Kamis, 28 Mei 2026, pukul : 00:20 WIB
Surabaya
--°C

Durian Tarmidji

Johan
“Jalan kesuksesan ada di tangan anda sendiri, bukan di gunung Kawi.” Ini komentar bapak angkat saya dulu, ketika saya mengutarakan niat mau ke gunung Kawi untuk “memohon” kesuksesan, tentu kesuksesan dalam maksud menjadi lebih kaya dan makmur. Ini mengingatkan saya pada sebuah bacaan, sesepuh bangsa Tionghoa zaman dulu memiliki semboyan: Ming zai wo bu zai tian (命在我不在天). Artinya kurang lebih: Takdir ada di tangan kita sendiri, bukan di tangan mahluk adi kodrati. Semboyan ini tidak bisa disimpulkan bahwa sesepuh itu anti atau tidak percaya takdir Tuhan. Karena dari konsep ketuhanan saja mereka sudah berbeda dengan konsep dari agama samawi. Pandangan hidup seperti itu mengartikan seseorang harus mandiri dalam menghadapi gelombang dan problematika hidup, beserta tujuan apa yang ingin dicapai, yang sesuai kemampuan diri. Tingkat kemampuan menyesuaikan diri dengan segala perubahan yang akan menjadi pembeda tingkat kualitas seseorang. Ini sebagai kritik terhadap orang yang “memanipulasi dan bersekongkol” dengan “mahluk adi kodrati” demi menghapus karma buruk, menyelewengkan hakikat untuk kepentingan pribadi. Ini yang banyak terjadi, dari zaman dulu sampai zaman kini. Hidup itu sederhana, yang tidak sederhana itu adalah keinginan.

BACA JUGA  Pilkades Serentak 2026: Satu RT Dua ‘Kemanten’.Strategi Politik Doni Suhendro Raih Simpati Warga di Bligo Sidoarjo

Johan
Aktivitas rohani tidak harus melibatkan rasionalitas. Apakah kegiatan berdoa dan sembahyang itu rasional? Ini bisa diperdebatkan. Ada yang mengaku bisa merasakan kehadiran Tuhan, ada yang merasa tidak. Ini tidak harus dipertentangkan. Karena itu paling baik adalah saling menghargai keyakinan masing-masing. Bagi umat kelenteng, ciamsi dirasakan berguna dan bermanfaat. Ciamsi sebagai jembatan komunikasi antara umat yang membutuhkan dengan Tuhannya. Bagi yang tidak percaya, ciamsi itu tidak berguna, atau bahkan bersekutu dengan setan. Bebas saja. Tapi alangkah eloknya jika semua umat beragama bisa saling menerima perbedaan, tanpa harus ikut campur ke dalam urusan keyakinan masing-masing.

Pryadi Satriana
Darimana Pak Johan tahu itu aktifitas ‘rohani’ (yg melibatkan ‘roh’) dan bukannya aktifitas ‘pikiran’ yg berusaha ‘mencari-cari jawaban atas permasalahan hidup’ dg cara2 yg ‘direkayasa oleh pikiran itu sendiri’? Saya mengikuti ‘cara berpikir’ dan ‘terminologi’ Anda: konsultasi! Anda paham arti ‘konsultasi’? Saya anggap “konsultasi” ke ciamsi itu absurd. Kalau menurut Anda “it’s okay”, “just go ahead.” Salam. Rahayu.

BACA JUGA  Sidoarjo Memilih: Pesan Dingin Bupati Subandi di Tengah Hangatnya Pilkades Serentak 2026
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.