KEMPALAN: SEJARAH selalu berulang. Begitu kata orang bijak pandai. Tetapi, tokoh sejarah hanya lahir satu kali. Orang-orang yang mengukir sejarah besar hanya lahir sekali dalam sejarah. Itulah yang terjadi dalam sejarah bangsa-bangsa seluruh dunia. Indonesia mengalami hal itu dengan Sukarno, Singapura mengalami hal itu dengan Lee Kuan Yew.
Dua orang itu adalah tokoh besar yang lahir bersamaan dengan kelahiran bangsanya sebagai negara bangsa, ‘’nation-state’’. Dua-duanya merupakan tokoh besar yang dilahirkan oleh zamannya. Sukarno lahir dan besar dari gejolak zaman pada era kolonialisme, dan Lee bergumul untuk menciptakan identitas sebuah bangsa pasca-kolonialisme.
Sukarno meninggalkan PR yang sangat banyak bagi bangsa Indonesia. Sampai sekarang para penerus Sukarno seperti meraba-raba arah pembangunan bangsa yang diwariskan para founding parents negara. Setiap kali ganti rezim, setiap kali juga ganti kebijakan, tidak ada kesinambungan yang menjamin arah pembangunan yang berkelanjutan.
Lee Kuan Yew (1923-2015) meninggalkan Singapura dengan PR yang sudah dia tuntaskan. Ia beruntung meninggalkan Singapura dan menunggui proses transisinya dari Goh Chok Tong sampai kepada sang anak Lee Hsien Loong sekarang ini. Singapura terlihat berjalan di atas rel dan pondasi yang dibangun oleh Lee.
Lee mempunyai tempat tersendiri dalam sejarah dunia. Ia mematahkan mitos yang dipercaya bahwa kemakmuran sebuah bangsa bisa dicapai melalui demokrasi dan kapitalisme. Itulah yang diungkapkan oleh Francis Fukuyama yang memproklamasikan ‘’the end of history’’ pada 1990. Ketika itu Uni Soviet sebagai ikon komunisme dunia runtuh. Amerika dengan sistem kapitalisme dan demokrasi liberal menjadi penguasa dunia.
BACA JUGA: Bendera LGBT
Kapitalisme-liberal diyakini menjadi satu-satunya sistem yang paling tepat untuk membawa kemakmuran dan kesejahteraan manusia. Alasannya, sistem inilah yang paling tepat dan paling sesuai dengan nilai dasar kemanusiaan yang menghendaki kebebasan.
Pandangan Fukuyama ini kontroversial dan banyak mendapatkan reaksi keras. Tetapi Fukuyama bersikeras bahwa pandangannya benar. Pada akhirnya kapitalisme-liberalisme yang bakal menjadi juara dunia. Negara-negara yang belum menerapkan kapitalisme-liberalisme belum mencapai akhir sejarah, karena masih menjalani proses.
Singapura menjadi bukti tesis Fukuyama keliru. Singapura menjadi negara makmur dan sejahtera tanpa perlu ada demokrasi. Dalam masa 50 tahun kemerdekaannya sejak 1965 Singapura mengebut membangun negara dan bertransformasi dari negara ketiga menjadi negara pertama.
Lee Kuan Yew menjadi artsitek utama transformasi itu. Seperti yang diceritakannya dalam memoar ‘’From the Third to the First’’, Lee menggunakan tangan besi untuk menghadapi komunisme yang menguat pasca ditinggalkan Inggris. Lee juga bertindak keras menghadapi korupsi dan inefisiensi yang menjadi bagian dari kebiasaan etnis China.
Lee, pengacara berpendidikan Cambridge, dikenal sangat sedikit memberi toleransi untuk oposisi. Tapi, ia menerapkan demokrasi ‘’one man one vote’’ ala seperti di Barat dengan memberikan hak kepada setiap warga Singapura dewasa untuk memiliki suara dalam pemilihan umum.
Lee menjadi fans berat Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher yang terkenal sebagai ‘’The Iron Butterfly’’ yang menjadi perdana menteri Inggris terlama dalam sejarah. Thatcher menjadi perdana menteri selama 20 tahun sejak 1979 sampai 1990, dan memerintah dengan tangan besi meskipun tetap dalam koridor demokrasi prosedural.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi