Sikap keras masyarakat Amerika itu muncul karena serangkaian kekerasan yang dilakukan polisi terhadap masyarakat, khususnya kulit hitam. Polisi dianggap rasis karena memperlakukan orang kulit hitam lebih buruk dibanding kulit putih. Para pendukung gerakan ACAB mendesak pemerintah untuk mencabut anggaran polisi dengan membentangkan poster ‘’Defund Police’’.
Gerakan itu sudah menyebar ke seluruh dunia dan sudah mulai merasuk ke Indonesia. Polisi harus mengantisipasi gerakan ini, bukan hanya dengan memberangus dan menangkap aktivis, tapi dengan memperbaiki institusi polri.
BACA JUGA: Rumah Sehat
Pembunuhan Brigadir J membua borok yang menganga di tubuh polri. Mahfud MD menyebut ada ‘’mabes di dalam mabes’’ yang mengisyaratkan adanya operasi tidak resmi di bawah tanah dalam tubuh polri. Indonesia Police Watch (IPW) menyebut adanya geng mafia di tubuh polri, dan para pengamat menyorot keberadaan satuan tugas khusus atau satgassus, yang ditengarai melakukan operasi pengendalian transaksi gelap, mulai dari perjudian sampai perdagangan narkoba.
Awalnya isu itu hanya sayup-sayup terdengar, tapi sekarang makin santer. Kamaruddin Simanjuntak yang menjadi pengacara Brigadir J secara terbuka menyebut pembunuhan terhadap kliennya berhubungan dengan adanya operasi gelap bisnis narkoba dan perjudian di level atas polri.
Bisnis gelap itu dikendalikan secara rapi sampai ke level yang tinggi dan menjadi salah satu sumber pundi-pundi dana off-budget atau dana non-bujeter yang jumlahnya sangat besar. Brigadir J kemungkinan tahu operasi itu dan akan membocorkannya. Brigadir J tahu terlalu banyak—termasuk kemungkinan informasi hubungan cinta back street Ferdy Sambo—yang membuatnya harus dihabisi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi