Argentina tidak boleh gagal. Begitu kata teori konspirasi. Banyak kejanggalan yang menguntungkan Argentina. Messi menjadi kandidat top scorer dengan lima gol, empat di antaranya melalui penalti. Hanya satu gol yang dicetak melalui permainan hidup, itu pun hanya dari tim sekelas Australia.
Argentina terlalu mudah mendapatkan hadiah penalti, termasuk ketika menghadapi Kroasia. Messi terlalu dimanja, sehingga wasit yang membuatnya tidak senang pun harus dipulangkan lebih awal. Itulah serangkaian teori konspirasi yang berkembang.
Kapitalisme global mempunyai ikon-ikon. Bill Gates, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, Jack Ma, Elon Musk, adalah ikon kapitalisme global. Sepakbola global juga punya ikonnya sendiri. Linonel Messi, Cristiano Ronaldo, Neymar Jr, adalah ikon sepakbola global. Ronaldo telah redup, Neymar tersingkir, tinggal Messi satu-satunya yang tersisa. Ikon-ikon baru pun harus segera diciptakan.
BACA JUGA: The Icons
Namun dalam pertandingan pada hari Minggu, pertanyaan itu terjawab dengan tegas ketika Messi menegaskan keagungan sepak bolanya, berdiri di podium dengan ban kapten di lengannya dan piala emas terangkat di atas kepalanya.
Final kali ini seperti final milik Messi. Ini adalah kesempatan terbesar dan, mungkin, terakhir bagi La Pulga, Si Kutu Messi untuk mengangkat tropi Piala Dunia. Itulah satu-satunya piala yang belum pernah dia pegang. Itulah yang membedakan Messi dan Maradona.
Harapan ditumpukan ke pundak Messi. Kaus seragam Argentina bernomor 10 yang termasyhur ada di mana-mana, di jalanan, di pasar-pasar, dan stadion, dan dipakai oleh dikenakan oleh pria, wanita, dan anak-anak.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi