Selain dibacakan sendiri oleh penciptanya, karya puisi tersebut juga dibacakan oleh para tamu undangan yang hadir, antara lain: Denting Kemuning, Henry Noorcahyo (budayawan Panji), Sugeng Santoso (wartawan senior dari Malang), Tino Jooshe, Darmantoko (Wartawan senior), Humas Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya. Grup musikalisasi puisi Ferdi Aftrar dari Sidoarjo juga ikut meramaikan suasana. Sungguh, Warumas tampil apik dan menarik kala itu.
Kutulis Puisi Ini
Sebelum itu pada tahun yang sama, 2022, pernah juga Warumas terbitakan buku Kutulis Puisi Ini, dalam merayakan perhelatan Hari Pers Nasional 2022 di Surabaya, yaitu 11 mantan wartawan tua usia membacakan puisinya. Acara yang digelar-bacakan di Graha Roeslan Abdul Gani, Universitas Tujuhbelas Agustus (Untag), Semolowaru, Surabaya; pada Sabtu, 12 Februari 2022. Sebelas wartawan yang penyair itu: Adam A Chevny (Surabaya), Amang Mawardi (Surabaya), Aming Aminoedhin (Mojokerto), Karyanto (Sidoarjo), Kris Mariyono (Sidoarjo), Leres Budi Santoso (Sidoarjo), Mochammad Rohanudin (Jakarta), Rokim Dakas (Nganjuk), Rahayu Santoso (Madiun), Toto Sonata (Surabaya), dan Widodo Basuki (Sidoarjo). Mengapa disebut usia tua, sebab mereka semua sudah berusia di atas 50 tahun. Tidak salah jika kumpulan puisi yang dibacakan waktu itu, bertajuk “Kutulis Puisi Ini” berlabel antologi puisi wartawan usia emas.
BACA JUGA: Log Zlebhour Baca Puisi di Acara Launching Antologi Puisi Warumas
Dalam pengantar buku Rektor Untag, Prof. Mulyanto Nugroho, antara lain mengatakan, “ Lahirnya buku antologi puisi wartawan usia emas berjudul “Kutulis Puisi Ini” menjadi bukti bahwa dalam berkarya tidak berbatas usia, Bukan hal yang mudah pula untuk tetap semangat berkarya di tengah pandemi, terutama berkarya dalam seni menulis syair puisi.”
Sementara itu Toto Sonata, wartawan senior, juga dalam pengantar buku itu, bertajuk ‘Titik Temu Puisi dan Jurnalistik’ antara lain mengatakan, “Karena tiap penyair bisa menghasil-kan bentuk puisi yang berbeda-beda. Ada yang bercorak naratif, reportatif, agitatif, kontemplatif, romantis, liris, puitis, dan bahkan sufistik. Semua itu sah adanya sebagai puisi. Sebab puisi itu tidak tunggal, dan tak mengenal doktrin”asas tunggal.”

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi