Kuru melihat masih terdapat kemungkinan akan ada perubahan dari sekularisme asertif menjadi pasif. Perjuangan ideologis selalu bersifat temporer, cair, dan dinamis. Pembuat kebijakan dari masing-masing negara dapat saja berubah, sebab mereka bukanlah makhluk robotik. Akan ditemukan negosiasi di antara kekuatan politik itu untuk menemukan konsensus bersama.
Turki di bawah Tayep Erdogan sekarang bergerak ke arah kanan dengan memberi banyak konsesi kepada kalangan Islam. Pendekatan Erdogan yang populis sebenaranya mirip dengan para pemimpin populis Amerika dan Eropa. Erdogan juga membawa Turki lebih ke kanan dan bergeser dari garis sekularisme yang diperkenalkan oleh Mustafa Kemal Pasha.
BACA JUGA: Bapak Tiga Periode
Politik Erdogan mendapat penentangan keras dari kalangan nasionalis sekuler Kemalis. Sampai sekarang tarik-menarik masih berlangsung dengan keras. Erdogan melindungi kepentingan politiknya dengan kekerasan represif terhadap kalangan oposisi.
Ahmed T Kuru melihat hal ini sebagai proses. Erdogan tentu saja tidak bisa selama-lamanya memimpin Turki. Pasca-Erdogan kemungkinan akan ada kompromi dan sintesa baru dari kekuatan nasionalis dan kalangan islamis.
Indonesia mempunyai problem yang berbeda dengan Prancis, Amerika, maupun Turki. Indonesia bukan negara sekular tapi juga bukan negara agama. Indonesia mempunyai Pancasila yang menjadi perpaduan antara ide-ide politik sekular dengan semangat religiusitas.
BACA JUGA: Cak Imin
Sila ketuhanan menjadi sila utama yang memberi jaminan terhadap peran agama dalam politik nasional. Sila ketuhanan menjadi spirit dan pengayom empat sila lain yang diambil dari gagasan-gagasan sekular seperti demokrasi, keadilan sosial, dan kesejahteraan ekonomi.
Sebagaimana di Amerika, Prancis, dan Turki, Indonesia juga mengalami ketegangan ideologis antara kelompok Islam dan nasionalis. Saat ini rezim Indonesia lebih cenderung kepada ide-ide nasionalis-sekular dan berusaha membendung kebangkitan ide-ide islamis yang menginginkan kembalinya sistem negara Islam maupun sistem khilafah.
Ketegangan ini tidak bisa menjadi zero sum game dengan menghancurkan pihak lain yang tidak sejalan. Indonesia akan menemukan ekuilbrium baru yang bisa mengakomodasi kedua kekuatan itu dengan membentuk konsensus nasional yang disepakati bersama. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi