Kamis, 30 April 2026, pukul : 00:27 WIB
Surabaya
--°C

Soft Landing

Tiga pemimpin itu mempunyai pendekatan yang sama dalam mengendalikan pesawat. Ketiganya memacu pembangunan ekonomi dengan pendekatan ‘’developmentalism’’ atau pembangunanisme. Ketiganya berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi dengan mengorbankan pembangunan politik dan demokrasi.

Develompemtalism ala Singapura menciptakan negara makmus tanpa demokrasi liberal. Developmentalisme ala Malaysia membawa negara menjadi kompetitif dan mempertahankan kontrol politik yang ketat terhadap lawan-lawan politik. Developmentalisme Indonesia membawa kesejahteraan pembangunan ekonimi dengan mengorbankan demokrasi.

BACA JUGA: Jurnalisme Tuyul

Apakah demokrasi bisa membuat kenyang? Itulah pertanyaan yang coba dijawab oleh developmentalisme. Tiga pilot itu menjawab bahwa demokrasi tidak bisa membuat kenyang, karena itu harus mengalah dulu untuk memberi jalan kepada pembangunan ekonomi. Kalau perut sudah kenyang baru orang bisa berdemokrasi dengan sehat.

Filsuf dan ekonom India Amartya Sen tidak sependapat. Menurutnya, pembangunan ekonomi yang mengorbankan pembangunan demokrasi akan membawa ketidakseimbangan yang bisa menyebabkan crashed landing.

Menurut Sen, pembangunan harus menjadi pembebasan. ‘’Development as Freedom’’ seperti yang ditulis dalam bukunya. Ia mengkritik tolak ukur pembangunan yang hanya diukur berdasarkan kekayaan materi. Menurutnya aspek metafisik seperti kebahagiaan dan kebebasan terhadap diskriminasi juga memiliki relasi dengan aspek materi atau kekayaan.

Amartya Sen juga memberi penjelasan mengenai apa yang ia sebut sebagai ketidakbebasan. Ia menyebutkan bahwa banyak kelompok maupun individu di berbagai penjuru dunia yang masih mengalami berbagai macam ketidakbebasan.

BACA JUGA: Rusia, Ukraina, dan Bola

Ia juga menambahkan, banyak negara besar di dunia menyangkal adanya hak berpendapat oleh individu, hal ini mereka yakini agar pertumbuhan ekonomi dapat dimonitor dengan baik dan cukup mendorong kesejahteraan masyarakat.

Perenggutan kebebasan tersebut mencakup hak politik dan menyatakan pendapat.  Klaim tersebut salah satunya dinyatakan oleh Lee Kuan Yew, Perdana Menteri pertama Singapura. Namun klaim ini kemudian dibantah oleh Amartya Sen bahwa hanya ada sedikit bukti bahwa otoritarianisme dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Ia secara khusus mempertanyakan klaim Lee Kuan Yew yang memperkenalkan develompentalism atau pembangunanisme sebagai strategi pembangunan.

Sen menegaskan bahwa inti pembangunan adalah pembebasan. Bukan hanya pembebasan dari kemiskinan dengan mendapatkan kemakmuran ekonomi, tetapi pembebasan dari keterkungkungan dan ketidakbebasan berekspresi dan berpendapat, sebagaimana yang diidamkan oleh demokrasi.

Sen memberi kritikan terhadap asumsi yang hanya menilai pembangunan hanya meliputi aspek materi. Pembangunan mempunyai berbagai variabel baru yang bersifat non-materi seperti kebabasan individu dan dan kualitas hidup manusia secara psikis untuk mengekspresikan keyakinan politik, budaya, dan agamanya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.