Surabaya – KEMPALAN: Halaman Rektorat Universitas Negeri Surabaya (UNESA) tak hanya dipenuhi aroma takjil menjelang berbuka. Ada yang berbeda dalam tradisi Ramadan di kampus “Satu Langkah di Depan” ini. Tak sekadar berbagi makanan, UNESA menyuguhkan “menu religi” segar berupa kultum tujuh menit yang konsisten membedah Ramadan dari berbagai sudut pandang pakar.
Kali ini, giliran Dekan Fakultas Psikologi (FPsi) UNESA, Dr. Diana Rahmasari, S.Si., M.Si., Psikolog, yang “membongkar” rahasia besar di balik praktik menahan lapar. Menurutnya, Ramadan adalah momentum emas yang berfungsi layaknya Gym bagi otak untuk memperkuat ketangguhan mental.
Melatih ‘Otot’ Kontrol Diri
Dalam paparannya, Dr. Diana menegaskan bahwa puasa adalah bentuk latihan regulasi diri yang komprehensif. “Seseorang belajar secara sadar untuk menunda dorongan, mengelola impuls, dan mengarahkan perilaku sesuai nilai luhur. Ini adalah latihan ‘otot’ kontrol diri agar semakin kuat dan stabil,” ungkapnya di hadapan para hadirin.
Secara psikologis, kemampuan mengendalikan rasa lapar beririsan langsung dengan emotional regulation—kecakapan mengelola perasaan agar tetap tenang meski di bawah tekanan.
Puasa dan Keajaiban Neuroscience

Menariknya, Dr. Diana membawa perspektif neuroscience ke tengah jamaah. Ia menjelaskan bahwa puasa mampu memicu neuroplasticity (kemampuan otak membentuk koneksi baru) dan neurogenesis.
“Proses ini memperkuat sinapsis atau koneksi antarsel saraf. Dampaknya? Konsentrasi meningkat dan otak menjadi lebih tangguh beradaptasi terhadap tekanan, atau yang kami sebut sebagai neurocompensation,” tambahnya.
Ramadan sebagai Ruang Mindfulness
Lebih lanjut, ia menyebut Ramadan sebagai sekolah terbaik untuk meningkatkan adversity tolerance—kemampuan bertahan dalam situasi tidak nyaman tanpa reaksi berlebihan. Melalui ibadah berjamaah dan tradisi berbagi, psychological well-being seseorang akan terkerek naik karena adanya rasa keterhubungan sosial yang kuat.
Komitmen Layanan Psikologi
Tak hanya memberikan edukasi teori, dalam kesempatan tersebut FPsi UNESA juga menyosialisasikan layanan Daycare (penitipan anak) berbasis psikologi perkembangan. Layanan ini dirancang profesional untuk mendukung tumbuh kembang anak, sejalan dengan visi UNESA dalam memperkuat ketahanan keluarga dan mental masyarakat.
Melalui pendekatan sains ini, UNESA sukses mengubah tradisi menunggu buka puasa menjadi ruang edukasi kelas dunia yang membuka mata: bahwa puasa bukan soal perut yang kosong, melainkan tentang otak yang sedang ditempa. (Ambari Taufiq/ M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi