Data yang bobol itu diperkirakan jatuh ke tangan kubu politik Donald Trump yang kemudian memanfaatkannya menjadi senjata kampanye komputasional untuk menyerang dan menjatuhkan lawan politik. Sudah jamak diketahui bahwa kemenangan Trump atas Hillary Clinton dalam pemilihan presiden 2015 dipengaruhi oleh kampanye negatif komputasional Trump terhadap Hillary.
Hal yang sama terjadi pada publik Inggris dalam kasus referendum ‘’Brexit’’ pada 2016. Referendum ini bertujuan untuk meminta pendapat rayat Inggris apakah tetap bergabung dengan Uni Eropa atau keluar dari Eropa. Data-data yang bocor itu dipakai sebagai alat untuk melakukan disinformasi kepada publik untuk mendiskreditkan kelompok pro-Eropa. Akhirnya kelompok Brexit yang menghendaki Inggris keluar dari Eropa menang, dan Inggris pun keluar dari Uni Eropa.
BACA JUGA: Amplop Kiai
Belakangan banyak orang yang menyesal akan pilihan itu. Keluarnya Inggris dari Uni Eropa dianggap sebagai kesalahan. Tapi, nasi sudah menjadi bubur basi, tidak bisa dimakan lagi. Inggris telanjur Brexit, dan Trump telanjur menang. Publik baru sadar bahwa data mereka yang dibobol dari Facebook ternyata jatuh ke tangan para oportunis politik yang tega membohongi rakyat dengan berita bohong.
Hoax bermunculan selama kampanye Trump dan kampanye Brexit. Donald Trump merasa enteng saja bicara mengenai hal-hal yang tidak berdasar. Lawan politiknya menyebut bohong, tapi Trump menyebutnya ‘’post-truth’’, pasca-kebenaran.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi