Atau satu pemikiran, misal, sesama intelektual, sesama guru, sesama tukang ojek online, sesama tukang ojek pangkalan. Itu sebab, tukang ojek online bermusuhan dengan tukang ojek pangkalan.
Disebutkan di teori SIT, setiap manusia ingin dihargai. Ingin dihormati. Ingin mendapatkan sumber daya hidup (makanan) yang cukup. Itulah kodrati.
Setiap manusia berasumsi, ia akan lebih dihormati, dihargai, dapat makanan cukup, jika meleburkan diri (bergabung) dengan kelompok yang sejenis. Itulah pondasi teori In-group dan Out-group.
BACA JUGA: Kapolri Akan Umumkan Kasus Yosua, Termasuk Otak Pembunuh
Tapi manusia selalu ingin lebih. Dari sesuatu yang sudah ia didapatkan. Sudah dapat satu, ingin dua, dan seterusnya. Sampai manusia itu mati.
Ketika manusia ‘ingin lebih’ itulah, ia atau kelompoknya, melakukan intervensi kelompok lain. Bahkan, agresi. Awalnya, dengan cara menjelekkan kelompok lain. Bertujuan agar ‘kelompok lain’ bergabung ke ‘kelompoknya’.
Pelaku intervensi-agresi itulah disebut berperilaku intoleran. Inilah potensial konflik. Atau, bisa berubah menjadi konflik antar kelompok. Karena, ada aksi maka ada reaksi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi