KEMPALAN: Tawa riang sejenak menggantikan suara peralatan medis pada Sabtu (30/5) di Rumah Sakit Anak Al-Rantisi di Gaza City, saat para relawan menggelar berbagai permainan dan aktivitas bagi anak-anak penderita kanker. Momen ini menghadirkan sejenak kelegaan di tengah perjuangan mereka melawan penyakit dan situasi perang.
Acara tersebut diselenggarakan oleh tim dukungan psikologis dan hiburan dari Komite Mesir untuk Bantuan Masyarakat di Jalur Gaza (Egyptian Committee for Relief of the People of the Gaza Strip). Anak-anak berpartisipasi dalam berbagai permainan, melukis wajah, dan aktivitas lainnya yang bertujuan untuk memberikan dukungan emosional kepada para pasien beserta keluarga mereka.
“Anak-anak di Gaza menjalani hidup dalam situasi yang luar biasa akibat perang, sehingga setiap senyuman dan momen kebahagiaan menjadi sangat berarti,” ujar Suleiman Aboud, seorang badut relawan.
Aboud mengatakan banyak anak telah mengalami penderitaan dan rasa takut, serta membutuhkan kesempatan untuk bermain sekaligus mengekspresikan diri. Dia menambahkan, dukungan seharusnya mencakup tidak hanya perawatan medis, tetapi juga perawatan psikologis dan sosial.
Para orang tua menyambut baik inisiatif tersebut.
“Beragam aktivitas ini membantu anak-anak untuk melepaskan diri, meskipun hanya sejenak, dari suasana penyakit dan proses perawatan,” tutur Ihsan Abdul Aal, yang anaknya sedang menjalani perawatan kanker di rumah sakit tersebut.
Rafif Abu Ouda, salah seorang pengungsi, menuturkan bahwa dirinya sudah berbulan-bulan tidak melihat putrinya, Samah (12), sebahagia ini. Samah mengungkapkan bahwa bernyanyi dan menari bersama para relawan membuatnya merasa gembira terlepas dari penyakit yang dideritanya.
Acara tersebut digelar di tengah krisis kesehatan mental yang semakin memburuk di Gaza setelah lebih dari dua tahun dilanda konflik.
Abdullah Al-Jamal, direktur rumah sakit jiwa di Gaza, menggambarkan situasi tersebut sebagai “katastrofik.” Dia mengatakan satu-satunya rumah sakit jiwa di wilayah tersebut telah hancur akibat konflik, dan kelangkaan obat-obatan serta minimnya tenaga spesialis semakin membatasi layanan perawatan. Dia menambahkan bahwa banyak anak-anak penderita kanker juga menjadi tidak dapat menerima diagnosis maupun pengobatan.
Kehancuran rumah sakit, ditambah dengan kelangkaan obat-obatan esensial yang parah, telah membuat pasien muda kehilangan akses terhadap kemoterapi, pencitraan medis (imaging), atau perawatan pendukung dasar. Akibatnya, penyakit yang seharusnya bisa disembuhkan kini semakin sering berujung menjadi tragedi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan lebih dari 11.000 pasien kanker di Gaza membutuhkan evakuasi medis akibat keterbatasan kapasitas perawatan.
Para ahli mengatakan aktivitas rekreasi tidak dapat mengatasi krisis yang lebih luas, tetapi dapat membantu mengurangi stres psikologis serta menghadirkan momen kebahagiaan singkat bagi anak-anak.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi