Etnis Melayu menjadi minoritas yang tidak terlalu menonjol dalam peran ekonomi dan politik. Tetapi, mereka terhibur dengan diberi posisi sebagai presiden dalam sistem pemerintahan parlementarian Singapura. Dalam sistem ini perdana menteri menjadi kepala pemerintahan yang mengendalikan kebijakan setiap hari. Presiden sebagai kepala negara lebih banyak menjalankan peran seremonial.
Lee, anak sulung dari empat bersaudara dalam keluarga China kelas menengah, menempuh pendidikannya di Raffles College Singapura sebelum mendapatkan gelar sarjana hukum dari Cambridge University, Inggris.
Ia menikah dengan pengacara Kwa Geok Choo pada tahun 1950. Pada tahun yang sama saat ia membuat firma hukum Lee & Lee dengan adiknya, Lee Kim Yew. Istrinya meninggal pada 2010 di usia 89 tahun setelah sakit cukup lama. Lee meninggal pada 2015 dan ditangisi oleh rakyat Singapura yang merasakan hasil pembangunannya.
Sepeninggalan Lee Singapura masih tetap memegang haluan pembangunanisme yang menekankan kesejahteraan dan mengabaikan kebebasan. Lee membuktikan bahwa demokrasi liberal ala Barat tidak diperlukan di Asia.
BACA JUGA: Cacar Monyet
Lee memperkenakan konsep ‘’The Asia Value’’ Nilai Asia, yang berbeda dari ‘’Nilai Barat’’. Nilai Barat menekankan pada kepentingan individu, sementara Nilai Asia lebih mementingkan komunalisme dan kebersamaan.
Model kapitalisme-otoritarian ala Singapura ini sekarang diterapkan di China dan mendapatkan sukses besar. Ketika pemimpin China Deng Xiaoping memulai reformasi ekonomi China pada awal 1990-an ia terus terang memuji Singapura dan ingin melakukan kopi-paste.
Jalan Singapura itulah yang sekarang ditempuh oleh China dengan sukses. Banyak negara lain yang tergoda untuk mengikuti jalan yang sama, membangun ekonomi tanpa demokrasi.
Indonesia juga sangat tergoda untuk mengikuti jalan Singapura. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi