Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 01:19 WIB
Surabaya
--°C

Buka Puasa Satunya Kata Dengan Perbuatan

KEMPALAN : Berapa kali Anda bulan ini melakukan buka puasa bersama (bukber) di luar rumah, baik dengan komunitas masa kini maupun masa lalu? Baru satu kali kah, atau lebih dari itu?

Seandainya saya yang ditanya, maka akan saya jawab : dua kali — sejak ibadah Puasa tahun ini dimulai 17 hari sebelum tulisan ini saya buat.

Bukber di luar rumah yang pertama berlangsung di PWI Jatim pada 22 Februari, berkaitan dengan ulang tahun ke-71 Ferry Mirza Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Jawa Timur.

Yang kedua, di rumah M. Anis mantan jurnalis khusus investigasi Harian Surabaya Post, 7 Maret lalu.

Pada mulanya acara buka puasa di rumah peraih 3 kali Anugerah Prapanca simbol supremasi jurnalistik Jatim ini –yang sudah berlangsung belasan kali– boleh jadi digagas khusus untuk mantan wartawan Harian Surabaya Post.

Anis yang pernah menjadi anggota Lembaga Sensor Film, di Surabaya Post termasuk senior, meski di “level” itu masih ada 2-3 orang — pinjam istilahnya Dahlan Iskan: seniornya senior.

Nah, pertinyiinnyi : mengapa bukber tersebut untuk pertama kali dan seterusnya, dilakukan di rumah jurnalis idealis ini, hingga berlangsung belasan tahun? Kenapa bukan di rumah ‘seniornya senior’?

Saya menduga ini disebabkan faktor Anis yang pembawaannya identik sosok yang inisiator dilandasi sikap kreativitas — senantiasa membalut dirinya. Maklum Anis bukan jurnalis saja. Sebagai inisiator, boleh jadi ini aspek yang dimiliki M. Anis pada segi leadership.

Dari aspek kreativitas, barangkali lantaran Anis dikenal juga sebagai seorang seniman. Persisnya : penyair dan pelukis.

Manakala Anis saat ditanya jurnalis senior Pudji Leksono yang pemimpin umum koran Bidik yang sore itu persis duduk di sebelah kanan saya, menjawab : “sudah belasan kali bukber ini diselenggarakan”, maka sama persis dengan sudah belasan kali pula pada suatu hari setiap bulan Puasa, saya melihat sejumlah postingan teman-teman di Facebook tentang suasana bukber di rumah M. Anis. Timbul kekaguman saya atas inisiatif dan keikhlasan untuk mau repot itu.

Tentu saja dari postingan di Facebook jauh sebelum ini, foto-foto yang terposting yang saya amati, cermati, menampakkan : siapa-siapa saja yang hadir. Tentu saja saya hafal person-person jurnalis Surabaya Post yang hadir bukber di rumah sosok yang tindak-tanduknya senantiasa santun, sederhana, tetapi teguh dan tegas dalam memegang prinsip itu.

Tahun-tahun belakangan yang diposting tentang suasana bukber di rumah M. Anis dan yang terpampang di foto terlihat tidak saja para mantan jurnalis Surabaya Post, ada beberapa sosok di luar itu.

Saya menduga, pada mulanya jurnalis non-Surabaya Post tersebut diajak oleh mantan wartawan Surabaya Post untuk hadir pada bukber di rumah sosok yang senantiasa satunya kata dengan perbuatan itu. Misalnya sudah 2 tahun ini Toto Sonata mantan redaktur Harian Suara Indonesia tampak hadir di acara bukber tersebut. Itu saya lihat di foto yang terposting di Facebook.

Rupanya Toto diajak Ali Salim mantan redaktur senior Surabaya Post. Dua sosok ini belakangan aktif terlihat tandem, setidaknya dimulai saat mereka terlibat dalam penulisan buku biografi Imam Oetomo mantan Gubernur Jawa Timur, di mana Pak Ali Salim sebagai “project officier” penulisan buku biografi tersebut.

                  *

Dua-tiga tahun lalu, saya dekat dengan salah satu mantan redaktur Surabaya Post, lantaran sama-sama tergabung dalam sebuah komunitas literasi.

“Nanti kalau ada kumpul-kumpul bukber di rumah Cak Anis, sampeyan saya ajak.”

Mungkin lupa atau bisa jadi kesibukan sahabat saya ini pada proyek literasi, saya urung hadir di acara bukber tersebut.

Sekira sepuluh hari lalu, saya mendapat undangan digital bukber dari Pak Anis yang dilewatkan nomor WA.

Maka pada Sabtu sore yang cerah, bersama Achmad Zainuri sutradara teater senior, saya hadir di acara bukber yang dihelat di rumah estetik M. Anis

Sesaat memasuki salah satu kampung di kawasan Ampel yang terlihat bersih tersebut, saya coba resapi suasana sore itu, dilanjut: ngobrol dengan sejumlah teman jurnalis senior (Pudji Leksono, Tjuk Suwarsono, Toto Sonata) dan sejumlah seniman (Amir Kiah, Hamid Nabhan, Samdhuro), salat berjamaah di masjid kampung yang cekli namun eksotik, dan tentu saja menikmati jajanan dan ‘meal’ Timur Tengah yang benar-benar nendang!

Dan, tahun ini pada akhirnya sosok saya ikut terpajang di sebuah foto yang terposting di Facebook dalam rangkaian bukber lejen itu. (AM/Foto bersama selepas bukber di rumah M. Anis, hasil jepretan : Achmad Zainuri).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.