Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 5 Mei 2022 13:53 WIB ·

Aborsi


					ILUSRASI: Unjukrasa antiaborsdi di Amerika Serikat. Perbesar

ILUSRASI: Unjukrasa antiaborsdi di Amerika Serikat.

KEMPALAN: ISU aborsi sedang menjadi topik panas yang menjadi perdebatan luas di Amerika Serikat. Selama ini isu aborsi menjadi konsumsi politik yang selalu membelah masyarakat Amerika menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Kelompok konservatif menentang keras aborsi, sedangkan kelompok liberal mendukung aborsi.

Beberapa hari belakangan ini perdebatan mengenai aborsi menjadi viral secara nasional setelah sebuah dokumen yang berisi kajian Mahkamah Agung Amerika Serikat (Supreme Court)  bocor ke media. Kajian itu menyatakan bahwa keputusan MA pada 1973 yang memperbolehkan aborsi adalah keputusan yang salah. Keputusan itu akan ditinjau ulang dan sangat mungkin akan dicabut dan dibatalkan paling lambat Juni mendatang.

Sejak 1973 Mahkamah Agung Amerika Serikat– sering disebut sebagai SCOTUS, Supreme Coutr of The United States—membuat keputusan yang membuat aborsi legal secara nasional. Keputusan ini diambil atas gugatan perkara Roe vs Wade untuk memutuskan gugatan seorang perempuan asal Texas yang tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan, karena aborsi adalah tindakan ilegal menurut undang-undang negara bagian.

SCOTUS kemudian memenangkan gugatan Roe. Sejak itu aborsi menjadi aktivitas legal di seluruh Amerika Serikat. Semua undang-undang di negara bagian yang mengharamkan aborsi harus dibatalkan.

Semua wanita Amerika boleh melakukan aborsi ketika kandungan tidak melebihi 3 bulan. Setelah 3 bulan sampai 6 bulan seorang wanita boleh melakukan aborsi dengan beberapa syarat. Setelah janin berusia lebih dari 6 bulan seorang wanita hanya boleh melakukan aborsi jika hal itu untuk menyelamatkan nyawa sang ibu.

Roe vs Wade menjadi kasus hukum yang paling poluler di kalangan publik Amerika. Kasus ini menjadi tonggak paling penting dalam sejarah politik Amerika Serikat. Roe vs Wade dianggap sebagai lambang kebebasan warga negara untuk menjalankan hak-hak politik dan hak pribadi warga negara.

BACA JUGA: Hitler dan Ukraina

Roe vs Wade adalah kemenangan besar bagi kubu liberal dan Partai Demokrat. Publik Amerika dengan mudah bisa dibagi dalam dua kelompok dikotomis. Mereka yang mendukung Partai Republik bisa dipastikan akan anti aborsi, dan para pendukung Partai Demokrat selalu bisa dipastikan akan mendukung aborsi.

Dua arus utama politik Amerika ini selalu bersaing untuk merebut simpati publik. Sudah setengah abad keputusan legalisasi aborsi tapi perdebatan tidak pernah selesai dan selalu menajadi debat panas di setiap perhelatan pemilihan presiden. Kelompok-kelompok masyarakat menggabungkan diri ke dalam dua grup, yaitu kelompok ‘’pro-life’’ yang menentang aborsi, dan kelompok ‘’pro-choice’’ yang mendukung aborsi.

Mahkamah Agung AS menjadi lembaga yang unik dan sekaligus sangat powerful dalam tata kelola politik dan tatanegara Amerika. Lembaga ini mempunya wewenang untuk menginterpretasikan konstitusi Amerika dan mengeluarkan keputusan yang bersifat mengikat secara nasional. Fungsi SCOTUS ini lebih mirip dengan fungsi Mahkamah Konstitusi di Indonesia.

Keputusan SCOTUS mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan mengikat, meskipun tidak diundangkan menjadi undang-undang formal. Dalam kasus aborsi juga demikian. Sejak diputuskan setengah abad yang lalu sampai sekarang keputusan itu belum menjadi undang-undang federal. Dalam sistem Amerika, Senat mempunyai kewenangan tunggal untuk membuat undang-undang.

Kasus aborsi ini menjadi unik karena sampai sekarang belum menadi undang-undang resmi. Kendati begitu keputusan SCOTUS mengenai aborsi sudah cukup kuat untuk menjadi alasan melegalkan aborsi secara nasional.

Artikel ini telah dibaca 67 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

KKN Horor

18 Mei 2022 - 16:22 WIB

Kaus Oblong

18 Mei 2022 - 08:00 WIB

UAS

17 Mei 2022 - 17:27 WIB

Upacara Baijiu

17 Mei 2022 - 08:00 WIB

Jokowi, Biden, dan Elon

16 Mei 2022 - 16:11 WIB

一百二十

16 Mei 2022 - 08:00 WIB

Trending di Kempalpagi