Tapi, karena pengumuman polisi, lambung korban tanpa makanan (fakta forensik), lalu media massa menyimpulkan: lapar, yang dekat dengan kata kelaparan, maka jadi masalah.
Wali Kota Jakarta Barat, Yani Wahyu Purwoko, mendatangi rumah korban, Sabtu (12/11). Melihat rumah korban di luar, karena sudah dipasang police line. Ia ngobrol dengan Ketua RT RW. Lantas bicara ke wartawan:
“Saya dapat dari lingkungan sekitar, dari RT RW, bahwa memang keluarga ini tertutup, tidak berinteraksi, tertutup. Boleh dikata dugaannya ini mereka anti-sosial.”
BACA JUGA: Kebaya Merah, Kok Eks Pasien RSJ Menur?
Jelas, wali kota merasa kinerjanya terusik jika ada warganya kelaparan. Maka, ia mendatangi TKP. Kemudian menyimpulkan, korban diduga anti sosial.
Simpulan anti-sosial itu ditanggapi Ketua Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia DKI Jakarta, Martha Tiana Hermawan. Kepada pers, Minggu,13 November 2022, mengatakan:
“Seharusnya sebagai pamong, Wali Kota Jakarta Barat tidak tergesa-gesa menuduh orang yang meninggal dengan tuduhan negatif. Secara etika sebagai seorang pejabat itu tidak etis, orang sudah meninggal kok dituduh negatif.”
Dilanjut: “Tuduhan, bahwa keluarga yang meninggal sebagai warga anti-sosial, jelas tidak menjawab apa penyebab kematian mereka. Malah menjelekkan orang sudah meninggal.”

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi