SIDOARJO-KEMPALAN: Kompetisi Internal Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Sidoarjo musim 2026 menuntaskan babak puncak dengan menyisakan ironi yang mendalam. Alih-alih menjadi panggung selebrasi prestisius bagi 30 klub anggotanya, turnamen yang menjadi kawah candradimuka bagi tim Persida Sidoarjo dan skuad regional ini justru berakhir antiklimaks tanpa adanya seremoni penghargaan (awarding) maupun penyerahan hak pemenang bagi para juara.
Kompetisi yang terbagi dalam tiga kasta—Kelas Utama, Kelas Satu, dan Kelas Dua—dengan masing-masing diikuti oleh 10 klub ini, sejak awal bergulir tertatih-tatih. Manajemen jadwal yang karut-marut serta tata kelola yang dinilai tidak profesional memaksa para peserta melewati rute kompetisi yang terjal. Kendati berhasil merampungkan laga grand final, partai puncak tersebut justru meninggalkan duka yang menyayat hati para pelaku sepak bola akar rumput Sidoarjo.
Hak-hak normatif pemenang, seperti trofi juara dan uang pembinaan untuk peringkat pertama hingga keempat di setiap kelas, sama sekali tidak diserahkan saat peluit panjang dibunyikan. Lebih memprihatinkan, tidak ada satu pun batang hidung fungsionaris maupun pengurus teras Askab PSSI Sidoarjo yang hadir di stadion untuk menyaksikan laga final atau sekadar memberikan apresiasi lisan kepada para atlet. Stadion sunyi dari jajaran elite pengurus, hanya menyisakan panitia pelaksana lapangan dan perangkat pertandingan.

Reaksi keras pun bergolak dari para petinggi klub pemenang yang merasa martabat perjuangan mereka dilecehkan oleh federasi setempat.
“Kami sangat kecewa dan terpukul dengan realitas ini. Seluruh elemen tim telah berjuang menguras tenaga, pikiran, waktu, hingga materi yang tidak sedikit demi menjaga eksistensi klub dalam kompetisi ini. Setiap pertandingan kami setidaknya harus merogoh kocek mandiri berkisar Rp3,5 juta. Sungguh sebuah ironi, akhir dari perjuangan keras ini justru terasa sangat hambar dan menjatuhkan mental,” ungkap Ibnu Hambal, Chief Executive Officer (CEO) Bintang Putra Sidoarjo—sang jawara Kelas Utama—dengan nada getir.
Kekecewaan serupa disuarakan oleh Suyasak, juru taktik Tiga Putra Agung yang sukses mengunci gelar kampiun di Kelas Dua.
“Kami bahkan sudah menyiapkan spanduk khusus bertuliskan ‘Juara Kelas 2’ untuk dibentangkan saat perayaan. Namun, kenyataan di lapangan begitu menyakitkan. Jangankan panggung Upacara Penyerahan Pemenang (UPP), kehadiran satu pun pengurus Askab pun nihil. Kami seperti dibiarkan bermain dan juara tanpa diakui,” keluh Suyasak.
Sikap abai pengurus federasi ini memicu atensi serius dari otoritas olahraga tertinggi di Kabupaten Sidoarjo. Merespons gejolak tersebut, Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sidoarjo, Imam Purwanto, langsung mengambil langkah taktis dengan memanggil perwakilan manajemen Bintang Putra Sidoarjo (BPS) dan Tiga Putra Agung (TPA) ke markas KONI guna dimintai keterangan serta kesaksian resmi.
Usai mendengarkan kronologi mendetail, Imam Purwanto menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam dan siap mengawal penyelesaian kemelut ini hingga tuntas. KONI Sidoarjo menjadwalkan pemanggilan resmi terhadap jajaran pengurus Askab PSSI Sidoarjo dalam waktu dekat agar polemik tidak berlarut-larut. Imam menyayangkan insiden ini mengingat Askab PSSI Sidoarjo merupakan penerima dana hibah daerah terbesar di bawah naungan KONI.
“Askab PSSI Sidoarjo musim ini mendapatkan alokasi dana hibah yang sangat besar, mencapai Rp950 juta. Angka ini jauh melampaui plafon anggaran yang diterima oleh 72 anggota disiplin olahraga lainnya di bawah KONI Sidoarjo. Mestinya dengan sokongan finansial sedemikian rupa, tata kelola kompetisi dan hak para atlet dapat dipenuhi secara profesional,” tegas Imam Purwanto dengan nada dingin namun menohok.
Lebih lanjut, Imam mengingatkan bahwa para pemain yang berlaga di kompetisi internal ini merupakan aset vital kedirgantaraan sepak bola Sidoarjo yang diproyeksikan untuk memperkuat kontingen daerah menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) X Jawa Timur 2027 di Surabaya.
“Jika polemik hak juara ini tidak segera diselesaikan, dampaknya akan sangat merusak psikologis pemain dan mengganggu stabilitas persiapan tim Porprov. Kita semua tahu, Sidoarjo adalah rajanya sepak bola Porprov, dan cabang olahraga ini adalah lumbung emas paling favorit yang wajib kita proteksi prestasinya,” pungkas Plt. Ketua KONI tersebut.
(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)
Daftar Klasemen Akhir dan Pemenang Kompetisi Internal Askab PSSI Sidoarjo 2026
| Peringkat | Kelas Utama | Kelas 1 | Kelas 2 |
|---|---|---|---|
| Juara 1 | Bintang Putra Sidoarjo | Tunas Jaya Sepande | Tiga Putra Agung |
| Juara 2 | PSP Pagerwojo | Sidoarjo United | Singoloyo Porong |
| Juara 3 | Tunas Jaya Tulangan | Sikatan Muda | Spartak |
| Juara 4 | Tora Semambung Wonoayu | Trisula | Cahaya Mud |

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi