampaian Aqil membuatnya dihormati.

Keseharian Aqil kerja di Inixindo Jogja, perusahaan nasional yang bergerak di Konsultan IT. Di sela kesibukannya, Aqil menyelesaikan program magister di bidang kecerdasan buatan di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Aqil bukan berasal dari pusat-pusat teknologi dunia. Ia lahir dan tumbuh di Sumenep, sebuah kota di ujung timur Pulau Madura. Ayahnya orang pulau. Ibunya asli Sumenep.

Talenta Aqil dimulai sejak kuliah S1. Ia bukan hanya belajar di kelas, tapi juga membantu dosen, ikut riset, dan menulis artikel ilmiah.

Aqil menyukai dunia algoritma, data, dan mesin cerdas. Lebih dari itu, ia percaya bahwa teknologi harus bermanfaat—bukan hanya untuk industri besar, tapi juga untuk masyarakat di kampung halamannya.

Aqil tidak berhenti di ruang teori. Ia menginisiasi membangun Platform AI dengan nama, ChatSUMENEP, sebuah chatbot cerdas yang akan menjadi asisten digital warga Sumenep dalam kebutuhan pelayanan Pemkab. Kebutuha untuk jualan para UMKM. Dll.

Sayang, kreasi Aqil yang tergolong langka, masih ada yang mengaggap lelucon. Aqil hanya bisa mengelus dada. Sempat berontak. Tapi ia ingat pesan ayahnya: biar waktu yang menjawab.

Semangat Aqil mewujudkan ChatSUMENEP kian membara. Di tengah proses launching, Aqil sedang merancang integrasi ChatSUMENEP dengan GPS IKAN berbasis AI.

Inisiasi Aqil mendapat respon luar biasa dari netizen. Terlihat di akun tiktok, bagaimana respon netizen menyambut karya anak muda Sumenep yang masih peduli dengan tanah kelahirannya.

Netizen tak menyinggung soal perhatian pemerintah. Netizen hanya meluapkan kesenangannya sesama putra Madura. Yang diyakini akan membawa harum nama Madura. Anak Madura-biar tak dikenal dengan kekerasannya, tulis netizen.

GPS IKAN berbasis AI itu akan diintegrasikan dengan ChatSUMENEP. Para nelayan yang akan memanfaatkannya bisa login menggunakan kode user. Tanpa perlu biaya setup dan beli alat lain-lainnya. Cukup WA di ChatSUMENEP.

Jejak Digital yang Nyata

Di akun GitHub milik Aqil tersimpan proyek-proyek nyata: model machine learning, sistem chatbot berbasis NLP (pemrosesan bahasa alami), dan rancangan integrasi AI dengan perangkat IoT. Di LinkedIn, tampak pengalaman mengajar, kolaborasi riset, dan inisiatif yang pernah ia jalankan. Semua itu menggambarkan sosok yang bukan hanya belajar, tapi juga membangun.

Ia menguasai bahasa pemrograman seperti Python, mengerti cara kerja AI, dan memahami pentingnya dokumentasi. Tapi yang lebih penting, ia tahu kepada siapa teknologi itu harus diberikan. Ia selalu memulai dari kebutuhan masyarakat, lalu mencari cara agar teknologi bisa hadir sebagai solusi.

Masa Depan yang Terbuka Lebar

Ke depan, jalan Aqil terbuka luas. Dunia saat ini sangat membutuhkan orang seperti dia, yang bisa membangun teknologi cerdas tapi juga punya kepekaan sosial. Di banyak negara, posisi seperti AI Engineer atau Data Scientist makin dicari. Di Indonesia sendiri, permintaan terhadap tenaga ahli AI terus tumbuh. Gaji yang ditawarkan juga cukup tinggi, tapi bagi Aqil, bukan itu ukurannya.

Ia ingin teknologi hadir dan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Terutama di tanah kelahirannya. .

Dunia Aqil sudah terbuka lebar di luar Sumenep. Dia berkarya untuk warga Sumenep. Tanah kelahirannya, bukan untuk belas kasihan karena menganggur.(Abdul Hadi)

Editor: Nur Izzati Anwar (Izzat)

Terdepan Lindungi Pekerja Migran, Gubernur Khofifah Raih Penghargaan Nasional

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

GRESIK-KEMPALAN: Komitmen kuat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam melindungi dan memberdayakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) kembali mendapat pengakuan nasional. Kali ini, penghargaan datang dari Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Abdul Kadir Karding.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Abdul Kadir Karding kepada Gubernur Khofifah yang diwakili oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur Sigit Priyanto, dalam acara Launching Desa Migran Emas di Wahana Ekspresi Poesponegoro, Kabupaten Gresik, Jumat (11/7).

Menurut Khofifah, penghargaan ini bukan semata bentuk apresiasi, melainkan menjadi momentum meningkatkan dan menguatkan perlindungan yang menyeluruh bagi PMI asal Jawa Timur. Bahwa dalam hal ini Jatim dinilai terdepan dalam melindungi pekerja migran.

“Penghargaan ini menjadi momentum penting bagi kami untuk memperluas jangkauan perlindungan dan memberdayakan lebih banyak PMI, baik yang sedang bekerja di luar negeri, akan berangkat, maupun telah kembali,” katanya.

Pemprov Jatim, lanjut Khofifah, hingga saat ini menjadi provinsi dengan penempatan PMI tertinggi secara nasional. Data terbaru menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Februari 2025, sebanyak 11.265 PMI telah diberangkatkan ke berbagai negara. Terdiri dari 5.438 orang pada Januari dan meningkat menjadi 5.827 orang pada Februari.

Bahkan proyeksi dari Pusat Data dan Informasi BP2MI menunjukkan bahwa total penempatan PMI asal Jatim sepanjang tahun 2025 diperkirakan mencapai 70.422 orang, meningkat dari realisasi tahun 2024 yang berjumlah 69.594 orang.

Hal ini menjadikan Jatim sebagai daerah penyumbang tenaga kerja migran terbesar dan sekaligus menjadi tolok ukur praktik migrasi aman di tingkat provinsi.

“Jumlah ini menunjukkan besarnya potensi tenaga kerja dari Jatim. Namun ini juga menjadi tantangan besar dalam hal perlindungan. Maka, edukasi dan literasi menjadi prioritas kami agar para calon PMI dan keluarganya memahami prosedur yang benar dan tidak mudah tergiur tawaran yang tidak resmi,” ucapnya.

Menurutnya, sejauh ini Pemprov Jatim telah menjalankan berbagai program strategis bagi PMI. Mulai dari edukasi pra-penempatan, fasilitasi dokumen legal, penguatan balai pelatihan kerja, hingga pemberdayaan purna migran dengan pelatihan wirausaha dan kemudahan akses KUR dari perbankan.

“Kita ingin agar hasil kerja keras para PMI itu tidak berhenti di remitansi. Lebih dari itu, kita ingin para PMI kita tumbuh menjadi pengusaha, menjadi motor ekonomi desa. Harus pulang sebagai juragan, jangan sampai menjadi  korban,” tegasnya

Gubernur perempuan pertama di Jatim ini juga mengapresiasi hadirnya program Desa Migran Emas yang dicanangkan Kementerian PPMI sebagai bentuk peningkatan dari program Desmigratif. Ia menyebut program ini sangat relevan dengan kebutuhan desa-desa kantong migran.

“Desa harus menjadi garda terdepan dalam edukasi, perlindungan, dan pemberdayaan migran. Maka Desa Migran Emas ini kita sambut sebagai peluang besar membangun desa dari migrasi yang aman dan produktif,” katanya.

Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah kabupaten/kota, LPK, komunitas migran, hingga sektor swasta untuk terus membangun kolaborasi dalam pelindungan PMI.

“Pekerjaan ini tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Ini harus dilakukan bersama. Oleh karena itu sinergi dan kolaborasi dari seluruh pihak sangat penting sehingga mewujudkan terciptanya migrasi aman,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Ketemu Dahlan Iskan di Tangga Gedung Harian Suara Indonesia

Kempalan : Dulu, saat saya mendengar Peter A. Rohi salah satu jurnalis hebat di Indonesia mundur dari SI (Suara Indonesia), tebersit pikiran: ‘Kok gak eman (sayang) ya. Sudah dirintis dengan susah payah, sebentar lagi metik hasil, eh.. ditinggal begitu saja…’

Akhirnya saya menyadari, begitulah orang per orang melakukannya sesuai krisis yang melingkupi diri yang mungkin dipertegas komitmen pada suara hati. Dan itu, boleh jadi mirip yang saya alami, saat mmemutuskan resign dari Mingguan Surya.

Pada suatu hari, sesudah beberapa bulan Mingguan Surya terkonversi menjadi Harian Surya, saya bertemu teman sekantor di Mingguan Surya dulu, di Gramedia Jalan Basuki Rachmat, Surabaya — yang lantas teman ini ikut bergabung ke harian tersebut.

Setelah say hello, dilanjut ngobrol ngalor ngidul, akhirnya dia berkomentar: “Pak, mestinya saham sampeyan nang Mingguan Surya (PT. Antar Surya Jaya) ojok dilepas. Bahwa sampeyan resign okelah, tapi saham sampeyan jarno ae. Eman …”. (Kurang lebihnya begini: Teman ini menyayangkan saya melepas saham di Mingguan Surya. Boleh saja keluar dari Mingguan Surya, tetapi saham jangan dijual. Sayang …).

Ternyata tidak dia saja yang ngomong begitu, lainnya yang lantas ikut terkonversi ke Harian Surya, juga demikian.

Reaksi saya setelah mendengar komentar mereka, biasa saja. Saya tidak menyayangkan, apalagi menyesali tindakan saya.

Mungkin kalau pertanyaan itu muncul lagi sekarang, saya akan bilang: “Saya tidak eman, tidak menyesal menjual saham itu. Saya akan menyesal manakala saya menyakiti orang yang tidak bersalah, baik yang saya sengaja maupun yang tidak saya sengaja.” (Baper ni ye… wkwkwk…).

Di Mingguan Surya, oleh Harian Pos Kota pemegang saham mayoritas (85%), kami (Ivans Harsono dan saya) diberi saham perintis alias saham kosong : Ivans 10%, saya 5%.

Akhirnya ya itu tadi, saya menjadi orang biasa, menjalani hari-hari saya sebagai sub-agen: Jawa Pos, Surabaya Post, dan sejumlah majalah — dengan masih mengelola toko ATK (alat tulis & kantor) dan agen pengiriman paket TiKi. Sebagian uang penjualan saham saya gunakan nambah modal usaha dan lain-lain.

Karena saya kenal dengan Pak Djoko kepala pemasaran Harian Surya, lantas saya diangkat jadi agen pemasaran koran itu, dan direkomendasi menjadi agen Harian Kompas.

Selain dibantu Bero Raharjo adik sepupu istri yang tinggal di rumah kami, saya juga memberi honor empat orang loper.

Sepupu istri saya ini karyawan Mingguan Surya. Dia saya masukkan ke koran itu.

Yang repot kalau pas ada loper tidak masuk, saya harus menggantikan.

Sekadar ilustrasi, ada beberapa pelanggan yang beralamat di kawasan terpencil, sekira dua kilometer dari kompleks real estate Pondok Chandra, Sidoarjo, yaitu perumahan Surya (kebetulan nama sama dengan Mingguan Surya). Sedangkan Pondok Chandra dari rumah saya sekitar dua kilometer.

Pernah hujan turun deras, loper menelepon ke rumah untuk izin tidak masuk karena sakit. Terpaksa saya turun tangan.

Majalah dan koran saya masukkan kantong-kantong plastik, saya ikat dengan karet gelang. Dengan Honda bebek merah metalik, saya melawan deras hujan yang antara lain menghunjam ke mata yang berakibat perih, melewati kanan kiri persawahan dan rawa-rawa. Akhirnya koran dan majalah saya lempar-lemparkan ke teras rumah para pelanggan.

Selain itu setiap hari saya harus kulakan berbagai majalah di bursa media cetak di Jalan Pahlawan, Surabaya, di samping kantor Surabaya Post, koran Memorandum, LKBN Antara dan majalah Liberty itu.

Dalam sehari, waktu kedatangan berbagai majalah ke bursa media cetak itu tidak seragam. Ada yang pagi, siang, dan jelang sore. Saya harus stand by.

Bisa saja saya tidak harus nyanggong terus-terusan di lokasi Jalan Pahlawan itu. Yang penting majalah seperti Tempo, Femina, Kartini, atau Gadis, sudah saya dapatkan. Yang lain-lain, yang belum tiba dari Bandara Juanda yang kira-kira saya anggap tidak begitu penting, bisa saya tinggal. Besok kembali lagi dalam rangka kulakan. Sesekali tindakan seperti itu saya lakukan, cuma sebentar. Tetapi…eits, untuk seterusnya jangan coba-coba begitu. Kalau pelanggan tahu bahwa tetangga atau kenalannya sudah menerima majalah yang sama, sementara dia belum, bisa disewoti.

Begitulah keseharian saya waktu itu.

Kalau tidak salah, sekitar tahun 1988, manajemen Suara Indonesia (SI) mulai ditangani Jawa Pos, bukan oleh Sinar Harapan lagi.

Dan SI pun bedol desa, dari kawasan Talun, Malang, pindah ke Jalan Sumatera nomor 31 H, Surabaya.

Hampir setiap hari saya mengharuskan ke kantor di Jalan Sumatera itu karena sebagian besar wartawan Sl yang teman-teman saya, berlangganan majalah Tempo, dan sejumlah majalah wanita untuk istrinya. Selain yang di SI, ada juga sejumlah wartawan yang berlangganan, seperti di Radio Suara Surabaya dan Memorandum.

Kenapa itu saya lakukan, apa tidak gengsi? Ya, mula-mula gengsi. Lama-lama, biasa. Kaitannya ada jeda kosong, pagi sekira pukul 06.00 ngantar istri ngajar, pukul 13.00 tugas jemput. Jeda itu saya gunakan urusan keagenan media cetak.

Saat pertama kali masuk ke kantor itu, saya bertemu dengan seorang wartawan senior yang seniman yang saya kenal betul. Sosok ini menjabat redaktur pelaksana.

Kami lantas ngobrol. Rupanya kehadiran saya siang itu menginspirasinya untuk menulis di rubrik Renungan Pagi esok hari, dengan judul: Wartawan.

Intinya banyak kehadiran wartawan muda yang akhirnya meminggirkan yang senior-senior.

Yang lebih menarik adalah penutup tulisan ini, yang saya kutip persis dari klipping saya:

Sebagai wartawan, Mawardi merasa sudah tak mampu dan tak kreatif, tetapi sebagai wiraswastawan, ia punya peluang. Teruskan !

Tulisan ini sebetulnya diperhalus dari obrolan redpel yang seniman dengan saya siang hari itu, di mana sosok ini selalu bikin banyak orang terpesona manakala mendengar dia berbicara. Begitu dramatis. Maklum dia juga seorang sutradara teater.

Saat dia ngobrol dengan saya, beberapa redaktur dan wartawan ikut nimbrung.

“Kita semua orang-orang kalah. Amang kalah, saya kalah, kamu kalah, Anda kalah, awakmu kabeh (Anda semua) kalah..!”, seraya tangannya menunjuk-nunjuk anak buahnya yang mengelilingi dia dan saya.

Mungkin kalau diperlebar: Jawa Pos kalah karena dibeli Tempo; Mingguan Surya (+Pos Kota) kalah sebab di- take over Kompas; Suara Indonesia lempar anduk karena dimanajemeni Jawa Pos dan masih panjang lagi daftarnya.

Sang redpel berambut keriting ini yang juga mengaku “kalah” ini, sekian puluh tahun kemudian bergelar doktor. Bahkan belakangan juga profesor. Saya rasa Anda, khususnya wartawan senior, tahu — siapa yang saya maksud. Siapa? Ya, betul : Prof. Dr. Sam Abede Pareno.

Pada kemudian hari, lantas timbul pemikiran, bahwa dalam kehidupan kalah dan menang itu perkara wis wayahe opo sik nunggu giliran (menang).

Misalnya: Sekarang kalah, setahun lagi menang, itu kan cuma perkara wayahe ae (waktu saja). Kalah dan menang itu soal menunggu waktu, dan akan berjalan silih berganti. Tidak ada orang yang menang terus sepanjang hidupnya. Terkadang ada kalahnya juga. Demikian sebaliknya. Yang penting yang kalah harus berjuang keras agar menang, tidak kalah terus. Mirip yang dinyatakan Dr. Fachrudin Faiz filosof dari UIN Sunan Kalijogo bahwa hidup itu intinya cuma dua: kalau gak senang, ya susah. Dan itu silih berganti, selagi manusia hidup.

Kalau misalnya ada yang tanya: “Lha, kalau kalah terus sepanjang hidup, gimana?” (Ya, ndak tahu. Kok tanya saya…🙂).


Meski saat itu saya sudah ganti baju sebagai pengusaha-(pengusahaan), saya masih tetap menulis, antara lain di majalah Liberty dan Surabaya Post.

Di majalah yang didirikan Pak Goh Tjing Hok ini, tulisan-tulisan saya dalam bentuk profil dan reportase, seingat saya selalu dimuat. Bahkan kalau pas baru datang di redaksi Liberty, Mbak Ida Tomasoa sebagai redaktur pelaksana dari jarak beberapa meter, setengah berteriak sering ngomong begini: “Endi tulisane, Diikk… (mana tulisanmu, Dik).

Selain Liberty dan Surabaya Post, tulisan-tulisan saya berupa artikel seni budaya sering dimuat di SI. Kalau ini sih lebih banyak karena unsur pertemanan, karena dua sahabat saya yaitu Toto Sonata dan M.Djupri menjadi redaktur di harian ini.


Suatu hari saat menuruni building stairs (tangga gedung) di kantor SI, saya berpapasan dengan Dahlan Iskan yang naik ke atas.

Begitu melihat saya, Dahlan spontan menyapa:

“Hei, Mang!”

“Ya, Lan!”

Akhirnya saya tidak jadi turun, karena diajak Dahlan naik ke lantai II ke ruang redaksi.

Dahlan dan saya berteman sudah lama, sejak awal dia masuk Surabaya dari Samarinda. Di ibukota Provinsi Kaltim itu dia adalah koresponden Tempo. Karena prestasinya, Dahlan dimutasi ke Surabaya dan akhirnya menjadi Kepala Biro Tempo Jawa Timur. Dan pada akhirnya saat Jawa Pos diambil-alih Tempo, lantas menugasi Dahlan Iskan yang waktu itu berusia 31 tahun sebagai pelaksana harian Jawa Pos.

Saat Dahlan menjadi Kepala Biro Tempo, hampir setiap Minggu menelepon saya untuk mengajak main pingpong di Balai Wartawan. Dahlan jarang menang lawan saya.

Yang lantas menjadi catatan saya jika dihubungkan dengan kejadian yang menimpa Dahlan sekian puluh tahun kemudian adalah: sehabis pingpong dengan saya, dia sering menempelkan perutnya ke pinggiran/tepian meja pingpong yang tebalnya lebih kurang 5 sentimeter itu.

Setelah itu, ngomong begini: “Perut itu mestinya kayak perut saya, empuk. Coba perutmu kamu tempelkan, kamu tekan-tekan ke ‘ketajaman’ meja ini”.

Setelah kaos sedikit saya angkat ke atas, perut saya pun saya tekan-tekankan.

“Waduh…perutmu kok atos (keras) gini. Kamu sering masuk angin ya …?!”.

Apakah kebiasaan Dahlan itu, pertanda dia mulai dihinggapi hepatitis, sehingga pada akhirnya mengantarkan Dahlan pada tahun 2006 harus ganti hati di Tian Jin, China ?

Nah, saat itu sedang terjadi “perang besar” antara Surya dan Jawa Pos.

‘Jawa Pos reinkarnasi’ yang di- backup Tempo sejak delapan tahun sebelumnya (saat saya diajak ngobrol Dahlan di lantai II itu), harus head to head dengan Harian Surya yang di belakangnya berdiri dua raksasa: Kompas (51% saham dan Pos Kota 49%).

Dari cerita teman-teman saya yang ada di Surya, Kompas menggerojok dengan fasilitas luar biasa dan duit miliaran.

Dan menurunkan pendekar-pendekar jurnalistiknya seperti Valens Doy, Herman Darmo, Max Margono, Yesayas Octavianus dan masih banyak lagi.

Bahkan jurnalis-jurnalis hebat di luar Kompas seperti Peter A.Rohi dan Anshari Thayib ikut bergabung di jajaran redaksi.

Peter pun dipasang sebagai wakil redaktur pelaksana.

Saya dengar, untuk meliput satu peristiwa di kota Surabaya, Surya menurunkan 3-4 orang wartawannya. Kalau saya yang jadi redaksinya, paling banyak dua reporter (he-he-he koyok yok-yok-o ae aku…).

Lantas Jawa Pos menangkis kehadiran Surya dengan berbagai cara, baik dari sisi pemberitaan maupun pemasaran.

Yang bikin saya ketawa saat itu mahasiswa ITS bikin mobil yang dijalankan dengan tenaga surya. Dan saya rasa istilah mobil tenaga surya adalah hal yang umum. Tetapi Jawa Pos tidak mau menggunakan istilah itu, melainkan dengan istilah mobil tenaga matahari.

Dalam pertemuan tidak sengaja di kantor SI siang itu, rupanya Dahlan Iskan paling suka dengan kalimat saya ini: “Anda hebat ya, bisa menghadapi serbuan Surya dengan segala taktik”.

Yang lantas dikomen hanya dengan: “He-he-he…” Meski cuma dengan “kode” itu, tampak Dahlan senang.

Entah ada hubungannya dengan ‘he-he-he’ itu, tiga tahun kemudian saya dibikin kalah olehnya dengan dijadikan general manager salah satu koran dari grup Jawa Pos, yang akhirnya saya tidak memanggilnya dengan ‘Anda’ atau ‘Dahlan’ lagi, tetapi dengan sebutan ‘Pak Dahlan’. (Dan, ternyata, saya memang kalah lagi wkwkwk…).

Saat menjabat GM tabloid Jawa Anyar itu, saya secara empiris banyak belajar bagaimana me-manage koran mingguan dengan sebenar-benarnya.(Cuplikan dari buku Memoar Amang Mawardi Wartawan Biasa Biasa).

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.