Beda dengan Kapolres Sula, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo malah lebih tebal kuping. Ia mengutip joke itu sambil mengatakan bahwa hal itu menjadi satire yang mengingatkan korps Bhayangkara akan pentingnya kejujuran dan integritas. ‘’Munculnya humor tentang 3 Polisi jujur di Indonesia yaitu patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng seakan telah melegitimasi bahwa sangat sulit mencari polisi jujur dan berintegritas di negeri kita’’. Begitu bunyi unggahan Listyo Sigit.
Humor adalah bagian dari cara masyarakat untuk menyampaikan kritik terhadap institusi yang dianggap powerful dan dominan. Ketika saluran kritik resmi tersumbat maka humor menjadi saluran alternatif yang dipilih untuk menyuarakan kritik. Ada humor kategori gelap atau dark humor yang bisa membuat panas kuping, tapi humor itu penting karena menyuarakan kondisi riil di masyarakat.
BACA JUGA: Tuan Guru Bajang
Listyo Sigit menyadari institusinya sekarang menjadi sorotan karena peristiwa pembunuhan terhadap Brigadir J. Ia tidak bisa lagi membanyol dengan mengunggah joke Gus Dur itu. Tetapi, ia kini semakin menyadari bahwa humor itu semakin dekat dengan kebenaran.
Publik yang sering kecewa terhadap polisi sering membuat sindiran ringan sampai sindiran berat. Di Malang, Jawa Timur, polisi disebut sebagai ‘’silup’’ atau ‘’isilup’’ kebalikan dari ejaan ‘’pulisi’’. Sebutan ini netral tapi tetap ada konotasi negatif dan sudah menjadi bagian dari slank, bahasa tidak resmi.
Yang lebih berat adalah sebutan ‘’wercok’’ yang juga sudah menjadi slank dan dipakai oleh netizen di percakapan medsos maupun di grup pertemanan Whatsapp. Wercok adalah akronim dari ‘’wereng cokelat’’ untuk menggambarkan seragam polisi yang berwarna cokelat. Wereng adalah sejenis hama yang biasanya merusak tanaman padi yang sudah siap dipanen.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi