Pryadi Satriana
Saya pernah masuk ‘waiting list’ utk kateterisasi jantung di RS Fatmawati. Menunggu berapa lama? DUA TAHUN SATU BULAN! Tetangga satu perumahan, ada yg blm kateter jantung pun keburu meninggal. Masalah: kekurangan dokter spesialis. Solusi Menkes: pendidikan dokter spesialis ‘berbasis rumah sakit’, di-‘follow’ Dahlan Iskan dg mengontak ‘sahabat Disway’ di Inggris. Dapat info: “Kami ada cuti dan libur. Liburnya lebih banyak agar dapat belajar sendiri.” Kalau ini diterapkan di Indonesia, maka lama ‘waiting list’ spt kasus saya bisa spt lama ‘waiting list’ ibadah haji! Logikanya sederhana: kekurangan dokter spesialis TIDAK BISA DIATASI DENGAN DOKTER SPESIALIS YANG ADA TANPA MENGORBANKAN PASIEN! Mengapa? Baik ‘university-based’ maupun ‘hospital-based’ DOKTER-DOKTER YANG TERLIBAT YA ITU-ITU SAJA! Solusinya: kirim dokter sebanyak-banyaknya utk mengambil spesialisasi di luar negeri dg ‘beasiswa penuh’ DAN datangkan dosen2 tamu sebanyak-banyaknya pula utk mengajar para calon dokter spesialis dg biaya negara, JANGAN BIAYA ITU DIBEBANKAN PADA CALON DOKTER SPESIALIS! Demikian usul saya. Salam. Rahayu.
Kang Sabarikhlas
Usai ambil raport Cucu, pulang naik motor suprabapak, eh..dijalan dipanggil Cak Dadi’ndukun pijet..”Kang, pean diundang Abah ya?, kata arek ojol, Abah ngajak jalan² perusuh disway ke gunung Kawi”… “Cak Di, sejak 4 Des. aku gak pegang hp, sbb hp cucuku kecebur bak air disekolahnya, mesinnya rusak, ganti mesin samsul a50 itu mahal, aku bokek jadi hpku dipakai cucu, penting untuk Ulangan PAS dan urusan Osis”… “sini Cak Di pinjem hpnya buat baca CHD”… A FEW MOMENTS LATER…. ” Lho Kang?..pean kok baca kebaya hijau?”.. “eh anu Cak Di, ini kliru ngeklik”… “Kang, pean dah gaksuka Abah ta?”.. “what, Abah who?…” …”ealaa Kang pean kayak suporter MU ditinggal Beckham, mesti ngomong ‘Beckham who’… bersambung…(niru mas Dur).
Jimmy Marta
Sahabat disway tinggi ganteng, saat ikut spesialis ditanyain kapan ngambil S three. Padahal sahabat anakku saat wisuda S1 dibawain bunga dg tulisan. “Wisuda baju hitam sudah, kapan wisuda baju merah?…
yea aina
Anggapan Abah tentang pendidikan/magang dokter spesialis: universitas bukan mesin uang, rumah sakit yang mesin uang. Mungkin itulah dasar pertimbangan penyusunan omnibuslaw kesehatan. Semua terkait uang/biaya. Coba kalau RUU omnitrailerlaw, kan bisa jadi mesin uang, baik rumah sakit juga universitas. Ternyata, ungkapan: sehat itu tidak murah, ada cocoknya juga. Mahal. Kalau sakit, hingga harus berurusan dengan rumah sakit, bersiaplah tersedot mesin uang. Karena para dokter spesialisnya masih lulusan universitas yang bukan mesin uang, tapi “butuh” menyedot biaya kuliah dari para calon dokter pendidikan spesialis. Pun searah dengan pesan mbahmoe: kalau mau sehat sempurna dengan ongkos murah amat, nantilah di surga sana.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi