Kalimat itu sindiran sekaligus cambuk lecutan bagi Messi. Lionel Messi ialah ‘’The GOAT’’, the greatest of all time, pemain sepakbola terhebat sepanjang zaman. Tapi, menghadapi Arab Saudi yang tidak diunggulkan, Argentina tidak berdaya. Sihir Messi yang biasanya menjadi mukjizat tiba-tiba lenyap. Fans Agentina hanya bisa tertunduk dan terdiam.
Seluruh dunia terkesiap. Rundungan terhadap Messi dan Argentina datang bergelombang. Lagu ‘’Don’t Cry For Me Argentina’’ diputar lagi untuk meledek Messi dan Argentina. Sepakbola Argentina bisa tamat riwayatnya kalau sampai gagal di fase grup.
BACA JUGA: Kapitalisme Sepakbola
Tapi, sepakbola adalah bagian dari kapitalisme global dengan putaran uang ribuan triliun. Dalam tradisi kapitalisme global ada privilege bagi perusahaan-perusahaan trans-nasional raksasa untuk mendapatkan perlindungan supaya tidak bangkrut. Muncul jargon ‘’Too Big to Fail (TBTF)’’ , terlalu besar untuk (dibiarkan) gagal, yang menggambarkan penetingnya perusahaan-perusahaan besar itu untuk tetap berdiri, at all cost, dengan ongkos sebesar apapun.
Pemerintah Amerika Serikat punya daftar perusahaan-perusahaan yang masuk kategori TBTF yang harus dilindungi dari kebangkrutan. Pemerintah Amerika siap menggelontorkan subsidi besar untuk menjamin korporasi TBTF tetap berdiri. Ekonomi Amerika boleh kembang kempis dihajar resesi, tetapi bonus para eksekutif korporasi besar akan tetap diberikan dalam jumlah edan-edanan. Itulah prinsip TBTF yang menjadi kredo kapitalisme global.
Dalam tradisi sepakbola internasional juga ada kategori TBTF itu. Brazil gagal melewati adangan Kroasia di perempat final melalui adu penalti. Tinggal Argentina yang menjadi wakil Amerika Latin. Untunglah Argentina bisa melewati adangan Belanda.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi