Sabtu, 18 April 2026, pukul : 22:14 WIB
Surabaya
--°C

Macron

KEMPALAN: Emmanuel Macron terpilih kembali sebagai presiden Prancis pada pemilu yang diselenggarakan Ahad (24/4). Macron mengalahkan lawannya dari Partai Front Nasional, nasionalis garis kanan Marine Le Pen yang terkenal sebagai politisi anti-imigrasi, anti-Yahudi, dan anti-Islam.

Seluruh dunia menyaksikan dengan H2C (harap-harap cemas) karena pertarungan head to head itu diperkirakan akan sangat ketat. Macron akhirnya bisa menang dengan mengumpulkan suara 58 persen. Macron menang bukan karena rakyat Prancis menginginkannya menjadi presiden, tetapi lebih karena pemilih Prancis tidak ingin Le Pen menang.

Meski begitu bukan berarti ancaman gerakan ekstrem sayap kanan berakhir. Dengan mengumpulkan 11 juta suara Le Pen bersumpah akan terus berjuang untuk menjadi presiden. Ia sudah dua kali maju sebagai capres pada 2017 dan 2022.

Kemunculan Le Pen sama dengan kemunculan Donald Trump pada lanskap politik Amerika pada 2016. Trump mengusung tema kampanye ‘’American First’’ yang mengutamakan kepentingan nasional Amerika. Trump terang-terangan anti-imigran dan antagonistis terhadap Islam.

Le Pen lebih ekstrem dari Trump. Dalam kampanye ia tegas menyatakan akan melarang praktik-praktik Islam di ruang publik, termasuk pemakaian hijab untuk perempuan muslim. Ia juga anti-Yahudi dan anti-Eropa. Karena kampanye anti-Islam ini para imigran Prancis yang jumlahnya mencapai 4 juta orang memilih Macron.

Pemilu kali ini adalah torehan sejarah baru bagi Front National sebagai sebuah partai anti-imigran dan anti-Uni Eropa. Di bawah kepemimpinan Le Pen, partai yang dianggap rasis ini berusaha memperbaiki citranya dan terbukti dukungan dari publik meningkat.

BACA JUGA: Partai Kaipang

Marine Le Pen mewarisi kepemimpinan dari bapaknya, Jean Marie Le Pen, pada 2002. Tetapi bapak dan anak itu bermusuhan sehingga sang anak kemudian memecat bapaknya sendiri dari partai.

Di bawah Marine Le Pen perolehan suara Front Nasional terus mengalami peningkatan. Garis politik yang diambilnya sama dengan para pemimpin populis lainnya seperti Boris Johnson di Inggris yang membawa negaranya keluar dari persekutuan Eropa. Andai terpilih sebagai presiden Le Pen—yang sangat mengidolakan Putin–menjadi pemimpin perempuan populis sayap kanan pertama yang menjadi presiden di negara besar.

Perolehan suara untuk Le Pen di putaran pertama pemilu menunjukkan peningkatan di wilayah industri dan juga pedesaan. Para buruh industri dan petani di desa yang merasa terancam oleh imigrasi dan globalisasi memilih Le Pen yang berjanji akan mementingkan orang-orang kulit putih Prancis. Para buruh yang tersingkir dari pekerjaannya menjadi basis dukungan penting bagi Le Pen.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.