KEMPALAN: Revolusi teknologi informasi membawa tantangan dan peluang bagi media dan jurnalisme. Di satu sisi revolusi digital membawa berkah dengan ketersediaan informasi yang melimpah, tapi di sisi lain keberlimpahan informasi itu membawa bencana bagi media konvensional yang secara mendadak kehilangan basis pembaca tradisionalnya.
Revolusi memakan anak kandungnya sendiri. Reformasi teknologi informasi membawa korban media konvensional yang sekaligus juga kehilangan basis pendapatan dari iklan. Revolusi teknologi informasi telah merevolusi dunia media secara keseluruhan. Pola manajemen media konvensional menjadi obsolete dan nilai-nilai jurnalisme konvensional harus beradaptasi dengan nilai-nilai jurnalisme baru yang berbasis pada budaya digital.
Dunia media menghadapi perubahan yang brutal. Hanya dalam tempo 10 tahun sejak teknologi digital menemukan Android, pola baca dan pola konsumsi berita berubah drastis. Dalam menghadapi setiap fase perubahan teknologi sepanjang sejarah, media bisa menyesuaikan diri dan beradaptasi. Tetapi, kali ini era baru telah lahir dan era lama telah berakhir.
Di Indonesia fenomena perubahan zaman dihadapi dengan lentur. Dunia media bisa mengadopsi teknologi dan memanfaatkannya untuk memperbaiki diri. Sejarah pers di Indonesia dalam dua puluh tahun terakhir menunjukkan dialektika dengan teknologi yang melahirkan perubahan-perubahan baru.
Masuknya modal besar ke industri media pada era 1980-an menandai munculnya era industrialisasi media. Hal itu ditandai dengan ekspansi koran besar yang agresif ke berbagai daerah melalui teknologi cetak jarak jauh (remote printing).
BACA JUGA: Kotak Amal
Dengan teknologi ini proses spasialisasi terjadi karena kendala jarak dan waktu bisa diatasi. Perusahaan media di Jakarta atau Surabaya bisa menginstal teknologi cetak jarak jauh dan pada saat bersamaan bisa mencetak edisi yang sama di ujung Aceh sampai ke pucuk Papua.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi