Warga Tambak Wedi dari 56 RT kompak bersatu menolak mutasi Lurah Muhammad Yusufian dan mendesak Wali Kota Eri Cahyadi membatalkan keputusannya. (Foto: Andra Jatmiko/kempalan.com)
SURABAYA-KEMPALAN: Kebijakan Pemerintah Kota Surabaya yang memutasi Lurah Tambak Wedi Muhammad Yusufian pascaviralnya dugaan pungutan liar (pungli) di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Tambak Wedi, memunculkan reaksi keras dari masyarakat setempat. Sejumlah tokoh masyarakat bersama pengurus RT, RW, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), dan unsur kepemudaan menyatakan penolakan terhadap keputusan tersebut.
Sebagai bentuk sikap bersama, para perwakilan warga menggelar rapat luar biasa yang diikuti delegasi dari RW 01 hingga RW 04 yang membawahi 56 RT, Kamis (9/7). Forum tersebut menghasilkan kesepakatan untuk menyampaikan aspirasi kepada Wali Kota Surabaya agar membatalkan mutasi Muhammad Yusufian dan mengembalikannya sebagai Lurah Tambak Wedi.
Ketua RW 01 Tambak Wedi Achmad Sholeh mengatakan, keputusan mutasi itu datang secara tiba-tiba dan menimbulkan kekecewaan di tengah masyarakat. Menurutnya, sosok Muhammad Yusufian selama ini dikenal dekat dengan warga serta cepat merespons berbagai persoalan yang muncul di lingkungan kelurahan.
“Kami sangat kecewa dan sedih. Mutasi ini membuat syok seluruh elemen masyarakat di Tambak Wedi,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua RW 03 Ade Sugiarto menilai kepemimpinan Muhammad Yusufian telah memberikan perubahan positif bagi wilayahnya. Karena itu, seluruh peserta rapat sepakat meminta Pemerintah Kota Surabaya mempertimbangkan kembali keputusan mutasi tersebut.
Menurut Ade, masyarakat telah merasakan berbagai program yang dinilai membawa manfaat langsung bagi warga. Ia menyebut Muhammad Yusufian merupakan pemimpin yang memahami kondisi masyarakat serta memiliki berbagai gagasan untuk mendorong kemajuan Kelurahan Tambak Wedi.
“Kami sudah merasakan angin segar di bawah kepemimpinan Pak Fian. Beliau adalah pemimpin yang memahami kondisi warganya dan memiliki gagasan yang cemerlang untuk kemajuan Tambak Wedi,” katanya.
Salah satu program yang menjadi perhatian warga adalah Kopasga (Ngopi Bareng Warga). Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap bulan dengan sistem bergilir di masing-masing RW sebagai wadah komunikasi langsung antara pemerintah kelurahan dan masyarakat.
Melalui forum itu, lurah bersama jajaran perangkat kelurahan turun langsung menemui warga untuk mendengarkan berbagai aspirasi, menerima keluhan, sekaligus berdiskusi mencari solusi terhadap persoalan lingkungan. Dialog bahkan kerap berlangsung hingga malam hari agar seluruh masukan masyarakat dapat ditampung.
Dalam rapat tersebut, masyarakat juga menegaskan bahwa pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan publik semestinya menjadikan aspirasi warga sebagai salah satu pertimbangan dalam menetapkan kebijakan, termasuk terkait mutasi pejabat di tingkat kelurahan.
Ade menegaskan seluruh elemen masyarakat kini telah menyatukan sikap dan berharap Wali Kota Surabaya bersedia mendengar suara warga Tambak Wedi.
“Kami berkumpul di sini menyatukan suara untuk meminta Bapak Wali Kota Surabaya mengabulkan aspirasi kami. Mencari pemimpin seperti Pak Fian bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, sangat sulit,” tegasnya. (Andra Jatmiko)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi