Selasa, 21 April 2026, pukul : 20:01 WIB
Surabaya
--°C

Relawan Anies Alumni Universitas Gadjah Mada: Perlu Capacity Building bagi Relawan Anies

KEMPALAN: Politik sejatinya tak melulu soal bagaimana merebut kekuasaan (how to get the power). Politik dalam wujudnya yang paling sempurna menyangkut persoalan yang jauh lebih substansial, yakni tentang membangun dan menata sebuah negara.

Partai politik sebagai institusi sah yang memproduksi calon pemimpin mestinya merekrut kader terbaik dengan bekal pendidikan politik memadai. Kader terbaik adalah mereka yang sengaja dipersiapkan parpol melalui serangkaian sekolah kader politik berjenjang guna menempa calon pemimpin negara di masa datang.

Kata kuncinya adalah para anggota parpol beserta calon kadernya termasuk relawan aktifnya perlu dibekali dengan mekanisme pembelajaran yang berkelanjutan dan penugasan yang relevan sehingga paling tidak memiliki kapabilitas dan attitude yang tepat untuk menjadi calon wakil rakyat. Jangan sampai ada kesan bahwa untuk menjadi calon wakil rakyat cukup hanya dengan isi tas yang memadai, tapi isi kepala, khususnya otaknya, tidak mendapatkan perhatian.

Larry Diamond dan Richard Gunther dalam Political Parties and Democracy (2001) tiada henti mengingatkan parpol tentang pentingnya merekrut kader dan relawan politik berkualitas yang dipersiapkan sebagai calon pemimpin masa depan. Dalam konteks inilah, penting ditegaskan bahwa edukasi politik merupakan sarana menginternalisasi ideologi dan nilai humanis bagi setiap kader guna menciptakan tatanan hidup yang demokratis dan berkeadaban.

Jika diringkas secara sederhana, baik buruknya negara ini sangat tergantung bagaimana parpol melakukan kaderisasi dengan baik. Jika abai terhadap kualitas perkaderan, bisa dipastikan negara ini hanya akan dikelola pemimpin amatir yang gagap menghadapi tantangan politik di tengah dinamika tantangan kebangsaan yang semakin berat dan ekstrem.

Hal ini semakin parah ketika kita melihat kualitas para wakil rakyat, baik di DPRD maupun DPR RI, di mana kualitas pemahaman mereka terhadap isu-isu atau materi legislasi yang akan dibahas seringkali lebih banyak didikte oleh pandangan atau kepentingan pihak eksekutif. Hal ini ke depan tentu tidak boleh dibiarkan lagi terjadi jika kualitas dan sikap profesional anggota dewan betul-betul terwujudkan dalam setiap bentuk aktivitas demi membela kepentingan rakyat yang diwakilinya.

Politisi kita sering terburu-buru berbicara pemilu, sementara enggan memahami realitas sosial melalui aktivitas kajian politik dan kerja-kerja program politik dan kemasyarakatan jangka panjang. Riset politik perlu dilakukan oleh partai politik atau politisi untuk mendapatkan data-data sosial sebagai basis merancang agenda-agenda program politik yang riil dan sesuai dengan kebutuhan konstituennya.

Dalam konteks politik elektoral, pemahaman konstituen dan pemetaan aspek politik dan non-politik di wilayah atau daerah pemilihannya akan mengantarkan kita pada bagaimana memahami realitas yang sebenarnya menyangkut the level of playing field daerah pemilihannya.

Membangun imej politisi sesuai yang diharapkan bukan perkara gampang. Di dalam iklim kompetisi yang ketat dan imej politik yang beragam membuat partai politik dan politisi tidak mudah membentuk imej politiknya.

Dalam perspektif marketing politik, partai politik dan politisi harus menyadari dan memahami persoalan, harapan dan selera masyarakat. Hal ini membutuhkan kajian untuk memperoleh data-data sosial dan memahami realitas sosial. Sehingga partai politik dan para politisi membangun imej politik berbasis pada kebutuhan, harapan dan selera masyarakat, khususnya di dapil konstituennya.

Para calon anggota partai politik termasuk relawannya mesti memahami konteks demikian sehingga tingkah polahnya selalu matched dengan kepentingan konstituennya. Jangan sampai apa yang diperjuangkan oleh anggota perwakilan rakyat tidak sesuai atau tidak relevan dengan aspirasi yang diperjuangkan oleh segenap konstituennya.

Kita selalu terjebak pada persoalan uang dan uang jika berdiskusi tentang modal (capital) politik ketika berbicara soal kontestasi politik, dimulai dari pilpres, pileg, dan pilkada. Padahal, terdapat sumber daya atau modal lain yang dapat dimobilisasi agar tujuan politiknya tercapai. Termasuk dalam hal ini tujuan memenangkan Pilpres 2024.

Terdapat beragam sumberdaya yang dapat dikonversi menjadi modalitas politik. Meski modal ekonomi (uang) paling gampang dikonversi ke dalam mobilisasi dan beragam dukungan politik akan tetapi norma ideologis, kepemimpinan, organisasi, pengetahuan, jaringan dan dukungan kekuatan-kekuatan sosial keagamaan yang lain juga sangat potensial dapat dimobilisasi menjadi modal politik.

Seorang calon presiden dan wakil presiden harus menyadari apakah telah memiliki beragam sumberdaya tersebut atau tidak. Jika tidak, bagaimana cara menggalangnya dan mentransformasikannya hingga menjadi sumber legitimasi politik sebagai bekal memenangkan Pilpres 2024.

Salah satu sumberdaya pemenangan capres dan cawapres dalam kontestasi pilpres adalah dukungan masif para relawan pendukung capres dan cawapres yang ikut pilpres. Mereka umumnya bermodalkan semangat yang luar biasa kuat dan karena alasan simpatinya kepada sosok capres yang didukungnya. Sehingga muncullah begitu banyak kegiatan deklarasi organ relawan pendukung capres di sana sini, yang umumnya lebih karena simpati, kesamaan visi, dan ngefans kepada calon presiden yang didukungnya.

Yang menjadi soal kemudian, apakah dukungan militansi organ relawan ini akan berkontribusi kepada get out the vote bagi capres yang didukunganya pada saat hari H pemilihan. Yang kita lihat secara obyektif dan dari berbagai sumber Informasi sahih, tampaknya pemahaman mereka tentang aspek kerelawanan serta langkah taktis yang akan dijalankannya ke depan masih seringkali ambigu, belum terukur dan belum konkret.

Makanya yang sering kelihatan adalah model relawan yang sekadar tempat berkumpul ajang narsis, relawan pencari rente yang jual proposal untuk bikin acara atau bertindak sebagai event organizer, atau marak organisasi relawan sebagai kumpulan fans club kepada capres yang diusung serta relawan profesi atau kelompok masyarakat tertentu yang bikin deklarasi secara meriah tanpa ada tindak lanjut riil yang terukur dan terencana.

Tanpa pemahaman yang jelas tentang visi dan misinya, gerak mereka seringkali random atau zig zag di tengah perjalanan gerakan relawan. Semestinya sejak awal mereka dibekali dengan orientasi gerakan relawan yang cukup dan selanjutnya menerima penugasan dan sekaligus pendampingan yang memadai dalam rangka tugas-tugas dari pengurus organ relawannya.

Ketidakcermatan mengelola kegiatan para relawan akan berakibat gerakan relawan menjadi stagnan, lambat, bahkan keluar dari keanggotaan gerakan relawan serta tidak efektif menjadi frontliners bagi capres yang didukungnya guna menyampaikan informasi-informasi terkait profil, visi, misi, platform, program kerja serta hal-lain yang terkait dengan pasangan capres cawapres yang didukung.

Intinya perlu diberdayakan atau istilahnya program Capacity Building bagi para anggota relawan dan sekaligus pengurus organ relawan agar mereka mampu dan efektif dalam menjalankan perannya sebagai relawan yang efektif sesuai dengan positioning gerakan relawannya secara tepat.

Dalam konteks Pilpres 2024, peran relawan menjadi sangat sentral dalam perannya sebagai garda terdepan dalam proses persuasi, penyampaian informasi serta moblisator pengumpul suara untuk kemenangan pilpres sekaligus kemenangan pileg.

Oleh karena itu, mobilisasi relawan-relawan pendukung Anies menjadi wajib dan penting disolidkan dengan target utama, menguatkan nilai popularitas dan elektabilitas Anies secara maksimal sehingga menjadi pilihan utama parpol untuk mengusungnya dan tentunya sukses memenangkan Pilpres 2024.

Relawan merupakan simbol dukungan rakyat dan dukungan sumberdaya non-partai yang sangat strategis bagi pemenangan Anies. Upaya menguatkan kapabilitas dan kemampuan relawan melalui program Capacity Building bagi semua unsur relawan-relawan pendukung Anies, menjadi sangat strategis dan penting untuk dilakukan seawal dan seefektif mungkin.

Relagama sebagai Relawan Anies Alumni Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan program Akademi Relawan Anies yang dimaksudkan sebagai wadah pembekalan dan konsolidasi pemenangan dari semua unsur relawan pendukung Anies. Program ini sekaligus menguatkan barisan kolektif relawan untuk memenangkan Anies di masing-masing organ relawannya atau lebih difokuskan di masing-masing wilayah elektorat atau dapilnya, tentu sifatnya gratis atau dikerjasamakan dengan pihak donatur atau sponsor.

Materi pelatihan yang akan diajarkan dalam program ini berupa: People Skills, Communication and Persuasive Skills, Storytelling Skills, Kerelawanan dan Manajemen Relawan, Manajemen Kampanye dan Branding Relawan, Kampanye Milenial, Mobilisasi Relawan dan Konstituen Lokal, Manajemen Komunitas, Materi Pemilu 2024, Pembekalan dan Penguatan Saksi Basis Relawan (mobilisator, operator/enumerator and keeper/pengamanan suara), dan lainnya.

Sementara program khusus juga diberikan melalui program ini, melalui program: Program Manajer Komunitas Relawan, Camp Anies, Program Social Change Activist, Program Lifeskills dan Kewirausahaan, Program Marketplace, Program Relawan, Program Online Micro-Volunteering, Program Rumah Anies, Program Menulis (Tabloid A4i), Program Pendampingan, Program Orientasi serta Pemagangan dan lainnya.

Rencananya program ini diberikan kepada semua relawan aktif di berbagai organ relawan pendukung Anies dengan fokus awal di Pulau Jawa dan berlanjut ke seluruh Indonesia dengan melibatkan unsur-unsur lintas alumni perguruan tinggi dan tim ahli relawan nasional dan relawan daerah pendukung Anies di seluruh Indonesia.

Di markas Relagama Yogyakarta juga akan diselenggarakan Kelas Orientasi dan Pengenalan Gerakan Relawan Anies setiap 2 minggu sekali yang melibatkan calon relawan aktif, pengurus relawan, dan aktivis lintas organisasi lain sevisi yang sama-sama mendukung ide atau gerakan pemenangan Anies.

Prinsip kolaboratif, kesederhanaan, sikap respek, relationship building, learning-centered, dan simbiosis mutualisme akan sangat menentukan keberhasilan program ini ke depan. (kba)

Irfan Riza, Presidium Relagama Pokja Program and Capacity Buiding dan Koordinator Akademi Relawan Anies

Editor: Freddy Mutiara

 

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.