Kamis, 21 Mei 2026, pukul : 02:27 WIB
Surabaya
--°C

DLH Surabaya Beri Bonus Rp 200 Ribu Bagi Pelapor Pembuang Sampah Sembarangan

Kepala DLH Surabaya Dedik Irianto.

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya terus berinovasi dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan. Kali ini, Pemkot Surabaya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memberikan bonus sebesar Rp200 ribu bagi warga yang berhasil merekam dan melaporkan aksi pembuangan sampah sembarangan.

Kepala DLH Surabaya Dedik Irianto menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, khususnya sungai di Kota Pahlawan.

“Kalau dengan mereka merekam dan diberi apresiasi sebagai bonus, mungkin masyarakat akan lebih giat lagi dalam menjaga lingkungan dan saling mengingatkan satu sama lain,” terang Dedik, Jumat (10/7).

Dedik memaparkan bahwa mekanisme pelaporan adalah warga cukup mengirimkan video rekaman aksi buang sampah sembarangan ke pihak kecamatan. Nantinya, video tersebut akan diteruskan ke tim yustisi DLH yang memiliki grup khusus dengan para camat untuk proses tracking.”Videonya dikirimin saja. Kalau warga ya ke kecamatan. Saya dengan camat kan ada grup DLH bersama bisa,” terang Dedik.

Namun, tidak semua laporan akan langsung berujung pada bonus. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, rekaman  video harus jelas dan memungkinkan identifikasi pelaku. Jika pelaku menggunakan kendaraan, plat nomor kendaraan harus terlihat.

Selanjutnya, setelah pelaku tertangkap, tim yustisi DLH akan menindaklanjuti laporan dengan mencari pelaku berdasarkan bukti video. “Ini yang penting. Bonus Rp200 ribu baru akan cair jika pelaku dikenakan denda yustisi sebesar Rp 300 ribu atau lebih. Kenapa begitu? untuk mengantisipasi potensi kecurangan di mana denda yang dibayar pelaku lebih kecil dari bonus yang diterima pelapor,” ungkap Dedik.

Selain itu, ungkap Dedik, aturan tersebut ditetapkan untuk mencegah adanya skenario pura-pura buang sampah sembarangan. “Kalau sampahnya sedikit dendanya cuma Rp75.000, bonusnya Rp200.000 ya tidak bisa,” tegas Dedik.

Mantan Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya itu menegaskan, program ini berlaku untuk semua jenis pembuangan sampah sembarangan, tidak hanya di sungai. Denda yang dikenakan mulai Rp 75 ribu hingga Rp 50 juta tergantung seberapa besar pelanggaran itu dilakukan.

Meskipun Surabaya secara keseluruhan kini sangat bersih. Dedik mengakui beberapa titik masih menjadi perhatian. Salah satunya, Sungai Arimbi yang merupakan sungai sekunder dari pemukiman penduduk dan mengalir ke Pegirian, seringkali menjadi tempat pembuangan sampah. “Ada beberapa tempat yang menjadi perhatian kami dan masih memerlukan tindakan berkelanjutan untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan,” imbuhnya.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi DLH termasuk warga yang masih membuang sampah sembarangan di malam hari. Tim yustisi bahkan harus “nyanggong” (menunggu) di malam hari untuk menangkap pelanggar. “Setiap hari, tim kami berhasil menindak sekitar lima hingga belasan pelanggar. Tapi kalau petugas DLH sendiri tidak mendapatkan bonus karena itu adalah bagian dari tugas mereka,” kata Dedik.

Selain bonus bagi pelapor, upaya pencegahan lain yang dilakukan DLH adalah pemasangan papan imbauan di lokasi-lokasi yang sudah dibersihkan. Namun, Dedik menyayangkan, papan imbauan tersebut terkadang dicabut dan hilang.

“Harapannya tentu dengan adanya bonus ini, masyarakat bisa lebih disiplin dan tidak membuang sampah sembarangan. Saling mengingatkanlah agar menjaga kebersihan,” terangnya.

Untuk diketahui, hingga saat ini, sekitar 10 orang warga Surabaya sudah mendapatkan bonus Rp200 ribu ini sejak program diluncurkan sekitar 3 atau 4 bulan lalu. Pelaporan dapat dilakukan melalui kelurahan, kecamatan atau langsung ke tim yustisi DLH untuk diproses. (Dwi Arifin)

Gubernur Khofifah Beri Apresiasi, 105 Siswa “ADEM” Papua  di Jatim Tembus PTN

MALANG-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas prestasi para pelajar asal Papua penerima Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) yang menempuh pendidikan di Jawa Timur.

Dari 206 siswa-siswi ADEM alumni tahun 2024-2025 , sebanyak 105 orang berhasil lolos seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di seluruh Indonesia melalui jalur SNBP dan SNBT 2025. Ini menandakan bahwa program ADEM ini memberikan dampak  signifikan untuk peningkatan kualitas Sumberdaya Manusia (SDM), khususnya selama mereka bersekolah di Jawa Timur.

Apresiasi ini disampaikan Gubernur Khofifah saat menyambut kedatangan 145 siswa-siswi baru Program ADEM Tahun 2025 asal Papua dalam acara serah terima Siswa Program ADEM Wilayah Papua di Hotel Aria Gajayana, Kota Malang, Jumat (11/7). Para siswa akan melanjutkan pendidikan di 36 SMA dan SMK tersebar di Jawa Timur.

“Kami bersyukur prestasi ini karena terdapat proses, pembinaan, pendampingan, penguatan  dari guru dan kepala sekolah di sekolah-sekolah yang diamanatkan untuk membina mereka,” kata Khofifah.

“Para siswa siswi ADEM adalah siswa luar biasa. Semangat tetap giat belajar dan melanjutkan mimpi seperti kakak kakaknya terdahulu yang telah berkuliah di Universitas hebat di Indonesia,” lanjutnya.

Menurutnya, Program ADEM ini merupakan bentuk perhatian serius dari pemerintah terhadap peningkatan kualitas pendidikan yang bermutu dan merata bagi seluruh anak bangsa, sehingga bisa melahirkan prestasi yang membanggakan.

Untuk tahun ini siswa penerima Program ADEM berasal dari berbagai daerah di enam provinsi di Papua, yaitu Sentani sebanyak 17 siswa, Sorong sebanyak 25 siswa, Manokwari sebanyak 13 siswa, Merauke sebanyak 13 siswa, Nabire sebanyak 19 siswa, Timika sebanyak 11, dan Wamena sebanyak 40 siswa.

“Selamat menempuh pendidikan di SMA dan SMK di Jawa Timur.  Saya adalah mamak  kalian  selama belajar di Jawa Timur ,” ujar Khofifah

Gubernur Khofifah menyebut, pendidikan menjadi pintu masuk dalam menuju kesuksesan di masa mendatang bagi anak anak Papua. Menurutnya, tidak ada jalan menuju kesuksesan selain belajar dengan keras dan disiplin.

“Anak-anakku bisa mencapai kesuksesan  diantaranya yang saat ini menjadi Menteri HAM Natalius Pigai, Wamendagri sekaligus perempuan pertama dari Tanah Papua yang menjadi Pj Gubernur Papua Tengah. Dr. Ribka Haluk, S.Sos, MM.

Kemudian Prof. Dra. Yohana Yembise, M.Sc, Ph.D, guru besar perempuan pertama dari Tanah Papua, dan pernah menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Khofifah berpesan dan memotivasi agar anak anak Papua agar  bercita cita setinggi langit dan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya.

“Anak-anakku, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang,” pesannya.

Sementara itu, Subkoordinator Beasiswa Puslapdik Kemendikdasmen Erwin Sahala Pangaloan mengungkapkan serah terima ini merupakan wujud nyata komitmen dalam mengakselerasi pendidikan di seluruh Indonesia. Nantinya, sebanyak 145 pelajar akan tersebar di 38 kabupaten/kota di seluruh Jatim.

Erwin berpesan kepada siswa siswi untuk memanfaatkan kesempatan dengan sebaik baiknya dengan giat belajar. Juga menyerap ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin.

“Manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik baiknya, serap ilmu dan pengalaman sebanyak banyaknya dari berbagai latar belakang budaya. Pendidikan adalah kunci membuka gerbang masa depan lebih baik,” harapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Prov. Jatim Aries Agung Paewai melaporkan, maksud dari acara serah terima program Adem ini yakni upaya pemerintah dalam pemerataan kualitas pendidikan khususnya bagi anak anak papua dan papua barat terbaik serta daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal).

Tujuannya lanjut Aries adalah pemerataan kualitas pendidikan, memupuk mental dan karakter sumber daya unggul generasi asal Papua serta akulturasi keragaman budaya antar papua dengan Jawa dan Bali.

Aries menambahkan, sebelum kegiatan serah terima siswa dilaksanakan para siswa terlebih dahulu mengikuti wawasan kebangsaan dan pembinaan karakter di Rindam Brawijaya Malang selama empat hari sejak tanggal 7 – 11 Juli 2025.

Selanjutnya, siswa mengikuti proses serah terima dari Pemprov Jatim kepada pihak sekolah selama dua hari yakni tanggal 11 – 12 Juli 2025.

“Allhamdulillah prestasi 105 ADEM lolos SNBP dan SNBT Tahun 2025. Mari kita jaga komitmen dan semangat agar ADEM tidak hanya menjadi program serah terima siswa namun juga gerbang bagi masa depan yang lebih cerah bagi anak anak papua,” sebutnya.

Nyanyikan Lagu Tanah Papua dan Lagu Bendera

Terdapat pemandangan menarik ketika Gubernur Khofifah mengajak seluruh pelajar Papua untuk bernyanyi bersama yakni Lagu Tanah Papua dan Lagu Bendera sembari mengibarkan bendera Merah Putih menjelang Kemerdekaan RI. Kebersamaan tersebut dimanfaatkan oleh seluruh siswa dengan mengangkat Bendera Merah Putih.

“Mari kita kibarkan Bendera Merah Putih setinggi tingginya di tanah papua baik yang di pelosok hingga ke tanah papua wilayah pegunungan menyambut Kemerdekaan RI pada Bulan Agustus mendatang,” ajaknya.

Dalam kesempatan tersebut Khofifah bersama Kadindik Jatim juga menyerahkan penghargaan kepada  pelajar berprestasi bidang akademik maupun non akademik.(Dwi Arifin)

Wali Kota Eri Dorong Guru dan Pemkot Duduk Bersama Susun Program

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi didampingi Bunda PaUD Surabaya Rini Indriyani.

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya menggelar pengukuhan pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Surabaya masa bakti 2025-2030 di Graha Sawunggaling, Jumat (11/7). Dalam pengukuhan ini, PGRI Kota Surabaya juga memberikan penganugerahan Ibunda Guru Kota Surabaya kepada Bunda PAUD Surabaya Rini Indriyani. 

Pengukuhan Pengurus PGRI tersebut dihadiri dan disaksikan secara langsung oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Ketua PGRI Jawa Timur Djoko Adi Walujo, dan Ketua PGRI Surabaya Agnes Warsiati. Tidak hanya itu, dalam kesempatan ini juga dihadiri oleh Asisten Administrasi Umum Pemkot Surabaya, Anna Fajriatin, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Yusuf Masruh, seluruh anggota PGRI Surabaya.

Di kesempatan ini, Wali Kota Eri Cahyadi mengucapkan selamat atas terpilihnya kembali Agnes Warsiati sebagai Ketua PGRI Kota Surabaya masa bakti 2025-2030. Ia juga mengapresiasi kerja keras Agnes Warsiati selama menjadi Ketua PGRI masa bakti 2021-2025.

Menurut Eri Cahyadi selama lima tahun ke belakang para guru di Surabaya bisa bersatu menjadikan pendidikan Kota Pahlawan lebih baik lagi. 

Pengukuhan pengurus PGRI Kota Surabaya masa bakti 2025-2030 di Graha Sawunggaling, Jumat (11/7).

“Matur nuwun dengan semangatnya jenengan, PGRI Surabaya, para guru bisa bersatu dan menjadi luar luar biasa. Alhamdulillah hari ini adalah pengukuhan PGRI dengan Bu Agnes terpilih kembali dan dengan seluruh jajaran. Saya ucapkan selamat berkah untuk Kota Surabaya,” kata Eri Cahyadi.

Wali Kota Surabaya yang akrab disapa Cak Eri Cahyadi itu meminta kepada Kepala Dispendik Yusuf Masruh, setelah pengukuhan pengurus PGRI, ada pertemuan guru-guru dua bulan sekali di Surabaya. Mulai dari perwakilan guru SD, SMP, dan SMA. Tujuannya, untuk berdiskusi bersama Pemkot Surabaya membuat program pendidikan yang dapat disepakati bersama-sama. 

“Karena bukan waktunya lagi pemerintah kota itu membuat program, tapi tidak pernah disampaikan, tiba-tiba guru harus berjalan (menjalan program). Yang saya harapkan di tahun 2026 nanti dan seterusnya adalah, kita duduk bersama bagaimana membuat program itu. Program yang bisa diterapkan sehingga kota itu menjadi sejahtera dan guru-guru ini juga bisa sejahtera hidupnya. Karena guru itu tanpa tanda jasa,” ujarnya. 

Selain itu, adanya pertemuan dua bulan sekali itu juga diharapkan, guru SD, SMP, dan SMA bisa menyelaraskan program-program pendidikan yang ada di Kota Surabaya. “Jadi agar tidak berbenturan dengan aturan, karena guru yang ada di SMA dan SMK kan ada di tempatnya (kewenangan) provinsi. Termasuk dengan perguruan tinggi yang ada di Surabaya,” harapnya. 

Dalam kesempatan ini, Ketua PGRI Surabaya Agnes Warsiati mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Wali Kota Eri Cahyadi yang selalu memberikan dukungan kepada guru di Kota Pahlawan. Tidak hanya itu, dalam kesempatan ini, Agnes juga mengucapkan selamat atas penganugerahan Ibunda Guru Kota Surabaya yang diberikan kepada Bunda PAUD Rini Indriyani. 

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Walikota Surabaya yang selalu memberikan dukungan, dan terima kasih kepada Ibu Rini yang menerima penganugerahan Ibunda Guru Surabaya,” kata Agnes. 

Di momen ini, Agnes mengajak seluruh guru di Kota Surabaya untuk terus menjaga integritas dan solidaritas ke depannya. Menurutnya, dalam lima tahun ke depan akan fokus dan memperjuangkan undang-undang perlindungan guru yang saat ini sedang diusulkan ke kementerian. “Supaya seluruh guru terlindungi saat menjalankan tugas. Apalagi Surabaya sudah ramah anak,” harapnya. 

Dikatakan, undang-undang perlindungan guru sangat diperlukan. Mengingat hingga saat ini masih ada kasus kriminalisasi yang dialami oleh guru. “Apalagi peran guru dalam mencerdaskan generasi muda sangat vital,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Ambisi Dan Jebakan

KEMPALAN: Novel The Financier karya Theodore Dreiser (1912), mengajak pembaca seakan masuk ke lorong waktu menuju dunia Amerika abad ke-19

Sebuah masa ketika industri keuangan dan kapitalisme sedang bertumbuh liar seperti hutan tak bertuan.

Namun yang paling menarik dari novel ini bukan sekadar setting historisnya, melainkan melihat tokoh sentralnya, Frank Cowperwood, melihat tokoh sentralnya kita seperti menggunakan kaca pembesar untuk melihat sebuah karakter tentang ambisi, kecerdikan, dan rapuhnya integritas karakter manusia di tengah gelombang uang dan kekuasaan.

Frank Cowperwood adalah tipe manusia yang hanya muncul di masa-masa transisi, ketika dunia lama runtuh dan dunia baru belum sepenuhnya terbentuk.

Ia lahir dari keluarga kelas menengah di Philadelphia, namun sejak muda, ia menunjukkan kecerdasan finansial yang luar biasa.

Di usia remaja, ia sudah mampu membaca pasar dan menaruh uang pada tempat-tempat yang tepat.

Cowperwood tidak hanya pandai berhitung, tapi juga punya naluri kuat terhadap psikologi manusia, kekuasaan, dan kelemahan dalam sistem hukum serta sosial.

Modal itu cukup untuk membawanya ke tangga-tangga awal kesuksesan sebagai pialang dan pengusaha muda yang disegani.

Namun seperti halnya kisah-kisah besar dalam sejarah manusia, kesuksesan jarang datang tanpa harga.

Dalam novel ini, Dreiser secara perlahan membangun ketegangan antara ambisi pribadi Cowperwood dan realitas hukum serta moral yang ia langgar.

Ketika Cowperwood mulai mengelola dana publik—uang milik kota yang dipercayakan padanya—ia tergoda untuk menggunakannya demi menyelamatkan investasinya saat pasar jatuh.

Meskipun ia bermaksud mengembalikan dana itu, tindakan tersebut tetap ilegal. Dan seperti halnya dunia nyata, niat baik tidak selalu menyelamatkan seseorang dari dampak buruk.

Dreiser menggambarkan semuanya dengan gaya realisme telanjang. Ia tidak menyelubungi tokohnya dengan moralitas hitam-putih.

Cowperwood bukan pahlawan, bukan pula penjahat mutlak. Ia adalah manusia modern: rasional, penuh hasrat, dan selalu berada dalam tarik-menarik antara prinsip dan peluang.

Justru di situlah letak kekuatan novel ini. Tidak ada yang terlalu heroik atau tragis secara berlebihan. Semuanya disajikan apa adanya, membuat pembaca terpaksa berhadapan dengan pertanyaan moral yang tidak mudah dijawab:

Apakah seseorang salah jika hanya bermain sesuai aturan dunia yang sudah bengkok sejak awal?

Yang juga mencolok dalam The Financier adalah bagaimana sistem sosial dan politik turut berperan dalam kejatuhan Cowperwood.

Ketika skandal keuangan mencuat dan Cowperwood diadili, para politisi yang sebelumnya memanfaatkan jasanya justru meninggalkannya.

Ia dijadikan kambing hitam untuk menutupi dosa-dosa kolektif. Publik yang dulu mengaguminya, berubah menjadi hakim moral yang gemar menghakimi dari kejauhan.

Ironi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat seringkali haus akan simbol kejatuhan, bukan demi keadilan, tapi demi kenyamanan psikologis: bahwa yang tinggi bisa tumbang, dan bahwa uang tidak bisa menyelamatkan segalanya.

Namun Cowperwood bukan tokoh yang menyerah begitu saja. Bahkan dalam penjara, ia terus memikirkan strategi, membangun relasi, dan merancang langkah untuk bangkit kembali.

Di sini, Dreiser menunjukkan bahwa kekuatan tokohnya bukan hanya pada kecerdasan atau harta, tapi pada daya hidup yang nyaris tak bisa dipadamkan.

Cowperwood adalah lambang dari kapitalisme itu sendiri, suatu saat jatuh, lalu bangkit, menyusun ulang strategi, dan terus bergerak meskipun moralitasnya sudah koyak.

Kisah dalam Novel The Financier  terasa tetap relevan hingga hari ini, karena dunia yang digambarkan di dalamnya tidak jauh berbeda dengan dunia kita sekarang.

Skandal keuangan, penyalahgunaan wewenang, manipulasi data, dan tokoh-tokoh sukses yang tersandung hukum semuanya masih menghiasi berita utama saat kini

Cowperwood mungkin hidup di abad ke-19, tapi wajahnya bisa kita temui dalam CEO yang dituduh memalsukan laporan, dalam politikus yang menjual janji demi saham, atau dalam pengusaha yang menghalalkan segala cara demi mempertahankan citra.

Dreiser tidak menawarkan jawaban. Ia tidak menyuruh kita membenci Cowperwood, juga tidak meminta kita mengaguminya.

Ia hanya menyodorkan realitas: bahwa sistem ekonomi dan politik, sesering apapun mengusung jargon moral dan keadilan, selalu membuka ruang bagi tipu daya jika seseorang cukup cerdas untuk memanfaatkannya.

Dan bahwa seringkali, kejatuhan seseorang bukanlah hasil dari satu kesalahan besar, melainkan akumulasi dari serangkaian kompromi kecil yang dibiarkan terlalu lama.

Sebagai karya sastra, The Financier bukan bacaan yang ringan. Tapi justru karena itulah ia penting.

Ini adalah novel yang mengajak pembacanya berpikir ulang tentang apa arti sukses, sejauh mana ambisi bisa dibenarkan, dan seberapa besar peran moral di tengah sistem yang tidak netral.

Cowperwood bukan sekadar tokoh fiksi ia adalah refleksi dari bagian terdalam jiwa modern kita. Dia cerdas, penuh strategi, dan seringkali bersedia menutup mata pada nilai-nilai ketika peluang yang besar mengintip dari balik celah.

Lebih dari seabad umur novel ini setelah terbit, Tapi cerita dalam The Financier ini masih terasa menggugah dan mengganggu.

Novel ini tak hanya berbicara tentang masa lalu, tapi juga tentang sekarang dan tentang masa depan yang mungkin tak jauh berbeda.

Oleh Bambang Eko Mei

Menghadapi Chelsea di Final Piala Dunia Antarklub, Begini Gameplan Luis Enrique

EAST RUTHERFORD-KEMPALAN: Paris Saint-Germain (PSG) meneruskan suksesnya yang selalu melangkah ke babak final semua ajang musim ini. Kali ini dalam ajang Piala Dunia Antarklub 2025.Dalam semifinal yang berlangsung di MetLife Stadium, East Rutherford, Kamis dini hari WIB (10/7), PSG menghancurkan Real Madrid dengan kemenangan empat gol tanpa balas.

Gelandang PSG Fabian Ruiz yang mencetak dua dari empat gol kemenangan Les Parisiens (julukan PSG) malam itu dengan golnya masing-masing pada menit keenam dan ke-24.

Sementara, dua gol Marquinhos dkk lainnya diciptakan oleh striker Ousmane Dembele pada menit kesembilan dan diakhiri dengan gol dari Goncalo Ramos pada menit ke-87.

BACA JUGA: Ditinggal Mbappe, Pelatih PSG: Tidak Masalah

Entraineur PSG Luis Enrique sudah menyiapkan gameplan untuk menghadapi The Blues (julukan Chelsea) dalam final Piala Dunia Antarklub di MetLife Stadium, East Rutherford, Senin dini hari nanti WIB (14/7).

“Selalu sulit untuk mengetahui hal itu sebelum pertandingan karena Anda harus menganalisis setiap momen. Namun biasanya, kami adalah tim yang dominan, yang suka menguasai bola,” sebut Lucho (sapaan akrab Enrique) kepada DAZN.

“Sulit bagi lawan untuk melakukan hal yang sama. Aku pikir kami memaksakan permainan kami sejak awal, dan dalam sepuluh menit pertama, kami sedikit beruntung. Aku pikir kami pantas menang,” analisis pelatih berkebangsaan Spanyol itu.

PSG akan tetap bermain menghibur dengan gaya permainan menyerangnya. Sama seperti ketika mereka kemarin mampu menghancurkan Real sebagai raksasa Spanyol dengan kemenangan empat gol.

“Sebagai pelatih, tujuanku sebagai adalah agar pemainku bersenang-senang, agar fans kami menikmati diri mereka sendiri dan melihat tim mereka bermain sepak bola. Aku pikir kami menjalani musim yang hebat,” tambahnya. (YMP)

Dari Notary Movie Club, Jadi Law Movie Club, Komunitas Pecinta Nonton Film Notaris dan Pengacara Mengembangkan Jejaringnya

SURABAYA-KEMPALAN: Momen nonton bareng premier film “Superman (2025)”, pada Rabu malam lalu (9/7) terasa spesial bagi Ami Raditya dan Reza Zarkasyi. Karena, acara yang berlangsung di bioskop Tunjungan Plaza XXI, Surabaya, itu seperti balik ke momen tiga tahun lalu.

Ami dan Reza merupakan pendiri komunitas Notary Movie Club, yang jadi wadah untuk notaris penghobi nonton film bioskop. Tiga tahun silam, mereka menginisiasi berdirinya komunitas tersebut.

Anggota Law Movie Club sebelum nobar "Superman (2025)" bersama di bioskop Tunjungan Plaza XXI, Surabaya, Rabu (9/7). (Foto: Istimewa)
Anggota Law Movie Club sebelum nobar “Superman (2025)” bersama di bioskop Tunjungan Plaza XXI, Surabaya, Rabu (9/7). (Foto: Istimewa)

Tepatnya saat nonton bareng pemutaran perdana film “Avatar: The Way of Water”. Saat itu, sudah ada 50-an anggota Notary Movie Club yang mengikutinya. Nah, berselang tiga tahun, mereka menjadikan pemutaran perdana film “Superman (2025)” sebagai momen perubahan nama komunitas tersebut.

Dari Notary Movie Club, berubah menjadi Law Movie Club. Ami menuturkan perubahan nama ini dimaksudkan untuk memperluas jaringan tidak hanya di kalangan notaris saja. Tapi juga di kalangan lawyer, akademisi, dan mahasiswa bisa bergabung.

BACA JUGA: Serunya Lari Bareng Notary Runners Indonesia (NRI) Jatim, Habis Berkeringat, Lalu Ngopi-Ngopi Sambil Berdiskusi

’’Kami ingin movie club ini jadi wadah untuk networking. Kalau dulu bertemunya pada saat acara-acara formal seperti seminar atau acara kantor yang cenderung kaku, di movie club ini diharapkan bertemunya jadi lebih santai,’’ sebut Ami.

Karenanya, aktivitas Law Movie Club lebih sering dilakukan selepas rutinitas kerja, atau after office. ’’Nonton film ini hiburan yang paling mudah. Kita hanya duduk, nonton dua jam, melepas penat sepulang kerja,’’ lanjut notaris yang berkantor di Gresik itu.

Dalam membangun jejaring, anggota movie club ini melakukannya saat saling bertemu sebelum nonton. Terkadang, mereka pun melanjutkan pembahasan networking tersebut setelah acara nonton selesai.

Biasanya mereka memilih aktivitasnya saat hari Rabu atau tengah pekan. Tentunya saat tengah pekan lebih sering ada film-film baru yang rilis di bioskop. Minimal, sebulan sekali mereka mengagendakannya. Terlebih jika ada film-film yang baru dirilis.

Saat ini, jumlah anggotanya sudah mencapai 70 orang. Rata-rata anggotanya berdomisili di Surabaya Raya. Tapi, sering juga ada notaris atau pengacara yang dari luar Surabaya berpartisipasi. Mereka juga pernah nonton bareng di Jakarta.

Ami menuturkan, Law Movie Club ini jadi satu-satunya wadah resmi untuk notaris dan pengacara penghobi nonton film bioskop di Indonesia. Dia mengharap, ke depan akan lebih banyak komunitas serupa yang muncul dan bersinergi bersama-sama. (YMP)

Jawa Pos Adalah Monster

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

KEMPALAN: Pada awal 1980-an Jawa Pos adalah koran dengan oplah ‘’sak becak’’. Maksudnya, jumlah koran yang dicetak setiap hari cukup diangkut dengan satu becak. Kalau mau menyebut eksemplar mungkin kisaran 3 ribu sampai 5 ribu eksemplar. Kemudian Tempo membeli saham Jawa Pos, dan sejarah tercipta.

Ibarat hidup enggan mati tak mau. Mungkin seperti mayat hidup. Tapi, dalam 20 tahun Jawa Pos menjelma menjadi monster raksasa yang menggentarkan dunia pers Indonesia. Adalah Dahlan Iskan, yang ketika itu kepala biro Tempo Jatim, yang menyulap JP dari mayat hidup menjadi monster raksasa.

Ceritanya rada mirip dengan novel sci-fi Mary Shelly’s Frankenstein, Terbit pada 1818 tapi sampai sekarang masih banyak dibaca orang. Seorang anak muda bernama Victor Frankenstein yang cerdas, visioner, dan ambisius, ingin menciptakan makhluk yang dikumpulkan dari berbagai potongan tubuh mayat yang dikombinasikan dengan berbagai perlatan dari kayu, besi, dan kabel.

Frankestein menciptakan nyawa dari aliran listrik yang disambungkan ke tubuh sang makhluk. Lalu lahirlah makhluk raksasa berbentuk monster yang mempunyai kekuatan yang hebat. Sang monster lepas kendali memporakporandakan kota. Jawa Pos adalah monster raksasa itu. Dahlan Iskan ialah Frankestein yang menciptakan monster raksasa itu. Sekarang, si monster mengancam hidup Dahlan.

Dahlan Iskan adalah Jawa Pos, dan Jawa Pos adalah Dahlan Iskan. Begitulah pandangan publik selama ini. Tentu banyak yang terkejut ketika muncul berita Dahlan menggugat Jawa Pos, dan minta supaya diberi akses atas dokumen-dokumen penting yang dibutuhkannya.

Lebih mengejutkan lagi ketika dua hari yang lalu (Selasa 7/7) Dahlan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penggelapan dan pemalsuan surat. Adalah sang monster Jawa Pos yang melaporkan Dahlan ke polisi. Konflik yang semula tersembunyi sekarang meledak ke permukaan.

Dalam perspektif ekonomi politik media Jawa Pos menjadi monster raksasa setelah melewati tiga fase, yaitu komodifikasi, spasialisasi, dan strukturasi. Tiga fase itu bisa digambarkan sebagai ‘’Fase Kembang Jepun’’ periode 1980-1990. Fase spasialisasi adalah ‘’Fase Karah Agung’’, periode 1990-2000, dan fase strukturasi mewakili ‘’Fase Graha Pena’’, sampai sekarang.

Komodifikasi adalah proses perubahan dari barang yang berfungsi sosial menjadi barang komoditas yang bernilai komersial. Ada tiga jenis komodifikasi, yaitu komodifikasi konten, komodifikasi khalayak, dan komodifikasi tenaga kerja.

Komodifikasi konten berkaitan dengan konten media yang cocok dijual di pasaran karena sesuai dengan selera pasar. Komodifikasi khalayak berhubungan dengan rating yang didapat dari konten media. Rating itu kemudian dijual kepada pengiklan dengan imbalan finansial sesuai dengan jumlah khalayak yang menjadi pembaca dan pelanggan. Dahlan berhasil memformulasikan jurnalisme bertutur ala Tempo dengan selera orang Jawa Timur, dan Jawa Pos pun melesat bak meteor.

Komodifikasi tenaga kerja adalah proses para pekerja dalam memproduksi serta mendistribusikan produk media kepada khalayak. Dalam komodifikasi ini, tenaga dan pikiran para pekerja dimanfaatkan secara optimal, sekalipun beban kerjanya tidak sesuai dengan upah yang didapat. Kerja ekstra keras Dahlan selama bertahun-tahun membuatnya livernya rusak dan harus menjalani transplantasi.

Spasialisasi adalah proses transformasi batasan ruang dan waktu dalam kehidupan sosial. Spasialisasi adalah cara mengatasi hambatan ruang dan waktu dalam kehidupan sosial. Teknologi cetak jarak jauh yang dimiliki Jawa Pos pada dekade 1990-an memungkinkan proses spasialisasi dan membuat Jawa Pos berkembang ke seluruh Indonesia melalui JPNN (Jawa Pos News Network).

Fase strukturasi adalah proses penyeragaman ideologi secara terstruktur. Setelah Jawa Pos menjadi raksasa dengan mempunyai ratusan anak perusahaan di seluruh Indonesia terbentuklah strukturasi penyeragaman ideologi seluruh anak perusahaan Jawa Pos.

Strukturasi adalah hubungan agen sebagai pembentuk suatu struktur, dan struktur membentuk agen. Pada fase inilah Jawa Pos mempunyai pengaruh yang sangat besar kepada struktur kekuasaan. Pada fase inilah Dahlan Iskan menjadi direktur PLN, kemudian menteri BUMN.

Ketika menjabat sebagai direktur PLN itulah Dahlan mulai dikucilkan. Para pemegang saham Jawa Pos—orang-orang Tempo tempat Dahlan memulai karir jurnalistik—merasa bahwa saat itulah waktu yang tepat untuk menyingkirkan Dahlan.

Secara psikologis dan historis Dahlan tetaplah dianggap sebagai ‘’anak kemarin sore’’ oleh elite Tempo. Ia dipelihara karena dianggap sebagai angsa bertelur emas. Atau, meminjam istilah Deng Xiaoping, Dahlan ialah kucing yang pandai menangkap tikus. Tidak peduli kucing hitam atau putih, asal pintar menangkap tikus maka akan terus dipelihara.

Tempo ibarat ‘’kebo nyusu gudel’’ terhadap Dahlan. Dividen mengalir lancar setiap tahun. Ketika Tempo dibreidel oleh Orde Baru pada 1994 Jawa Pos memberi skoci penyelamat.

Tetapi, logika korporasi tidak mengenal sejarah, tidak mengakui keringat dan pengorbanan, serta abai terhadap jasa. Ketika Dahlan sudah tidak dibutuhkan lagi maka habis manis sepah dibuang. Logika korporasi mengatakan ‘’habis manis sepah ditelan’’ adalah logika tolol.

Perang terbuka ini juga merupakan ‘’perang putra mahkota’’. Ada tiga putra mahkota di Jawa Pos. Azrul Ananda dipersiapkan oleh Dahlan Iskan. Hidayat Jati dipersiapkan oleh Goenawan Mohammad, dan Maesa Samola menjadi pewaris Eric Samola.

Azrul Ananda sudah disingkirkan. Sekarang tinggal Hidayat Jati dan Maesa Samola yang menjadi penerus takhta. Hidayat Jati-lah yang sekarang menjadi penguasa. Mungkin dia punya skenario tersendiri terhadap Dahlan.

Saat ini sang monster terlihat sangat bernafsu untuk menghabisi Dahlan, dengan segala cara. Dalam kisah Mary Shelley, monster yang tak bisa dikendalikan itu memburu dan membunuh keluarga Frankenstein. Sang monster bahkan ingin membunuh Frankenstein. Kisah ditutup dengan kematian Frankenstein dan sang monster mati dengan cara ‘’mukso’’, menghilang tanpa bentuk.

Dahlan vs Jawa Pos tidak boleh menjadi versi baru Frankenstein vs monster. Bisa terjadi ‘’tiji tibeh’’, mati siji mati kabeh (mati satu, mati semua). Menang jadi arang, kalah jadi abu.

Dahlan Iskan adalah aset bangsa yang harus diselamatkan. (DAD)

Gubernur Khofifah Diperiksa KPK, Guru Besar Unair: Jadi Saksi Belum Tentu Terlibat

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

SURABAYA-KEMPALAN: Guru Besar Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Airlangga Prof Dr Nur Basuki Minarno SH M Hum turut berkomentar terkait ramainya pemberitaan pemanggilan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa oleh KPK.

Khofifah diketahui diperiksa KPK untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi dana hibah untuk kelompok masyarakat (pokmas) yang bersumber dari APBD Jawa Timur tahun anggaran 2019-2022.

Prof Basuki menilai pemanggilan Gubernur Khofifah adalah sesuatu yang lumrah terutama karena kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

“Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah. Jadi kalau gubernur dimintai keterangan itu sangat wajar. Tapi yang perlu dicatat jikalau ada seseorang diperiksa sebagai saksi, belum tentu mereka terlibat,” tegas Prof Basuki pada media, Kamis (10/7).

Dikatakannya, KPK dalam melakukan penyidikan tentu perlu memperoleh keterangan dari banyak sumber. Mulai dari saksi, ahli, atau keterangan tersangka. Pemeriksaan saksi ini sangat penting karena saksi inilah pihak yang mengetahui, mendengar, atau mengalami sendiri peristiwa.

“Dan keterangan saksi itupun tidak berdiri sendiri karena nantinya akan dicocokkan dan dilihat apakah memiliki kesesuaian, berelevansi dengan data yang lain,” ujarnya.

Terlebih kasus ini konteksnya adalah dugaan korupsi dana hibah untuk kelompok masyarakat (pokmas) yang bersumber dari APBD Jawa Timur.

“Kalau gubernur tidak diperiksa ya akan menjadi aneh karena produknya pengeluaran anggaran kan pergub. Tapi kembali lagi yang ditekankan, tidak selalu yang diperiksa sebagai saksi adalah pihak yang terlibat dalam permufakatan jahat,” sambung Prof Basuki.

Lebih lanjut ia pun menegaskan kasus ini adalah kasus dana hibah yang bersumber dari APBD Jawa Timur tahun anggaran 2021–2022. Yang mana kasusnya adalah terkait hibah pokok-pokok pikiran (pokir).

Dana hibah ini dialokasikan untuk menindaklanjuti pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD yang didapat dari hasil reses atau rapat dengar pendapat DPRD yang menjadi bahan pertimbangan atau dasar dalam perencanaan pembangunan daerah.

Pokir menjadi mekanisme penyaluran dana APBD untuk mendukung kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, berdasarkan usulan yang disampaikan oleh anggota DPRD. 

“Prinsipnya dalam hukum pidana siapa yang melakukan kesalahan, maka dialah yang dimintai tanggung jawab pidana. Dalam pemberian hibah pasti melibatkan eksekutif dengan legislatif dalam perencanaan dan penganggaran sampai ditetapkannya APBD,” tegas Prof Basuki.

Sebagaimana diketahui, dalam kasus ini KPK telah menetapkan 21 orang tersangka. Sebanyak 21 tersangka itu terdiri dari 4 penerima suap dan 17 pemberi suap.

Para tersangka penerima suap itu terdiri dari tiga orang penyelenggara negara dan satu orang staf penyelenggara negara. Sementara, dari 17 tersangka pemberi suap, 15 di antaranya adalah pihak swasta, sedangkan dua orang lainnya adalah penyelenggara negara.

“Jika kemudian dalam pelaksanaannya ada pihak yang melakukan perbuatan melawan hukum atau penyalahgunaan wewenang yang mengakibatkan kerugian daerah, maka pihak tersebutlah yang harus bertanggung jawab,” urainya.

Hal senada juga disampaikan Pakar Hukum Administrasi Universitas Airlangga (Unair) Emanuel Sujatmoko. Ia optimistis masyarakat maupun pihak yang berwenang tak mudah tergiring opini dengan pernyataan saling serang yang dilontarkan para saksi dalam kasus ini.

“Karena APH dalam menentukan apakah itu peristiwa memuat unsur pidana atau tidak itu berdasarkan fakta-fakta hukum yang terdiri dari alat bukti dan barang bukti yang telah dikumpulkan oleh penyidik. Bukan atas penilaian ataupun asumsi dari seseorang atau saksi. Terlebih saksi yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu dalam perkara tersebut,” urai Emanuel.

Diketahui, KPK melakukan pemeriksaan pada Gubernur Khofifah sebagai saksi terkait kasus dugaan kasus dugaan korupsi dana hibah untuk kelompok masyarakat (pokmas) dari APBD Jawa Timur 2019-2022.

“Kami optimis Gubernur Khofifah menjalani pemeriksaan sebagai bentuk tanggung jawab, dan saya juga percaya seluruh pejabat di Jatim menaati dan menjalankan prosedur hukum yang ada. Termasuk dalam menghadapi pemeriksaan hukum atas kasus yang saat ini sedang berlangsung,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Dr. Suli Da’im Terpilih Sebagai Ketua IKA UM Surabaya, Siap Perkuat Jejaring Alumni

Dr. Suli Da’im, S.Pd., S.M., M.M (berkopiah)., resmi terpilih sebagai Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Surabaya (IKA UM Surabaya).

SURABAYA-KEMPALAN: Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur Dr. Suli Da’im, S.Pd., S.M., M.M., resmi terpilih sebagai Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Surabaya (IKA UM Surabaya).

Pemilihan tersebut dilakukan dalam forum Musyawarah IKA UM Surabaya yang digelar di Gedung At-Tauhid Tower, Kamis (10/7). Musyawarah ini dihadiri oleh perwakilan alumni lintas angkatan dan fakultas dari berbagai program studi.

Selain memilih ketua umum, forum juga menetapkan Khoirul Anam, M.Sos., yang saat ini menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan, Alumni, dan Inovasi UM Surabaya, sebagai sekretaris umum IKA UM Surabaya.

Dalam sambutannya, Dr. Suli Da’im menegaskan bahwa pembentukan IKA UM Surabaya merupakan langkah strategis untuk memperkuat hubungan antara alumni dan almamater.

“Kita ingin menjadikan alumni sebagai kekuatan penting untuk kemajuan kampus,” ujar Suli Da’im.

ia mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat akan digelar rapat terbatas untuk melengkapi struktur kepengurusan inti serta membahas program-program prioritas yang akan segera dijalankan.

“Insya Allah, dalam sepekan ke depan struktur organisasi sudah rampung,” tambahnya.

Suli menegaskan pentingnya kolaborasi dan sinergi antaralumni dalam mewujudkan visi besar organisasi.

Menurutnya, kekuatan IKA terletak pada keberagaman latar belakang anggotanya yang tersebar di berbagai bidang profesi, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga pemerintahan.

“Dengan potensi luar biasa ini, kami optimistis IKA UM Surabaya dapat berperan strategis dalam pengembangan kampus dan kontribusi sosial yang nyata di tengah masyarakat,” tegasnya.

Suli juga membuka ruang seluas-luasnya bagi para alumni untuk terlibat aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan program kerja ke depan.

Sementara itu, Wakil Rektor III UM Surabaya Dr. Nur Mukarromah S.K.M., M.Kes., yang turut hadir dalam forum tersebut, menyampaikan bahwa alumni memegang peran penting dalam pengembangan universitas, terutama dalam mendukung capaian akreditasi unggul.

“Banyak alumni kita yang saat ini menduduki posisi strategis di berbagai bidang. Ini menjadi indikator penting dalam penilaian akreditasi dan reputasi kampus,” ungkap Nur.

Ia juga menegaskan bahwa pihak kampus siap mendukung dan memfasilitasi kegiatan IKA UM Surabaya ke depan.

“Saya berharap akan ada pertemuan akbar alumni lintas program studi sebelum tahun ajaran baru 2025 dimulai,” harapnya.

Selain itu, Nur juga mendorong agar IKA UM Surabaya dapat dikembangkan hingga ke berbagai daerah, guna memperluas jejaring dan kontribusi alumni dalam berbagai sektor.

“Program kerja tahunan mulai disusun, seperti reuni akbar, pelatihan karier bagi mahasiswa, bakti sosial, job fair, hingga pemberdayaan masyarakat. Silakan digagas, dan kami siap memfasilitasi,” papar Sekretaris Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur itu.

Saat ini, Universitas Muhammadiyah Surabaya memiliki 9 fakultas dan 35 program studi, dengan ribuan alumni yang tersebar di berbagai wilayah dan berkiprah di beragam profesi.

Pembentukan IKA UM Surabaya diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi antara alumni dan institusi, serta menjadi motor penggerak kontribusi nyata bagi kemajuan universitas dan kemaslahatan masyarakat luas. (Dwi Arifin)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.