Pryadi Satriana
“Tentu saya juga masuk ke kelenteng Kwan Im. Meletakkan bunga di depan sang Dewi. Saya ikut saja apa yang dilakukan Suhu.” Di bawah, Pak Mahfud Huda menyebut bahwa tulisan Pak DI itu “apa adanya.” Culun. Pekok. Bego. Naif. Koclok. Dll. Terserah Anda menyebutnya apa. Mengapa demikian? Sudah ‘kepala tujuh’, sudah ‘bangkotan’. Sudah ‘puluhan tahun ngelmu tarekat’, ‘ngerti tasawuf’, ikut mengelola ‘pesantren keluarga’, gelem dadi ‘profesor’ (hi..hi..) … . Tapi yo iku mau, masih ‘culun’ bin ‘lugu’ (LUmayan GU*bl*k) bin ‘naif’. Masih ‘ikut saja apa yang dilakukan Suhu’: ‘masuk ke kelenteng Kwan Im. Meletakkan bunga di depan sang Dewi “. Hmm …, seorang ‘profesor’ yg lekat dg dunia pesantren mosok ndhak tau bahwa tindakannya itu bentuk ‘pemujaan kepada Dewi Kwan Im’. Dengan ‘ikut saja apa yang dilakukan Suhu’ sudah ndhak mengikuti sabda Rasullullah untuk ber-Islam secara kaffah. Apalagi pake ‘mengocok siamsi’ segala? Bukankah Yahudi yg sudah masuk Islam ditegur karena masih ‘mempraktikkan’ (baca: ‘menguduskan’) Sabat shg ‘turun ayat’ yg memerintahkan untuk ber-Islam secara kaffah? Apa penjelasan Anda, Pak Dahlan Iskan? Atau tetep aja memilih ‘njegidek koyok reca’. Monggo. Sak kersa panjenengan. Salam. Rahayu.
Pryadi Satriana
“Anda sudah tahu: Saya tidak percaya isi tulisan itu. Tapi aneh, isinya persis seperti prinsip hidup saya.” Kalimat pertama menunjukkan Dahlan tahu yg dilakukannya salah. Kalimat kedua menunjukkan toh ia tetap melakukannya. Ndlodok. Bebal. Kombinasi antara ‘dungu’ dan ‘semau gue/ndhak mau diatur’. Merasa ‘serba bisa’. ‘Saya tidak percaya’ itu artinya ‘sudah diingatkan’, tapi tetap dilanggar. Ya karena ‘ndlodok’ itu. Puluhan tahun ‘ngelmu tarekat’ ndhak keliatan ada gunanya. Cuma bisa sekadar diceritakan. Keren. ‘Ngelmu tarekat’ wis puluhan tahun. Wis ‘mendarah daging’. Jebule ‘mak ples’, nglempus koyok entut. Dadi ‘marketer’ Gunung Kawi. ‘Demo’ ngocok siamsi. Aneh. Persis prinsip hidup! Walaah … walaah … walaah, mending Hermawan Kertajaya dadi ‘marketer’ cadaver, membawa manfaat buat orang banyak. Lha iki, buat ‘testimoni’ melihat hal yang ‘aneh’ – tulisan persis seperti prinsip hidupnya – setelah mengocok siamsi, walaupun ngaku muslim.Biarlah yg mengocok siamsi yg keyakinannya selaras dg itu. Yg ndhak meyakini ndhak usah ikut-ikutan. Bukankah iman bukan sekadar untuk dipunyai tapi untuk diamalkan? Salam. Rahayu.
Pryadi Satriana
Kalo ‘gebrak meja’ bisa merusak mejanya, mending ‘menghirup nafas dalam2, minum segelas air, dan membasuh muka’ agar dapat berpikir secara waras. Salam. Rahayu.
ALI FAUZI
Pangeran Diponegoro menyelipkan kerisnya di bagian depan badannya. Itu terlihat dari gambar gambarnya. Padahal dalam budaya Jawa, terutama seputar Keraton Jogja dan Solo, keris itu diselipkan di bagian belakang tubuhnya, Ada yang tahu mengapa begitu….?

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi