Indonesia masih jauh dari mimpi itu. Tetapi, para suporter mengharapkan keajaiban itu, meskipun yang didapat kemudian adalah kekecewaan. Umpatan dan caci maki bertebaran di jagat maya. Tagar Timnas Day menjadi trending topik. Isinya lebih banyak kecaman terhadap STY. Ada yang menganggapnya salah strategi, ada yang mengritik pemilihan pemain yang tidak tepat, ada yang mempersoalkan stamina pemain yang kedodoran sehingga tidak cukup bermain dua babak.
Netizen selalu lebih jago dibanding pelatih paling hebat di mana pun. Orang-orang di negara lain dikenal dengan kakinya yang kuat dan karenanya bisa lari kencang. Di Indonesia orang-orang dikenal dengan rahangnya yang kuat sehingga pintar omong besar.
Muncul sindiran timnas yang diplesetkan menjadi ‘’tim naas’’ alias tim sial. Disebut sial karena sudah puluhan tahun puasa gelar. Di level Asia Tenggara gelar terakhir yang diraih Indonesia adalah medali emas di Manila 1991. Sejak itu tidak ada satu gelar level senior pun yang pernah dimenangkan Indonesia.
Sepak bola Indonesia–yang sempat menjadi kekuatan utama di Asia Tenggara–mengalami kemerosotan yang memprihatinkan dalam 30 tahun terakhir. Berbagai upaya dan formula sudah dicoba, hasilnya nihil. Frsutrasi dan gelap mata akhirnya jalan pintas dan instan ditempuh dengan melakukan naturalisasi pemain asing sebanyak-banyaknya.
BACA JUGA: Hitler dan Ukraina
Tata kelola sepak bola nasional masih sangat karut marut. Kualitas kompetisi masih harus banyak dibenahi. Berbagai skandal yang melibatkan pengaturan skor dan kecurangan dalam mengatur pertandingan masih menjadi masalah akut.
Penunjukan STY sebagai arsitek timnas adalah ikhtiar yang butuh kesabaran untuk memperoleh hasil. Sudah banyak yang tidak sabar. Seorang petinggi PSSI mengatakan tidak peduli terhadap proses, yang penting adalah hasil.
Petinggi itu mengharapkan jalan pintas. PSSI pun ingin menempuh jalan pintas. Operasi naturalisasi dilakukan dengan mencari pemain-pemain asing yang mau menjadi warga negara Indonesia. Sudah puluhan pemain asing dinaturalisasi, tapi hasilnya belum kelihatan.
Kali ini proyek naturalisasi dijalankan lagi sebagai cara instan meraih prestasi. Fakta menunjukkan tidak ada satu pun negara di dunia ini yang sukses mengangkat prestasi timnas melalui naturalisasi. Tapi, Indonesia tidak peduli dengan kenyataan historis itu.
Naturalisasi menjadi pilihan untuk memperoleh gelar secara intan. Cara instan seperti itu tidak akan menghasilkan timnas yang berkualitas. Yang muncul adalah ‘’tim naas’’ yang selalu bernasib sial dari turnamen ke turnamen. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi