Soeharto menghindari konfrontasi terbuka itu. Ia memegang kendali Angkatan Darat karena menjadi jenderal paling senior yang tersisa. Jenderal Ahmad Yani yang menjadi orang nomor satu di AD menjadi korban penculikan. Jenderal Nasution dalam keadaan cedera dan sangat terpukul psikologinya sehingga sepanjang hari tidak menampakkan diri.
Soeharto menjadi tokoh utama dalam ‘’show down’’ persaingan perebutan kekuasaan melawan Bung Karno dan PKI. Demonstrasi mahasiswa yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) menjadi political pressure yang dikontrol oleh AD. Gerakan mahasiswa ini semakin melemahkan posisi Bung Karno yang sudah semakin terjepit.
BACA JUGA: Syekh Qardawi
Bung Karno ibarat lame duck alias bebek lumpuh yang tinggal sekali tembak bisa mati, dan Soeharto mempunyai kesempatan yang paling besar untuk menembak bebek lumpuh itu. Tetapi, Soeharto tidak melakukannya. Naluri Jawa yang dimilikinya berbicara lain. Ia membiarkan Bung Karno menjadi bebek lumpuh, karena bagaimana pun bebek lumpuh itu masih punya kharisma besar dan mempunyai pengikut fanatik yang sangat besar.
Bung Karno masih bisa menggerakkan pengikutnya yang setia untuk bergerak mempertahankan kekuasaannya. Soeharto menyadari hal itu, dan karenanya ia memainkan kudeta Jawa untuk bisa menggulingkan Bung Karno secara halus dan mengambil alih kekuasaan secara halus pula.
Filosofi Jawa Soeharto membuatnya tidak bertindak grusa-grusu atau tergesa-gesa. Soeharto memahami dan mengamalkan filosofi ksatria Jawa yang dipelajarinya dari berbagai episode pewayangan. Soeharto melawan seorang raja dengan cara halus. Meskipun akan berperang menghadapi sang raja tetapi Soeharto tetap menjaga kesopanan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi