KEMPALAN: Ini adalah kampus hebat. Walaupun tidak sebesar kampus kampus lain, tapi di zamannya dia adalah kampus yang berkibar. Berjaya. Melahirkan banyak orang orang hebat. Orang orang yang bermain dengan penanya. Iya benar. Melahirkan penulis hebat. wartawan hebat.
Nama kampus itu adalah AWS – Akademi Wartawan Surabaya. Kampus yang membuka kuliah sore hari di jalan Kapasari Surabaya. Yang kemudian dalam perjalanannya berubah menjadi Stikosa-AWS. Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya. Dan membuka kuliah pagi dan sore hari di daerah Nginden Intan Surabaya.
Siang ini, Sabtu 12 Juli 2025, AWS angkatan 83, bertemu. Berkumpul di ruang kelas di mana dulu mereka belajar dan menimba ilmu ke para suhu jurnalis yang hebat di zamannya.
Walaupun saat itu belum lulus mereka telah menguasai medan jurnalis. Saat belum ada internet. Belum ada laptop. Belum ada komputer. Belum ada ha pe. Apalagi media sosial. Senjata mereka adalah pena dan kertas. Untuk kemudian disalin pada mesin ketik. Dan menyusun berita hingga dini hari.
Mereka tersebar di berbagai media besar. Sebut saja Jawa Pos, Surabaya Post, Memorandum, majalah Liberty, Kantor Berita Antara.
Pejalanan 42 tahun para alumni 83 menorehkan kenangan yang lahir dari kampus ini.
Berada di ruang kelas yang dulu sebagai tempat belajar dan menimba ilmu, di sinilah mereka berkumpul. Mereka tidak saja master, tapi telah menjadi suhu.
Usia pun tidak lagi muda. Sudah di atas 60 tahun.
Tetapi lihatlah. Pertemuan ini membuktikan mereka bangga dengan kampusnya-AWS yang memberikan kekuatan dan keberanian menjelajah di relung sepi malam untuk menulis.
Ruang kelas. Kantin. Masjid. Bahkan Angin serta udara. Aroma AWS siang itu tak pernah berubah. Masih sama saat para manusia manusia hebat ini belajar.
Ruang kelas yang sederhana dengan bangku kayu, adalah saksi bisu. Aromanya masih sama seperti dulu. Setidaknya kenangan itu masih tergambar dengan jelas.
Kantin yang berada di belakang adalah tempat favorit untuk diskusi. Kantin sederhana. Namun penjualnya yang bernama Mbak Tun merupakan bagian sejarah yang tak terpisahkan. Pada pertemuan ini semua masakan dimasak dan disediakan oleh Mbak Tun.
Masjid yang berada di ujung pelataran pintu masuk adalah tempat sholat berjamaah. Sholat ashar saat perkuliahan belum dimulai. Sholat maghrib saat istirahat. Dan sholat isya saat perkuliahan usai.
Mungkin karena rajin sholat berjamaah itulah, kampus ini walaupun kecil melahirkan banyak orang-orang hebat.
Kapasari adalah jalan kenangan. AWS adalah legenda. Para Alumni 83 adalah maestro di bidangnya. Semua itu memiliki catatan yang terekam dalam benak yang tak akan terhapus.
Dan Alumni 83 siang ini membuktkan, perjalanan empat puluh dua tahun adalah purnama yang membersamai cinta dan persaudaraan ini. ()
Oleh: Sri Puri Suryandari

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi