Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 7 Jan 2022 08:22 WIB ·

Boneka Arwah


					Ivan Gunawan bersama boneka arwahnya. (Ss Instagram @anakputramahkota) Perbesar

Ivan Gunawan bersama boneka arwahnya. (Ss Instagram @anakputramahkota)

KEMPALAN: Boneka arwah atau spirit doll menjadi tren baru di kalangan selebritas. Banyak yang pamer punya piaraan baru dalam bentuk boneka bayi dengan berbagai jenis dan macamnya. Boneka-boneka ini tidak sekadar boneka, tapi dianggap punya roh atau arwah, dan dirawat sebagaimana manusia.

Boneka arwah itu tidak sekadar menjadi mainan, tapi diperlakukan dengan istimewa sebagai anak kandung yang diberi makan dan minum serta pakaian. Lebih dari itu boneka arwah diyakini punya kekuatan spiritual yang bisa memberi keberuntungan atau kesialan.

Para selebritas dan para penggemar boneka arwah itu merasa keren dan modern karena mengikuti tren internasional yang lagi viral. Padahal, pemujaan terhadap benda-benda yang dianggap punya roh adalah praktik kuno yang dijalani manusia primitif.

Inilah paradoks manusia modern. Semakin modern, semakin global, tapi sebaliknya menjadi semakin primitif dan terkucil. Manusia modern adalah manusia digital bagian dari network society yang terhubung ke jaringan global.

Pertemanan mereka melalui jejaring medsos jumlahnya ribuan dan jutaan. Tetapi, bersamaan dengan itu hidup mereka menjadi lebih kesepian dan kehilangan teman dan kehilangan tetangga konvensional. Lalu pelariannya adalah mencari hiburan virtual, menciptakan tetangga virtual, dan mencari teman virtual dalam bentuk robot atau boneka arwah.

Orang-orang kuno yang primitif percaya bahwa batu, kayu, pepohonan, mempunyai roh dan bisa memberi manfaat dan mudharat. Karena itu agama orang primitif adalah agama animisme dan dinamisme.

August Comte membagi tingkat pemikiran manusia menjadi tiga bagian, tahap supranatural, metafisik, dan tahap positif. Pada tahap awal manusia memahami bahwa semua gejala di dunia ini disebabkan oleh hal-hal supernatural seperti pohon-pohon dan bebatuan yang diyakini punya roh.

Tahap supranatural ini terbagi dalam tiga periode,  yaitu fetisisme kepercayaan pada kekuatan benda-benda, politeisme yang percaya pada banyak dewa, dan monoteisme yang percaya pada satu kekuatan tertinggi.

Tahap metafisik mengandaikan adanya kekuatan-kekuatan abstrak, hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda dan mampu menghasilkan gejala-gejala yang ada di dunia. Dalam tahap ini, manusia belum berusaha untuk mencari sebab serta akibat dan gejala-gejala alam.

Tahap positif mengandaikan manusia sudah dapat berpikir secara ilmiah. Akal budi manusia tidak lagi memusatkan perhatian pada pengertian-pengertian absolut, asal dan tujuan alam semesta. Tapi memusatkan perhatian pada studi tentang hukum-hukumnya yang tidak berubah. Sarana-sarana pengetahuan ini adalah penggabungan antara penalaran dan pengamatan secara empiris.

Kepercayaan kepada boneka arwah termasuk bagian fetisisme atau perjimatan. Boneka tidak sekadar menjadi barang mainan, tapi dianggap sebagai jimat keberuntungan. Boneka arwah adalah fetisisme yang sama saja dengan boneka seksual yang sudah terlebih dulu beredar luas di pasaran terbuka atau tersembunyi.

Boneka arwah berbentuk anak-anak dan menjadi saluran biologis orang-orang yang terobsesi punya anak tetapi tidak berhasil. Mereka adalah orang-orang yang mungkin punya kelainan seksual yang bersifat biologis, tapi bisa juga mereka punya perbedaan orientasi seksual seperti LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).

Fetisisme boneka fantasi seksual dilakukan sembunyi-sembunyi karena dianggap sebagai tabu sosial. Toko seks atau sex shop belum ada di Indonesia, atau belum beroperasi secara terbuka, tetapi konsumennya banyak. Orang-orang yang punya orientasi seksual berbeda ini menyalurkan naluri alamiahnya kepada boneka arwah atau boneka seks.

Dua-duanya masuk dalam fetisisme. Ada juga fetisisme rangsangan seksual terhadap benda mati. Yang pernah bikin heboh di sebuah perguruan negeri di Surabaya adalah fetisisme jarik yang membungkus seseorang yang kemudian dijadikan objek fetisisme dan fantasi seksual. Orang-orang seperti ini mengalami fetisisme dengan melihat benda-benda mati milik seseorang, misalnya pakaian dalam atau aksesoris tertentu.

Gejala fetisisme terhadap boneka arwah ini akan berkembang semakin jauh ketika praktik LGBT semakin meluas. Pasangan sejenis secara biologis dipastikan tidak akan mempunyai keturunan, padahal secara biologis dan naluriah manusia mempunyai keinginan untuk mendapatkan keturunan. Pada tahap tertentu hal ini bisa dilakukan dengan melakukan adopsi bayi sungguhan. Tetapi, bisa juga dilakukan dengan mengadopsi boneka arwah sebagai bagian dari keluarga.

Pada tahap yang…

Artikel ini telah dibaca 151 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Singapura

28 Januari 2022 - 11:09 WIB

Ekstradisi Para Bedebah

27 Januari 2022 - 11:15 WIB

Singapura-DW

Kebat Kliwat

26 Januari 2022 - 11:56 WIB

Jin Buang Anak

25 Januari 2022 - 11:14 WIB

Balapan

24 Januari 2022 - 10:46 WIB

Koruptor Milenial

23 Januari 2022 - 10:47 WIB

Trending di Kempalpagi