Dalam tradisi wayang ada episode pertarungan antara Gatotkaca melawan Prabu Baladewa penguasa Kerajaan Mandura yang menjadi sekutu Amarta. Prabu Baladewa sangat disegani dan dituakan, termasuk oleh Bratasena, ayah Gatotkaca. Ketika Prabu Baladewa dianggap menyelewengkan kekuasaannya terlalu jauh, maka Gatotkaca ditugaskan untuk menyelesaikannya.
Penyelesaian diplomasi yang dilakukan gagal, dan jalan terakhir adalah diplomasi kekerasan melalui perang. Gatotkaca terlibat perang one on one melawan Baladewa yang nota bene ialah pakdenya sendiri. Meskipun harus mempergunakan kekerasan dan bahkan pembunuhan, tetapi Gatotkaca tetap hormat kepada Baladewa dan tetap berbicara dengan krama inggil.
BACA JUGA: Uang Darah
Pak Harto menempatkan dirinya sebagai Gatotkaca menghadapi Bung Karno yang sudah dianggapnya melenceng dari garis kekuasaan sebagaimana Baladewa. Bung Karno harus disingkirkan, tetapi dengan cara yang halus. Bila perlu, Bung Karno jangan sampai tahu bahwa ia sedang menjadi korban plot untuk merebut kekuasaannya.
Bung Karno yang cerdas dan tajam penciuman politiknya, kali ini seperti terkena ‘’pengapesan’’ dan menjadi kehilangan kesaktian. Bung Karno bisa mencium manuver Nasution yang sangat canggih. Dengan ketajaman dan kecerdasaannya, Bung Karno bisa mencopot Nasution dari jabatan panglima Angkatan Darat dan menempatkannya dalam posisi menteri yang lebih tinggi tapi tidak berpengaruh.
Bung Karno berhadapan langsung dengan Nasution dalam berbagai episode. Nasution seorang jenderal yang cerdas dan dikenal sebagai muslim puritan. Ia tidak cocok dengan gaya hidup ‘’pesta dan wanita’’ yang dijalani Bung Karno di Istana. Nasution sangat anti-komunis dan karena itu menjadi musuh PKI nomor satu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi