Dalam kendali kapitalis tersebut, Presiden terkesan terus membangun kemasan retorika meyakinkan rakyat bahwa kebijakan negara pada jalur yang benar, tapi sebenarnya kosong esensi, dari situlah kita mengenali pidato omon-omon.
Oleh: Sutoyo Abadi
KEMPALAN: Mythomania adalah gangguan psikologis di mana seseorang memiliki kebiasaan berbohong secara terus-menerus dan kompulsif, sering tanpa tujuan jelas atau motif tertentu.
Kondisi seperti ini juga dikenal sebagai pseudologia fantastica atau kebohongan patologis, pertama kali diidentifikasi oleh psikiater Jerman Anton Delbrück pada 1891.
Pasca berlakunya UUD 2002 dalam ketidak-berdayaannya biasa terserang wabah mythomania. Kebohongan dan tipuan menjelma bukan lagi sekadar instrumen taktis, polanya akan menjadi fondasi eksistensial bagi para penguasa yang terkena virus mythomani.
Sudah berkali-kali Presiden Prabowo Subianto diingatkan agar segera kembali ke Pancasila dan UUD 1945 asli, tetap diabaikan.
Dampaknya Kepala Negara yang terjangkit mythomania akan hidup dalam (suatu) keyakinan salah atau irasional yang bertentangan dengan realitas. Istilah ini sering digunakan secara metaforis untuk menggambarkan kondisi mental atau pikiran yang rumit dan menyesatkan, seperti terjebak dalam jaringan pikiran delusif yang sulit dilalui.
Siapapun Kepala Negara berpijak dengan UUD 2002 akan ternjerat dalam (suatu) kesulitan karena kendali negara sudah menjadi milik kapitalis.
Mereka akan menggunakan otoritas negara sebagai perisai untuk memvalidasi kebohongan dan kepalsuannya, maka masyarakat akan hanyut dalam kepalsuan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesian menguap, menghilang, kejujuran menjadi barang langka.
Negara terpaksa harus menciptakan narasi-narasi fantastis, mulai dari klaim keberhasilan pembangunan yang manipulatif hingga penggunaan data palsu, semata-mata untuk membius publik agar tetap percaya pada otoritas yang sebenarnya rezim sudah limbung.
Kabinet Merah Putih dikuasai mazhab kapitalis, sudah menguasai ring terdekat dengan Prabowo Subianto. Dampaknya Presiden seperti hanya bisa bergerak di bawah kendali kekuatan di luar dirinya (kekuatan kapitalis).
Dalam kendali kapitalis tersebut, Presiden terkesan terus membangun kemasan retorika meyakinkan rakyat bahwa kebijakan negara pada jalur yang benar, tapi sebenarnya kosong esensi, dari situlah kita mengenali pidato omon-omon.
Mythomania dalam institusi publik menciptakan lingkaran setan di mana suatu kebohongan kecil diproduksi untuk menutupi kebohongan besar sebelumnya, hingga pada akhirnya menciptakan sebuah realitas alternatif yang sepenuhnya terputus dari kondisi masyarakat yang sebenarnya. (Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia, 2025).
Negara hidup dalam puing-puing delusi seperti ini dan dibangun di atas fondasi dusta, Presiden akan terjebak dalam ketidak-berdayaan karena terserang virus mythomania sama artinya negara sedang menunggu kehancurannya.
*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi