Kini bahkan untuk makan siangpun banyak keluarga tidak mampu menyediakan dengan dapur rumah sendiri. Ibu tidak ada. Jangan-jangan rumah para buruh tidak memiliki dapur yang layak.
Oleh: Daniel Mohammad Rosyid @Rosyid College of Arts
KEMPALAN: Beberapa hari ini kita dikejutkan oleh tabrakan sepur (Kereta Api) di stasiun Bekasi Timur, dan penganiayaan anak di fasiltas Daycare di Jogjakarta dan di Aceh. Skandal daycare ini fenomena gunung es.
Tabrakan sepur tersebut menelan puluhan korban, semuanya perempuan yang berangkat bekerja: RoKer, alias rombongan kereta perempuan. Rupaya gerbong paling belakang KRL itu khusus perempuan.
Konon, seringkali terjadi pelecehan seksual jika penumpang lelaki dan perempuan berdesakan di satu gerbong.
Sebagian roker perempuan yang berangkat kerja Senin pagi itu meninggalkan rumah setelah menitipkan anaknya di satu layanan Daycare tertentu setelah urusan dapur selesai.
Inilah wajah kehidupan keluarga muda perkotaan di mana kaum ibu harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kata orang bahwa itu ciri perempuan modern: bekerja sebagai profesional.
Mungkin kebetulan jika tragedi kecelakaan sepur dan penganiayaan anak di Daycare itu terjadi nyaris bersamaan setelah seminggu lebih peringatan Hari Kartini.
Hari Kartini telah diperingati sebagai perayaan atas emansipasi perempuan dalam kehidupan publik, meninggalkan peran tradisionalnya sebagai “konco wingking swargo nunut neroko katut”.
Tentu perempuan perlu memperoleh kesempatan pendidikan yang sama dengan laki-laki. Perempuan yang terdidik akan menjadi ibu yang mampu menyiapkan generasi muda yang berakhlaq, cerdas, sehat, dan produktif.
Dalam situasi di mana banyaknya anak mengalami stunting, kenakalan remaja yang meningkat, kita mesti kembali merenungkan apakah emansipasi perempuan model ini yang kita harapkan.
Tidak banyak yang menyadari bahwa meninggalkan balita atau anak usia SD di Daycare membawa konsekuensi yang serius bagi bangsa ini?
Pada saat upah ayah sebagai buruh tidak memadai untuk mencukupi kehidupan yang layak, kemudian ibu pun harus pergi meninggalkan rumah, situasi ini tidak saja menimbulkan fatherless-ness, tapi juga motherless-ness. Anak-anak itu sesungguhnya yatim-piatu secara sosial.
Pembangunan sejak Orde Baru masih menempatkan keluarga sebagai konsep yang penting. Namun sejak reformasi, narasi keluarga makin menghilang dari kebijakan publik seiring dengan perubahan ersatz capitalism era Soeharto yang berubah menjadi full-fledged capitalism era Joko Widodo.
Bangsa ini makin menjadi bangsa buruh yang cukup trampil menjalankan mesin-mesin sekaligus cukup dungu untuk setia – terutama bagi perempuan – bekerja bagi kepentingan pemilik modal sekalipun harus meninggalkan anak-anak mereka di Daycare.
Kini bahkan untuk makan siangpun banyak keluarga tidak mampu menyediakan dengan dapur rumah sendiri. Ibu tidak ada. Jangan-jangan rumah para buruh tidak memiliki dapur yang layak.
Begitulah program MBG diluncurkan untuk menyediakan makan siang bergizi gratis bagi siswa, serta bagi ibu hamil dan menyusui.
Kalau situasi ini tidak segera diperbaiki, saya khawatir bonus demografi bakal menjadi bom demografi. Ibu-ibu muda itu sebaiknya diberi kesempatan bekerja di rumah sambil mendidik anak-anaknya, memberi sarapan, makan siang, dan makan malam yang layak.
Gaji para ayahpun ditingkatkan agar para ibu tidak harus keluar rumah untuk bekerja.
Ke depan, Kita berharap dapur rumah kita itu diwarnai oleh ibu kita, sehingga para ibu tidak perlu nyepur menjadi roker setiap hari. Tidak mungkin kita membangun di atas puing2 keluarga.
*) Daniel Mohammad Rosyid, @Rosyid College of Arts, Guru Besar Departemen Teknik Kelautan ITS, PTDI Jawa Timur

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi