Kamis, 30 April 2026, pukul : 02:35 WIB
Surabaya
--°C

Jurnalisme Tuyul

Dengan hapusnya persyaratan perizinan pendirian media, kelompok media besar semakin leluasa melakukan ekspansi konglomerasi ke berbagai daerah. Lahirlah dua kelompok konglomerasi media terbesar yaitu Kompas-Gramedia dan Jawa Pos Group, yang masing-masing mempunyai ratusan media di berbagai wilayah kabupaten-kota di seantero Indonesia.

Revolusi teknologi digital meluas di Indonesia pada awal 2010 ditandai dengan diperkenalkannya smart phone dan android. Pola baca dan pola konsumsi informasi masyarakat mengalami revolusi total, dari awalnya mengonsumsi koran setiap pagi berubah menjadi mengonsumsi berita dari gajet setiap saat.

BACA JUGA: Oki dan KDRT

Media cetak mengalami kejatuhan yang dramatis ditandai dengan hancurnya oplah karena pelanggan berhenti berlangganan koran. Pada saat bersamaan pemasukan dari iklan yang menjadi nafas utama perusahaan media juga mengalami penurunan yang sangat dramatis. Perolehan iklan media cetak mengalami kemerosotan sampai 90 persen dan bahkan lebih.

Era digital yang lebih demokratis seharusnya memberi peluang kepada non-konglomerasi untuk lebih bisa bersaing dengan media konglomerasi karena dunia digital memberikan lapangan yang rata dan datar (level playing field) yang memungkinkan persaingan yang lebih terbuka.

Tetapi hukum besi media tetap terjadi, dan era digital yang seharusnya memberi kesempatan kepada media-media non-mainstream untuk lebih berkembang ternyata tidak terjadi. Konglomerasi cetak yang praktis sudah mati, ternyata dengan cepat bisa merevitalisasi dirinya dan langsung bertransformasi menjadi konglomerasi media digital.

Kelompok konglomerasi media lama masih tetap menguasai persaingan media digital. Di dunia broadcast muncul pemain-pemain baru yang langsung menjadi raksasa konglomerat yang menguasai jaringan televisi nasional dan lokal. Mereka berasal dari kelompok konglomerasi non-media yang kemudian melakukan ekspansi masuk ke bisnis media. Di masa Orde Baru, pola konglomerasi media berkembang dari bisnis media ke bisnis non media seperti yang dilakukan Jawa Pos Group dan Kompas Gramedia. Di era digital pola konglomerasi berbalik dari non-media masuk ke bisnis media.

Secara teoritis demokrasi media akan terwujud dengan lahirnya era digital. Media juga seharusnya lebih independen dan kritis karena tidak lagi harus menggantungkan perolehan iklan dari sumber-sumber pemetintahan.

Di era digital sumber pendapatan (revenue stream) seharusnya lebih terbuka. Pendapatan dari iklan-iklan digital seperti programmatic ads, adsense, dan Google ads, bisa menjadi alternatif pemasukan iklan yang bisa membuat media lebih independen.

Kenyataannya, sumber pendapatan digital masih banyak menghadapi masalah karena munculnya news aggregator yang menyedot berbagai berita dari media tanpa memberikan kompensasi pembayaran. Tetapi, lepas dari itu, iklan programatik yang dikelola secara profesional akan bisa menjadi alternative revenue yang menarik untuk perusahaan media.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.