Anak-anak milenial mungkin tidak banyak yang mengenal wereng. Tapi, generasi ‘’kolonial’’ yang hidup di masa Orde Baru sangat mungkin familiar dengan wereng. Jenis hama ini menjadi populer seiring dengan gencarnya program intensifikasi pertanian oleh pemerintahan Orde Baru.
Untuk meningkatkan hasil panen beberapa kali lipat pemerintah memakai berbagai jenis pupuk dan pestisida untuk mengusir hama. Tapi, hama ternyata lebih cerdik dengan melakukan mutasi dan adaptasi sehingga kebal terhadap racun pestisida. Jenis hama ini disebut sebagai wereng yang bisa menghancurkan tanaman padi siap panen dalam tempo semalam.
BACA JUGA: Pelosi
Sejak itu wereng menjadi bagian dari kosakata yang memperkaya khazanah Bahasa Indonesia. Istilah itu dipakai untuk menggambarkan seseorang yang bertabiat buruk yang suka berbuat kejahatan ringan sampai kejahatan berat.
Menyebut polisi sebagai wercok adalah bagian dari upaya sekalangan masyarakat untuk mengritik polisi yang bertingkah tidak terpuji. Masyarakat yang tidak puas tidak semuanya berani melakukan kritik terbuka, apalagi melakukan protes secara terang-terangan. Polisi sudah menjadi institusi yang powerful dan masyarakat takut mengritiknya secara terbuka.
Penyebutan wercok bisa disebut masih cukup ringan kalau dibanding dengan gerakan anti-polisi di luar negeri, terutama di Amerika Serikat. Sejak 2020 gerakan anti-polisi meluas setelah munculnya kasus pembunuhan terhadap pemuda kulit hitam George Floyd oleh polisi. Masyarakat yang marah melakukan demonstrasi luas dengan memakai semboyan ACAB, All Cops Are Bastards yang artinya ‘’semua polisi adalah bajingan’’.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi