Mirza Mirwan
….. itu berada mempercayakan kepada Majid untuk menjadi penjaga makam itu. Majid dibuatkan rumah di dekat makam dan juga lahan untuk bertani. Kian hari kian banyak yang datang ke makam itu. Dan memasukkan uang ke “kotak amal”. Dari uang dari kotak itu Majid bisa memperbaiki rumahnya, membeli sawah dan sapi. Ia kemudian juga punya isteri, Rahimah. Karena tak punya anak, Majid tambah isteri lagi, Aminah. Juga tak punya anak. Aduuuh, meskipun hanya garis-besarnya saja, capek untuk menuliskannya di kolom dengan batasan karakter ini. Tapi pesan dari novel Lal Shalu (Tree Withouth Roots) jelas: kemiskinan bisa membuat orang yang semula taat beribadah menjadi penjual ayat demi kekayaan. Ia sadar itu salah. Tetapi kesadarannya tidak lantas membuatnya kembali ke jalan yang benar.
Jokosp Sp
Saya tadi terus baca ketika kemudian ….. juga punya istri, Rahimah. Karena tidak punya anak, Majid tambah isteri lagi, Aminah. Juga tidak punya anak. Stop ceritanya. Coba dilanjudkan, ketika dengan istri keduanyapun tidak punya anak, maka Majid kawin lagi dengan Syoimah. Juga tidak punya anak. Masih belum putus asa Majid kawin lagi dengan Saripah, tetap masih belum bisa punya anak. Majid akhirnya kembali ke istri tertua, karena umur sudah 76 tahun, dan raga sudah tidak bisa berdusta. TITIK.
Mirza Mirwan
Membaca CHD hari ini tiba-tiba saya teringat novel Syed Waliullah, novelis Bangladesh yang kemudian beristrikan Anne-Marie Thibaud dan tinggal di Paris, lalu meninggal di sana tahun 1971 dalam usia 49. Judulnya “Lal Shalu” dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi “Tree Without Roots”. Novel itu juga tentang makam di Mahabbatpur — dalam Lal Shalu disebut Mahabbatnagar — yang kemudian ramai dikunjungi peziarah. Alkisah, di Bukit Garo ada seorang lelaki bernama Majid. Miskin. Seperti juga rerata warga Bukit Garo. Tetapi warga Bukit Garo sangat taat beribadah dalam kemiskinan mereka. Akan halnya Majid, ia capek hidup miskin. Suatu malam ia mimpi ada sebuah makam tua tak terawat di luar Desa Mahabbatpur, desa di bawah bukit yang terkenal subur makmur. Dalam mimpi ia seperti disuruh ke desa itu. Berbekal sepotong kurta (pakaian tradisional), 2 potong lungi (sarung), 2 potong handuk kecil dan tipis, serta sebuah al-Quran kecil, Majid datang ke Mahabbatpur, yang penduduknya tak peduli dengan ibadah. Dengan bahasa yang meyakinkan ia bertanya kepada penduduk, mengapa mereka tidak taat beribadah sebagaimana ulama cikal-bakal Mahabbatpur, bahkan juga menelantarkan makamnya? Memangnya tidak takut bila kena bala gegara kelalaian mereka itu? Serta-merta penduduk ingat bahwa ada makam tua tak terawat di luar desa. “Itulah makam pendiri desa kalian,” kata Majid. Singkat cerita, penduduk segera membangun makam itu. Khalik, pemilik tanah di mana makam ….

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi