“Sangat penting. Kita bisa menyiapkan seed vaksin Covid 19 melalui pengembangan ikan zebra,” ujar Prof Nidom. “Lembaga kami akan mengembangkannya,” tegasnya.
Penemuan ini lebih relevan lagi untuk Indonesia. “Ini akan menjadi vaksin yang paling halal. Dari ikan air tawar,” ujar Prof Nidom.
Prof Nidom adalah dokter hewan lulusan Universitas Airlangga Surabaya. Doktornya di Tokyo dan Airlangga. Guru besarnya juga di Airlangga. Ia juga dosen di situ. Awalnya. Lalu terjadilah ketidakcocokan antara rektor Unair di masa nan lalu dengan Nidom.
Nidom pun mufaraqah.
Nama Nidom berkibar di masa wabah flu burung. Disertasi doktornya memang tentang flu burung. Ia adalah doktor pertama di bidang itu.
BACA JUGA: Mikra Gugat
Mengapa dipilih ikan zebra?
“Sudah ada literatur penggunaan ikan zebra sebagai kelinci penelitian,” ujar Nidom. Yakni di Swiss. Di bidang pengobatan kanker.
Sel kanker dari pasien dimasukkan ke ikan zebra. Diteliti. Ikan itu diobati dengan berbagai pilihan obat kanker. Yang lama maupun temuan baru. Dilihat mana yang punya pengaruh.
Maka ketika pandemi Covid melanda Indonesia Prof Nidom terpikir ikan zebra. “Carinya sulit. Terutama yang memenuhi syarat untuk penelitian,” katanya. “Kami harus menunggu mereka kawin dulu dan beranak. Lebih tiga bulan,” tambahnya.
PNF lantas membuat tiga kelompok penelitian. Masing-masing kelompok 15 ikan zebra. Kelompok pertama: yang insangnya ditetesi virus Covid-19. Kelompok kedua: yang perutnya dimasuki virus lewat suntikan. Kelompok ketiga: yang airnya saja yang diberi virus.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi