Minggu, 19 April 2026, pukul : 06:31 WIB
Surabaya
--°C

Tim Naas Indonesia

Real Madrid adalah juara sejati Eropa, sarat dengan pengamalam dan menjadi satu-satunya tim yang menjadi juara Liga Champions back to back 3 kali berturut-turut. Dengan sejarah mentereng seperti itu Real dengan gagah melangkah ke stadion Ettihad kandang City pada pertandingan leg pertama.

Pep Guardiola ialah suhu sepak bola menyerang, terbuka, dan indah. Pelatih Real, Carlo Ancelloti, tidak pernah gentar menghadapi siapapun. Permainan terbuka dan menyerang ala Pep ia layani dengan permainan terukur di pertahanan dan terbuka pada penyerangan. Lima  gol tercipta pada pertandingan itu. Tiga milik City dan 2 milik Real.

Andai saja aturan gol tandang masih diberlakukan, Pep pasti jantungan dan Don Corleto akan berkipas-kipas di atas angin. Tapi aturan baru mengharuskan sebuah tim harus menang dengan selisih gol, dan berapapun jumlah gol tandang yang dicetak tidak ada artinya.

Inilah untuk kali pertama aturan baru gol tandang diterapkan pada kompetisi Champions, dan karenanya pertandingan menjadi jauh lebih menegangkan. City hanya perlu bermain seri untuk bisa lolos ke final, sementara Real harus menang dengan selisih 2 gol.

BACA JUGA: Aborsi

Sebuah perjuangan yang sangat berat. Tapi, tidak bagi Real. Babak pertama tidak ada gol. City hanya 45 menit lagi menuju final. Babak kedua sudah berlangsung separoh jalan. City justru mendapat tambahan satu gol pada menit ke-73. City semakin dekat ke final, dan Real harus siap-siap terdepak.

Pertandingan sudah sampai di pengujung di  menit ke-90. Keajaiban terjadi. Pemain pengganti Rodrygo mencetak gol di menit ke-90 dan disusul satu gol lagi di perpanjangan waktu 90+1. City lemas dan Real mengganas. Pertandingan diperpanjang 2×15 menit, dan City menangis ketika pada menit terakhir terkena hukuman penalti. Karim Benzema menjadi algojo yang dengan dingin memotong leher City dengan tendangan menyusur tanah yang salah diantisipasi oleh kiper City.

Keajaiban terjadi dalam sepak bola. Liverpool menghasilkan keajaiban, dan Real melahirkan keajaiban yang lebih ajaib lagi. Keduanya akan bertemu di final, dan publik akan melihat keajaiban apa lagi yang bakal tersaji di pertandingan puncak di Stade de Franc, Paris 28 Mei nanti.

Keajaiban itulah yang juga diharapkan akan terjadi pada timnas Indonesia dalam pertandingan melawan Vietnam. Keajaiban tidak terjadi. Mengejar 3 gol yang bersarang di babak kedua terlalu berat bagi Indonesia. Keajaiban tidak turun dari langit. Ia lahir dari proses panjang, latihan dan disiplin yang keras, dan atmosfer kompetisi yang profesional.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.