Rabu, 17 Juni 2026, pukul : 07:10 WIB
Surabaya
--°C

Durian Tarmidji

“Bapak tidak perlu investor. Jalan sendiri saja,” ujar saya.

“Saya pengin mingguan ini jadi harian. Saya pengin maju. Saya merasa cocok dengan Pak Dahlan,” ujar Pak Tabrani.

Waktu Pak Tabrani memang terbatas. Ia pejabat tinggi di Pemda Kalbar: Asisten sekwilda. Potensial sekali naik jabatan. Ia mencintai dunia publikasi dan fotografi. Sejak masih muda. Sosoknya mungil, kulitnya bening, bicaranya lirih, solah bawanya halus. Ia tidak pernah menyela orang yang lagi bicara.

Pak Tabrani kini hidup bersama salah satu anaknya, sejak istrinya meninggal 5 tahun lalu.

BACA JUGA: Arek Kesel

Ia pun tahu: kini saya sudah bukan siapa-siapa lagi. Pun di perusahaan yang membawahkan Pontianak Post itu. Tapi persahabatan kami melebihi kekuasaan duniawi.

BACA JUGA  Tragis!, Kericuhan Pecah di Jalan Sehat Tahun Baru Islam Pemprov Jatim, Kotak Undian Ditumpahkan Massa

Saya senang bicara Pak Tab kian lancar. Jauh lebih baik dari pertemuan-pertemuan sebelum ini. Biar di kursi roda tapi masih bisa pindah sendiri dari kursi roda ke mobil. Memang dengan susah payah, tapi bisa. Saya tidak membantunya naik mobil. Ia harus bisa sendiri. Dan ia bangga dengan kemampuannya itu.

“Apakah koran masih ada harapan?” tanyanya.

Saya sedih mendengar pertanyaan itu. Terutama karena saya tidak bisa membantunya lagi seperti dulu. Saya tidak bisa lagi diskusi tentang perusahaan dengan beliau. Juga dengan teman-teman lama di sana.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.