Pendiri Facebook Mark Zuckerberg diadili oleh Kongres Amerika dan dimintai pertanggungjawaban atas kebobolan itu. Zuckerberg mengaku bersalah dan meminta maaf kepada pemerintah dan rakyat Amerika. Tragedi ini bisa terjadi di seluruh dunia termasuk di Indonesia.
Kalau data masyarakat yang bobol itu jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, data itu bisa dipakai untuk disinformasi dan untuk menyebarkan hoax. Kasus Trump bisa terjadi di Indonesia. Banyak kalangan yang meragukan pernyataan Presiden Jokowi mengenai subsidi BBM yang besarnya Rp 503 triliun. Para ekonom kritis menunjukkan bukti-bukti bahwa data itu manipulatif. Tapi, Jokowi mungkin memakai strategi ‘’post-truth’’ ala Donald Trump. Dia tidak merasa berbohong, dia hanya menyampaikan post-truth.
BACA JUGA: Kandang Bubrah
Kebobolan data ini bukan hal yang remeh. Menteri Mahfud tidak boleh menganggap data apapun sebagai tidak penting. Menteri Mahfud tentu sudah tahu bahwa komputasi awan yang menghasilkan big data itu berasal dari data remeh temeh, yang kemudian diolah menjadi data emas berlian yang berharga tinggi.
Kebobolan data miliaran warga Indonesia itu, tidak mustahil, akan melahirkan kecurangan politik dalam pemilu 2024 mendatang. Waspadalah. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi