Soeharto memakai supersemar untuk mengalahkan Sukarno yang tidak menyadari telah menyerahkan pengapesannya sendiri terhadap Soeharto. Episode pembunuhan politik pasca percobaan kudeta 1965 ibarat pembunuhan di perang Bharatayuda. Tidak mudah menentukan siapa benar siapa salah. Siapa pahlawan siapa bajingan. Kebenaran dan kebatilan bersilangsengkarut sehingga hitam dan putih tidak bisa dipisahkan dengan jelas.
BACA JUGA: Korupsi Hakim Agung
Presiden Jokowi bulan ini mengeluarkan keputusan presiden untuk mencari penyelesaian kasus pelanggaran HAM (hak asasi manusia) berat 1965 melalui jalur non-judusial. Jokowi, rupanya, menyadari bahwa peristiwa 30 September dan pembunuhan politik yang menyertainya merupakan tragedi politik yang mirip dengan tragedi Bharatayuda.
Pandawa adalah pihak yang benar, tetapi mereka juga banyak melakukan kecurangan dalam peperangan. Kurawa adalah pihak yang salah, tetapi banyak pahlawan budiman yang menjadi panglima Kurawa dan mati demi membela keyakinannya. Tidak ada hitam dan putih yang tegas. Tidak boleh ada yang mau menang sendiri, kalau mau mencapai rekonsiliasi nasional yang tulus. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi