KEMPALAN: Minggu 21 Agustus 2022 kita kehilangan seorng sahabat, teman, kakak, bapak, wartawan Jawa Timur, Hadiaman Santoso. Nanti malam, Jumat 26 Agustus 2022 pk 20:00 adalah tahlil hari terakhir di rumah beliau Jl. Trenggilis Mejoyo Utara III Blok B No 05 Surabaya. Keluarga memohon kehadiran seluruh sahabat almarhum untuk bersama memohon doa kepada Allah SWT agar Pak Hadiaman Santoso dimudahkan langkahnya dalam perjalanan menuju pintu surga.
Nama beliau di dunia wartawan Jawa Timur cukup terkenal, dan bagi kalangan pers lebih menonjol sebagai pengurus PWI Jatim dengan pengaruh cukup kuat di Balai Wartawan Jl Taman Apsari Surabaya selama lebih tiga dekade.
Saya mengenal almarhum sejak beliau masih bujang dn tinggal bersama ayahnya Pak Moh Sholeh, seorng purnawirawan TNI berpangkat mayor. Di tahun 70an rumah orngtuanya yg cukup besar dan asri di kawasan Pandegiling (kini berdiri bangunan Hotel Santika) adalah tempat jujukan teman-temannya karena terletak dekat dengan pusat kota.
Sebagai warga asal Madura, lahir di Pamekasan 31 Desember 1945, Hadiaman juga memiliki jaringan cukup kuat dgn para tokoh Madura berpengaruh di Surabaya. Belakangan saya semakin akrab sejak bersama beliau duduk sebagai anggota Dewan Penasehat PWI Jatim beserta Prof Sam Abede dan Dr Tatang Istiawan. Kita membentuk Grup WA untuk memperlancar komunikasi lewat online maupun ofline. Pertemuan dan diskusi kecil cukup sering mewarnai keakraban kita. Paling sering memilih rumah makan Padang Sederhana yang terletak tak jauh dari gedung KONI Jatim. Di sini Pak Hadiaman menyukai menu kegemarannnya yaitu gulai kepala ikan.
BACA JUGA: Kenangan 40 Tahun Bersama Almarhum Om Has
Saya kenal pertama saat bersama sama menempati Kantor Jl Pahlawan 30 Surabaya di tahun 70an. Di lantai atas ada beberapa ruang kantor penerbitan pers seperti Antara, Liberty, ruang direksi Surabaya Post, Mingguan Mahasiswa (MM) dan Indonesia Bangun.
Hadiaman bekerja di harian milik TNI AU Indonesia Bangun yang dipimpin Dr Abd Gafur, yang sempat menjadi Menpora jelang jatuhnya Pak Harto. Saya sendiri waktu itu adalah salah seorang wartawan dari mingguan yang dipimpin Agil H Ali.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi