Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 09:25 WIB
Surabaya
--°C

Duet Anies-Anin di Senat dan BEM UGM Jadi Teladan Demokrasi

YOGYAKARTA–KEMPALAN: Semasa kuliah Anies Baswedan menjadi Ketua Senat UGM Yogyakarta dan Agustinus Anindya sebagai Ketua BEM. Duet kepemimpinan yang baik, menjadi teladan demokrasi di negeri ini. Anies seorang Muslim, sedangkan Anin, sapaan akrab Agustinus Anindya seorang Nasrani dan etnis Tionghoa.

Proses pemilihan Ketua BEM berlangsung sengit, khususnya saat Anindya terpilih demokratis. Resistensi terhadap Anin yang non-Muslim ini muncul, namun Anies membelanya, mendukung habis-habisan Anin tetap mengemban amanat itu.

Iving A. Chevny, seorang teman Anies Baswedan mengakui, pemilihan Ketua BEM UGM saat itu berlangsung ramai dan sengit. “Saat awal-awal Anin terpilih, banyak resisten yang muncul saat itu,” katanya di Yogyakarta, Jumat, 5 Agustus 2022.

“Bagaimana ini orang dari Kristen jadi ketua, bagaimaana pertangungjawaban ke umat, bla bla bla,” lanjut Iving menirukan ucapan dari mereka yang tidak setuju dengan terpilihnya Anin sebagai Ketua BEM ketika itu.

Tapi itulah proses demokrasi, kata Iving, yang setelah itu tidak muncul lagi resistensi. “Proses boleh panas, setelah itu selesai tidak diperdebatkan lagi,” ucapnya.

Pria asal Samarinda ini mengatakan, duet kepemimpinan Anies sebagai Ketua Senat dan Anin sebagai Ketua BEM ini menjadi teladan jalannya demokrasi. “Ibarat dua Matahari. Anies Muslim, Anin Kristen. Keduanya bisa berjalan beriringan bersinergi mengerjakan program-program,” ungkapnya.

“Selama di BEM, tidak memboikot Anin, mengkudeta juga enggak. Jadi kami yang berafiliasi dengan teman-teman Muslim, enggak ada yang mau mengkudeta Anin dari Ketua BEM,” ungkapnya lagi.

Bahkan, kata dia, 25 program kerja yang dilakukan BEM sukses semua saat itu dalam satu kepengurusan tahun akademik. BEM ada 25 program bisa jalan semua tanpa ada yang gagal.

“Ada PIKM, Ospek, menutup boulevard UGM tidak boleh motor masuk kampus, dan lainnya. Itu ketua Senatnya Anies, Ketua BEM Anin. Enggak ada isu-isu intoleransi. Ini benar-benar miniatur Indonesia yang pluralis,” kata Iving, Wakil Ketua Bidang Internal BEM saat itu.

Agustinus Anindya mengatakan, saat menjelang pemilihan Ketua BEM memang politik identitas muncul. Baginya hal itu lumrah. Namun, pemilihan secara demokratis, politik identitas selesai. “Itu tidak terjadi pada politisi-politisi sekarang ini, baper ya,” katanya.

“Dengan politik identitas, saya dilengserkan pun legal karena ada dalam AD/ART. Namun, itu menjadi komitmen Anies bahwa melengserkan tidak dilakukan. Anies tetap mendukung saya,” tambahnya. (kba)

Editor: Freddy Mutiara

 

 

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.