Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 16:31 WIB
Surabaya
--°C

Khayelitsha Afsel yang Berbeda

Sistem apartheid menerapkan UU GAA (Group Areas Act) sejak 1950. Undang-undang ini menetapkan wilayah pemukiman dan bisnis di daerah perkotaan berbasis ras.

Artinya, anggota ras di tempatkan di satu wilayah dan ras lain dilarang untuk masuk, apalagi tinggal. Menjalankan bisnis, atau memiliki tanah di dalamnya. Akibatnya ribuan orang kulit berwarna , Orang kulit hitam, dan orang India disingkirkan.

Ketika Cape Town akhirnya mulai menerapkan GAA, Cape Town mulai menerapkan Group Areas Act, lebih parah dari kota besar lainnya. Di pertengahan 1980-an, Khayelitsha telah menjadi salah satu kota paling terpisah di Afrika Selatan.

BACA JUGA: Live Boxing TV One: Crawford Diprediksi akan Tersandung Porter

BACA JUGA  Iduladha 1447 H: Unesa Putar Balik Tradisi Kurban, Prioritas Mutlak Wong Cilik dan Mahasiswa Rantau

Sebenarnya rencana untuk membangun Khayelitsha pertama kali diumumkan oleh Dr. Piet Koornhof  pada tahun 1983, saat itu, ia adalah Menteri Kerjasama dan Pembangunan.

Potret kekumuhan Cape Town

Pada tahun 1985, pinggiran Situs C memiliki 30.000 orang. Khayelitsha adalah salah satu upaya terakhir rezim apartheid untuk menegakkan GAA dan dipandang sebagai solusi untuk masalah: jumlah migran yang tumbuh pesat dari Eastern Cape, perlu dibatasi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.