Minggu, 19 April 2026, pukul : 04:44 WIB
Surabaya
--°C

Tim Naas Indonesia

KEMAPALAN: DALAM sepak bola batas antara pahlawan dan bajingan beda-beda tipis alias beti. Semua pasti sudah paham hal itu. Hari ini seseorang bisa disanjung dan dipuja bak dewa, detik berikutnya dia bisa menjadi sasaran caci maki dan sumpah serapah.

Shin Tae Yong pasti sudah mengetahui hal itu. Awal tahun ini ia dipuja-puja karena berhasil membawa timnas Indonesia maju babak final Piala AFF yang memperebutkan lambang supremasi sepak bola Asia Tenggara. Meski kalah telak dari Thailand dengan agregat 2-6 tapi publik Indonesia berbunga-bunga. Katanya timnas hasil seleksi dan racikan  STY punya masa depan cerah, karena terdiri atas pemain-pemain muda yang penuh bakat.

Empat bulan berikutnya puja-puji berubah jadi caci maki. Dalam pertandingan multi-ajang SEA Games Jumat (6/5) di Vietnam Indonesia dipermalukan 3 gol tanpa balas. Bukan hanya 3 gol itu yang bikin publik marah, tapi permainan yang buruk yang membuat pecinta sepak bola geregetan.

Meskipun baru bermain satu kali tapi kekalahan ini seperti langit runtuh yang mengawali hari kiamat. Masih ada tiga pertandingan lagi di fase grup yang memungkinkan Indonesia lolos ke babak berikutnya. Dua lawan Indonesia relatif lebih ringan, yaitu Timor Leste dan Filipina. Satu tim lagi yang harus dihadapi Indonesia adalah Myanmar. Cukup alot, tapi harusnya Indonesia bisa mengatasi kalau performa tim berada pada level terbaik.

BACA JUGA: Jokowi Adu Jago

Jagat sepak bola sedang gempar karena pertandingan dramatis pada babak semifinal Liga Champions Eropa, pekan lalu. Dua pertandingan semifinal sama-sama menyajikan pertandingan yang membuat suporter deg-degan menahan nafas sampai detik terakhir.

Semifinal pertama Liverpool berebut tiket final dengan Villareal, klub kota kecil dari Spanyol dengan reputasi besar dan dikenal sebagai spesialis juara Liga Eropa yang gengsinya satu level di bawah Liga Champions. Villareal menjadi tim pembunuh raksasa karena di perempat final berhasil menyingkirkan Bayern Muenchen yang secara teknis jauh lebih digdaya.

Semifinal leg pertama berlangsung di kandang Liverpool Stadion Anfield. Liverpool yang sedang menyala-nyala di level domestik dan level Eropa diunggulkan sebagai favorit panas. Dengan mudah Liverpool menang 2 gol tanpa balas.

Pada pertandingan leg kedua di kandang Villareal pun Liverpool tetap menjadi favorit. Modal 2 gol di kantong bisa menjadi jaminan untuk lolos ke babak final. Tapi, di lapangan ceritanya menjadi lain. Villareal membuktikan diri sebagai tim pembunuh raksasa yang sebenarnya. Pada babak pertama Liverpool dihajar dua gol dan skor agregat menjadi seri 2-2.

Semua menahan nafas menunggu drama babak kedua. Dan, drama benar-benar terjadi. Kali ini pemain drama adalah para pemain Liverpool yang melakukan come back dramatis di babak kedua. Liverpool menggila dan mencetak 3 gol sehingga menang dengan agregat 5-2. Dari posisi terjepit seperti telur di ujung tanduk, Liverpool bisa bangkit membalik keadaan dan memenangkan tiket ke final.

Satu semifinal lagi diperebutkan antara Manchester City melawan Real Madrid. Machester City belum pernah menjadi juara Liga Champions dan sangat berambisi mememenangkannya untuk membuktikan supremasinya di Eropa. Dengan pelatih hebat seperti Pep Guardiola, Manchester City boleh bercita-cita setinggi langit tapi akhirnya harus jatuh ke tumit.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.