Jumat, 19 Juni 2026, pukul : 20:27 WIB
Surabaya
--°C

Dokter Zuhro: Perokok dan Penderita Diabetes Lebih Rentan TBC

Anggota Komisi D DPRD Surabaya dr..Zuhrotul Mar’ah. (Foto: Andra Jatmiko/kempalan.com)

SURABAYA-KEMPALAN: Anggota Komisi D DPRD Surabaya dr. Zuhrotul Mar’ah menilai meningkatnya temuan kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Surabaya sepanjang 2026 justru menjadi indikator positif keberhasilan program penanggulangan penyakit menular tersebut. Peningkatan angka kasus dinilai mencerminkan semakin efektifnya upaya pelacakan kontak erat (tracing) dan skrining yang dilakukan pemerintah.

Ditemui di ruang Komisi D DPRD Surabaya, Jumat (19/6), “Bu Dokter Zuhro” sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa target estimasi penemuan kasus TBC di Surabaya tahun ini mencapai 11.412 kasus. Hingga pertengahan tahun, sebanyak 4.191 kasus telah ditemukan.

“Dari jumlah itu, 4.078 merupakan kasus TBC sensitif obat dan 113 kasus merupakan TBC resisten obat,” ujarnya.

Menurutnya, jumlah temuan kasus pada 2026 memang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, kondisi tersebut tidak selalu harus dipandang negatif.

“Kalau kita sikapi secara positif, semakin banyak kasus yang ditemukan pada 2026 berarti semakin banyak pula pasien yang bisa dideteksi dini dan segera diobati. Harapannya, pada 2027 nanti terjadi pelandaian kasus karena banyak pasien sudah sembuh. Target Surabaya zero case TBC pada 2030 tetap bisa dicapai,” kata Zuhro.

Tracing dan Skrining

Zuhro menjelaskan, keberhasilan pengendalian TBC sangat bergantung pada dua strategi utama, yakni tracing dan skrining. Tracing dilakukan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC, sementara skrining menyasar masyarakat yang belum menunjukkan gejala namun memiliki risiko tertular.

“Tracing itu menyasar kontak erat pasien TBC. Sedangkan skrining dilakukan kepada masyarakat yang belum bergejala tetapi memiliki potensi tertular. Misalnya pasien diabetes melitus yang memang wajib menjalani skrining TBC,” jelasnya.

Berdasarkan data yang diterimanya, target penemuan suspek TBC di Surabaya pada 2026 mencapai 61.624 orang. Hingga saat ini, sebanyak 44.088 suspek telah ditemukan atau sekitar 71,54 persen dari target.

BACA JUGA  Hari Bhayangkara ke-80, Polresta Sidoarjo Gelar Bakti Sosial di Banjarasri Tanggulangin

“Capaian itu menunjukkan bahwa upaya tracing dan skrining berjalan cukup baik,” tegasnya.

Usia Produktif Mendominasi

Terkait kelompok usia yang paling rentan, dokter Zuhro mengatakan bahwa TBC dapat menyerang semua kelompok umur, mulai dari bayi hingga lansia. Namun, mayoritas kasus ditemukan pada usia produktif.

“Sekitar 67 hingga 75 persen kasus TBC ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni antara 15 sampai 55 tahun,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa anak-anak usia di bawah lima tahun maupun kelompok lanjut usia tetap memiliki risiko terinfeksi penyakit tersebut.

“Jadi sebenarnya semua rentang usia bisa terkena TBC. Hanya saja yang paling banyak ditemukan memang usia produktif,” tambahnya.

Faktor Lingkungan

Legislator dari Parta DPC PAN  Surabaya ini menegaskan bahwa tingginya kasus TBC di Surabaya tidak semata-mata disebabkan oleh jumlah penduduk yang besar. Menurutnya, faktor lingkungan menjadi penyebab utama penyebaran penyakit tersebut.

Ia menjelaskan, banyaknya kawasan padat penduduk, tingginya mobilitas masyarakat dari luar daerah ke Surabaya, serta kondisi lingkungan yang kurang sehat menjadi faktor yang mempercepat penularan.

“Kalau lingkungan lembab, ventilasi buruk, sirkulasi udara tidak baik, dan minim paparan sinar matahari, maka kuman TBC bisa berkembang biak lebih cepat,” katanya.

Kondisi tersebut memungkinkan bakteri TBC bertahan lebih lama di udara dan meningkatkan risiko penularan kepada masyarakat sekitar.

“TBC menular melalui droplet. Karena itu sumber penularan utamanya adalah lingkungan yang tidak mendukung serta daya tahan tubuh individu yang rendah,” jelasnya.

Perokok, Penderita HIV dan Diabetes Lebih Rentan
Selain faktor lingkungan, kondisi imunitas seseorang juga menjadi faktor penting dalam risiko tertular TBC.

Menurut Zuhro, kelompok dengan daya tahan tubuh rendah seperti penderita HIV, pasien diabetes melitus, serta perokok memiliki risiko lebih besar mengalami infeksi TBC.

BACA JUGA  Anas Karno: Salah Data, Bansos dan Insentif UMKM Bisa Meleset

“Termasuk perokok dan pengguna rokok elektrik. Keduanya sama-sama meningkatkan risiko seseorang lebih mudah terinfeksi TBC,” tegasnya.

Langkah Pencegahan

Untuk menekan angka penularan, Zuhro mengimbau masyarakat agar menerapkan sejumlah langkah pencegahan dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah pertama adalah menerapkan etika batuk dengan menutup mulut menggunakan tisu, kain, atau lengan bagian atas saat batuk maupun bersin.

“Kebiasaan sederhana seperti etika batuk sangat penting untuk mencegah penyebaran droplet,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat, konsumsi makanan bergizi seimbang, dan rutin berolahraga.

Penggunaan masker juga tetap dianjurkan, terutama bagi mereka yang sedang mengalami batuk atau pilek.

“Sekarang penggunaan masker sudah menjadi hal yang umum sejak pandemi Covid-19. Kesadaran ini perlu terus dipertahankan,” katanya.

Langkah pencegahan lainnya adalah memastikan rumah memiliki ventilasi dan sirkulasi udara yang baik serta memungkinkan sinar matahari masuk ke dalam ruangan.

“Bakteri TBC akan lebih cepat mati jika terpapar sinar matahari langsung,” jelasnya.

Masyarakat juga diimbau menghindari kontak dekat dengan penderita TBC yang masih dalam masa pengobatan tanpa perlindungan yang memadai, serta tidak menggunakan barang pribadi secara bergantian.

“Bukan berarti memberi stigma kepada penderita, tetapi jika harus berinteraksi dekat, sebaiknya sama-sama menggunakan masker untuk mencegah penularan,” ujarnya.

Vaksinasi BCG Wajib untuk Melindungi Anak

Di akhir keterangannya, Zuhro menekankan pentingnya vaksinasi Bacillus Calmette-Guérin (BCG) bagi bayi sebagai salah satu langkah paling efektif dalam mencegah TBC pada anak.

“Vaksinasi BCG merupakan langkah wajib yang harus diberikan kepada bayi untuk melindungi mereka dari TBC,” pungkasnya.

Dengan penguatan tracing, skrining, edukasi masyarakat, serta peningkatan kesadaran menjalankan pola hidup sehat, Dokter Zuhro optimistis upaya eliminasi TBC dapat berjalan sesuai target dan mewujudkan Surabaya bebas TBC pada tahun 2030. (Andra Jatmiko)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.