Rabu, 29 April 2026, pukul : 23:17 WIB
Surabaya
--°C

Soft Landing

KEMPALAN: Dalam dunia penerbangan dikenal istilah soft landing, pendaratan yang mulus. Ketika sebuah peswat menyelesaikan penerbangannya dengan mulus dan pilot berhasil menjalankan tugas navigasinya melewati berbagai tantangan dalam penerbangan, ia kemudian dituntut untuk bisa mendaratkan pesawat dengan mulus alias soft landing.

Soft landing berlaku juga dalam dunia politik. Seorang penguasa yang mengakhiri jabatannya harus memastikan bahwa dia mendarat dengan soft. Dalam sebuah sistem demokrasi yang mapan, navigasi udara dan petunjuk untuk  take off maupun landing sudah tersedia seperti sebuah manual. Para pilot tinggal menjalankan manual itu sesuai dengan keterampilan politiknya.

Pendaratan tidak selalu mulus. Satu pilot dengan lainnya mempunyai keterampilan yang berbeda-beda. Ada yang bisa mendaratkan pesawat dengan selamat tapi touch down-nya terasa kasar. Ketika roda peswat menyentuh runway ada benturan yang membuat penumpang terguncang.

Ada pilot yang punya feeling halus dan perhitungan yang matang, sehingga bisa melakukan touch down dengan lembut seolah tidak terasa sudah menyentuh runway. Penumpang akan merasakan proses landing yang tidak membawa kekhawatiran sama sekali.

Tetapi, dalam beberapa kasus terjadi perhitungan yang kurang cermat dari sang pilot sampai terjadi hard landing. Memang pesawat tidak sampai celaka, tapi mendarat dengan benturan yang keras, sehingga penumpang terguncang dan beberapa mengalami benjol di kepala.

BACA JUGA: Kotak Amal

Dalam skenario yang lebih buruk seorang pilot bisa gagal mendaratkan pesawatnya dan mengalami crashed landing yang bisa menghancurkan pesawat dan membawa korban nyawa yang mengerikan.

Tiga skenario pendaratan itu terjadi dalam peristiwa politik di tiga negara, Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Tiga pemimpin negara itu, Soeharto, Lee Kuan Yew, dan Mahathir Muhammad telah memberi contoh bagaimana mengendalikan sebuah pesawat dan akibat-akibat yang harus ditanggung karena cara pengendalian yang berbeda-beda.

Soeharto adalah contoh pilot politik yang mengalami crashed landing. Selama mengendalikan pesawat ia melakukannya dengan relatif mulus. Ia bisa membawa pesawatnya terbang tinggi. Tetapi, Soeharto terbang terlalu lama dan mengalami flying fatigue, kelelahan penerbangan, yang membuatnya gagal mendaratkan pesawat dengan mulus. Pesawat akhirnya mengalami crashed dan membawa korban cukup banyak.

Mahathir Muhammad mengendalikan pesawat dalam suasana turbulensi yang sulit. Tidak selamanya cuaca mulus, sesekali ada guncangan yang membuat pesawat tidak stabil. Tetapi, Mahathir punya keahlian yang jeli dalam timing yang tepat dalam mendaratkan pesawatnya. Ia mungkin mendarat dengan agak keras dengan beberapa guncangan. Tetapi, pesawat yang dikemudikannya mendarat dengan selamat dan penumpang tidak ada yang cedera.

BACA JUGA: Lord Luhut

Lee Kuan Yew dianggap paling piawai dalam mengendalikan pesawat dibanding dua sahabatnya. Pesawat yang dikendalikan Lee memang jauh lebih kecil. Tetapi, Lee bisa membuktikan bahwa pesawatnya terbang lebih tinggi dan tetap mulus selama penerbangan.

Ketika sudah waktunya landing, Lee memilih waktu yang tepat dan mempersiapkan segalanya dengan rapid an cerman. Lee mendarat dengan mulus, dan semua penumpang selamat dan merasa puas dengan kemulusan navigasinya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.