Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 22:23 WIB
Surabaya
--°C

Poltak

Etnis Jawa adalah mayoritas di Indonesia dengan proporsi hampir 50 persen, sementara etnis Batak jumlahnya sekitar 3,5 persen, termasuk etnis nasional yang kecil bersama dengan entitas-entitas etnis lainnya. Feodalisme melahirkan superioritas satu etnis di atas etnis lainnya.

Suku Jawa yang menjadi mayoritas menganggap dirinya sebagai suku yang lebih berbudi dan lebih beradab dari lainnya.  Suku Jawa menganggap dirinya ‘’alus’’ atau halus. Suku Jawa merasa refined, dimurnikan, seperti Pertamax yang lebih murni ketimbang bensin biasa.

Orang Jawa feodal menganggap orang lain kurang alus dan bahkan kasar. Masyarakat diluar orbit Majapahit–sebagai entitas feodal besar ketika itu–disebut sebagai wilayah mancanegara yang diperlakukan sebagai daerah taklukan.

Jawa menjadi punjer atau episentrum kekuasaan dan peradaban. Jawa bukan sekadar sebutan etnis dan entitas kekuasaan, tapi juga menjadi konsep peradaban. Jawa berarti halus, berbudi, dan maringi (memberi). Orang yang tidak punya sopan santun disebut ‘’tidak jawa’’, anak-anak yang belum akil balig disebut ‘’gak jawa’’ atau tidak jawa. Orang yang pelit disebut ‘’tidak jawa’’.

Kalau Ruhut Sitompul disebut ‘’tidak jawa’’ itu bukan sekadar untuk menggambarkan etnisitas, tapi sekalgus menggambarkan sikap yang tidak sesuai dengan standar Jawa. Terasa ada unsur diskriminasi dalam penyebutan itu. Tetapi itulah yang terjadi sampai sekarang, karena sisa-sisa feodalisme belum sepenuhnya terkikis.

BACA JUGA: Presiden Bongbong

Dalam berkomunikasi orang Jawa punya tatakrama dan tatabahasa bertingkat-tingkat. Edward T. Hall menyebut tatakrama dan tata bahasa Jawa yang penuh unggah-ungguh itu sebagai high context culture, sementara tatakrama Batak yang lebih egaliter yang terbuka dikategorikan sebagai low cotext culture. Orang Jawa bangga dengan sebutan high context culture meskipun hal ini menyiratkan stratifikasi sosial yang tidak egaliter dan tidak demokratis.

Ketika penjajah masuk ke Indonesia feodalisme dikekalkan melalui aturan segregasi sosial. Orang-orang Eropa dikategorikan sebagai etnis kelas satu dengan privilege dan perlakuan khusus. Orang-orang Cina dan orang asing dimasukkan dalam kategori tersendiri pada kelas yang lebih tinggi dibanding orang-orang pribumi. Penduduk asli disebut sebagai inlander dan menempati strata sosial paling rendah.

Politik belah bambu menjadi andalan pemerintah kolonial untuk menguasai wilayah jajahan. Devide et impera diterapkan dengan memecah-belah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil supaya mudah ditaklukkan. Divide and conquer, pecah belah dan kuasai, menjadi strategi umum kolonialis dan imperialis Eropa.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.